SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

Jurang Dua Ginseng

“The old older is being dismantled and replaced by the new order.

We have to make our vision the world’s vision.”

South Korea President – Lee Myung Bak

Dua negara sedulur ini hanya terpisahkan oleh sebuah jalan dan sepasang tembok. Tapi perbdaan kondisi keduanya benar-benar langit dan bumi. Korea Utara (Korut) masih berkutat dengan kemiskinannya sementara Korea Selatan (Korsel) berhasil menjadi negara yang dihormati dunia. Penduduk Korut masih mengulas-ulas perutnya karena kelaparan sementara penduduk Korsel menepuk-nepuk tubuhnya karena kekenyangan. Ironi besar. Fenomena ini tak hanya memberi informasi mengenai kondisi Korea kontemporer, tapi hendaknya juga dapat menjadi bahan perenungan berharga bagi pemerintah dan masyarakat tanah air.

Berbicara mengenai Korut, ingatan kita dibawa pada satu kondisi masyarakat tertindas di bawah rezim Kim Jong Ill yang diktator. Berkali-kali Mr.Kim membuat ulah yang tak hanya membuat gerah rakyatnya tapi juga meresahkan komunitas internasional. Mr.Kim lebih mementingkan pengembangan senjata balistik daripada memberi makan jutaan rakyatnya yang kelaparan. Mr.Kim pernah meluncurkan senjata balistiknya ke samudera lepas. Mr.Kim juga jago membuat kontroversi dengan memberi aneka hadiah mahal pada elit di tengah kemiskinan yang menerpa rakyatnya serta memindahkan ibukota atas usul paranormal. Meski dikecam komunitas internasional, Mr.Kim menutup telinganya dan melenggang santai.

Fakta terakhir, Korut melakukan revaluasi drastis pada mata uangnya yaitu melakukan pemotongan dari nominal 100 menjadi 1 pada akhir November 2009. Tujuannya menutup peluang pasar gelap yang marak di Korut. Alih-alih menutup pasar gelap, kebijakan ini justru menimbulkan instabilitas sosial karena merangsang naiknya harga kebutuhan pokok. Pemerintah bahkan tak menerapkan kenaikan upah yang seharusnya dilakukan untuk merangsang daya beli. Nominal upah yang diberikan sama dengan sebelum diberlakukannya revaluasi. Kepala Departemen Perencanaan dan Keuangan Korut, Pak Nam Gi, tak mau disalahkan atas kisruh ini. Ia bertutur bahwa persediaan pangan saat ini sudah mencukupi.

Harian asal Seoul, Chosun Ilbo mengatakan kebijakan reformasi ini juga bertujuan untuk menekan laju inflasi dengan mencegah sektor swasta mengambil keuntungan besar-besaran. Ini mejadi misi penting sebelum anak termuda Kim, Kim Jong Un menerima suskesi dari ayahnya. Alih-alih meredakan laju inflasi, kebijakan ini pun justru memicu peningkatan inflasi yang dangat pesat. Bertolak belakang dengan pernyataan Pak Nam Gi, ahli ekonomi Korea Utara pada Samsung Economic Research Institute di Seoul, Dong Yong Sueng berpendapat bahwa masalah utama dari kebijakan ini adalah kegagalan pemerintah dalam menyediakan stok barang yang cukup di toko-toko (New York Times, 4 Februari 2010).

Pasar illegal banyak muncul sejak pemerintah gagal menyediakan pangan yang cukup. Kegagalan ini mengantarkan Korut pada bencana kelaparan di pertengahan 1990an. Bukannya memperbaiki kebijakan pangan, Korut justru memilih jalan revaluasi ekstrim. Akibatnya, di beberapa tempat harga makanan sudah naik tiga kali lipat dalam tiga minggu terakhir. Nilai dollar di pasar gelap juga melonjak. Kelompok veteran dari Perang Korea tahun 1950-1953 pun melangsungkan protes di kantor partai di Danchon, sebuah kota pesisir barat Korut. Sebuah kelompok asal Seoul, Good Friends, mengatakan bahwa jika Korut tak dapat mengarasi situasi kacau ini hingga akhir Februari, kerusuhan akan muncul.

Berita ini seolah melengkapi fakta-fakta suram mengenai Korut. Berbagai negara sudah cukup putus asa menghadapi Mr.Kim yang lebih percaya pada klenik ketimbang sistem internasional. Barbara Demick, koresponden dari The Los Angeles Times dalam salah satu bab pada bukunya yang berjudul Nothing to Envy: Ordinary Lives in North Korea, menulis pengamatannya di kampung Potemkin. Meski sudah seperti Pyongyang, penduduknya tidak memiliki makanan yang cukup. Mereka bekerja sangat lama dan masih harus mengikuti pelatihan ideologi pada malam hari. Mengeluarkan komentar yang tidak patriotik, khususnya anti Kim Jong Ill, akan membuat anda dikirim ke kamp kerja paksa, jika tidak dieksekusi.

Mr. Myers, penulis buku The Cleanest Race: How North Koreans See Themselves and Why It Matters, juga mengungkapkan hal senada. Korut seringkali mengeluarkan propaganda pada reportase televisi di malam hari, surat kabar, bahkan hingga film perang, komik, poster dinding, dan kamus. Mr. Myers juga menulis bahwa nasionalisme Korut adalah nasionalisme yang paranoid berbasis ras. Ada sebuah kalimat menarik yang ia tulis dalam bukunya: The Korean people are too pure-blooded, and therefore too virtuous, to survive in this evil world without a great parental leader (New York Times, 26 Januari 2010). Inilah Korea Utara.

Bagaimana dengan Korsel? Sempat berjuluk empat macan Asia di samping Taiwan Singapura, dan Hongkong, Korsel menjadi salah satu perekonomian yang tumbuh paling cepat di dunia sejak berakhirnya Perang Korea tahun 1953. Untuk mendukung pembangunan ekonominya, Korsel mengandalkan kerjasama yang erat antara pemerintah dengan 30 konglomerat besar milik pribadi yang terpusat pada keluarga (chaebol) seperti Samsung, Hyundai, Grup Daewoo dan LG. Korsel terimbas krisis Asia tahun 1997-1998 namun bangkit dengan cepat sebagai pesaing yang lebih kuat dan ramping (Griffin & Pustay. 2005: 40).

Hanya dalam satu generasi, Korsel pun berhasil mengangkat 48 juta orang dari kemiskinan dan menjadi negara industri penuh dengan pendapatan per kapita mencapai lebih dari 20.000 dollar AS pada tahun 2007. (Newsweek, 8 Feb 2010 hlm 40).

Saat ini, seorang mantan pemimpin salah satu chaebol besar yaitu Hyundai, menjabat sebagai presiden Korsel. Dialah Lee Myung Bak yang berambisi menjadikan Korsel sebagai pusat dunia. Di bawah Lee yang berjuluk ‘si Bulldozer’, untuk pertama kalinya Korsel mengklaim diri sebagai pemimpin kelompok negara-negara kaya. Klaim ini tak terlalu berlebihan. Nyatanya, Korsel menjadi anggota pertama OECD (beranggotakan 30 negara maju) yang bangkit dari resesi global dengan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% dalam kuartal ketiga tahun 2009. Tahun ini, OECD memperkirakan Korsel dapat mencapai angka pertumbuhan sebesar 4,4%, angka tertinggi dari seluruh anggota OECD.

Profil Korea Selatan yang dilansir Newsweek (edisi 8 Februari 2010) bertajuk Selling South Korea (B.J. Lee) menggambarkan kedashyatan Korsel di bawah Lee Myung Bak. Lee tahu bahwa krisis telah menjatuhkan AS dan melambungkan China dan negara-negara berkembang lainnya. Untuk itu, Lee memiliki visi agar Korsel dapat menjadi jembatan penghubung di antara keduanya. Tujuannya adalah mengubah Korsel dari negara sukses berbasis self-involved economic power menjadi a respected global soft power yang menjembatani negara kaya dan miskin dalam isu-isu global seperti lingkungan dan keuangan.

Ketika resesi aktual menerjang dunia, mata uang won terjun bebas dalam tiga bulan pertama. Bursa saham pun terjengkang hingga setengahnya dan investor asing mulai berlarian. Tapi Korsel sudah memiliki pengalaman menghadapi krisis 1997-1998. Para pemimpin Korsel saat ini banyak yang merupakan veteran krisis Asia. Mereka tahu benar bagaimana cara mengatasi krisis agar kondisi ekonomi negara tidak terjun bebas. Mereka bergerak cepat melindungi lapangan kerja dan menjaga sentimen konsumen tetap stabil serta melakukan pemotongan suku bunga dari 3,25% menjadi 2%, terendah dalam sejarah. Korsel juga selamat dari krisis karena perekonomiannya ditopang oleh pilar ekonomi chaebol-pemerintah yang kuat ketimbang bergantung pada jasa industri keuangan yang terbukti sekarat.

Lee juga mendorong momentum reformasi dalam perjanjian perdagangan bebas global di bawah pengawasan sistem keuangan global. Pada saat bersamaan, Lee berupaya menjadikan Korsel pemimpin dalam perang melawan pemanasan global dengan menyetujui pemotongan emisi sebesar 30% pada tahun 2020, satu dari target yang paling agresif di dunia. Langkah konkret yang dilakukan Lee adalah menggelontorkan miliaran dollar AS untuk memperbaiki kondisi empat sungai utama Korsel. Dengan perbaikan ini, Lee berharap dapat mendorong ekonomi lokal dengan menciptakan pekerjaan serta meningkatkan turisme dan perdagangan.

Keberhasilan mencatat surplus perdagangan sebesar 42 milliar dollar AS pada 2009 (melampaui Jepang untuk pertama kalinya), menjadi bukti komitmen Korsel yang hendak beranjak dari bayang-bayang China dan Jepang. Korsel lebih berfokus pada investasi luar negeri dan perdagangan bebas daripada ideeologi yang kaku. Lee juga mempergunakan setiap pertemuan dengan baik untuk memaparkan strategi-strateginya. Tak heran jika dengan percaya diri Lee melobi agar Korut menjadi penyelenggara pertemuan G-20 setelah Pittsburg. Lobi ini berhasil. Seoul terpilih sebagai tuan rumah pertemuan G-20 pada November 2010.

Pesan bagi Indonesia dari fenomena jurang dua ginseng ini sangatlah sederhana. Kita dapat melihat bahwa negara dengan pemimpin yang memiliki visi (grand strategy) yang disertai dengan komitmen dalam perwujudannya, akan membawa negara tersebut ke posisi yang lebih tinggi dalam hal kemakmuran rakyat dan penghormatan dunia. Berkaca pada kondisi politik tanah air, para pemimpin kita sepertinya lebih memilih berkutat pada isu-isu kekuasaan: skandal Century, wacana reshuffle kabinet daripada berupaya keras memikirkan lapangan kerja baru, menggali potensi lokal untuk menghadapi AFTA, apalagi membersihkan sungai.

Yang lebih memprihatinkan, hingga saat ini Indonesia tidak memiliki grand strategy. Kita tidak tahu mau dibawa ke mana Indonesia setahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan. Kepentingan nasional mana yang menjadi patokan pemerintah. Jika Korut berada pada sisi kiri (nyaris menjadi negara gagal) dan Korsel pada sisi kanan (sukses), di manakah posisi Indonesia? Yang jelas, pengakuan kinerja tidak hanya menjadi klaim sepihak pemerintah. Kondisi rakyat adalah bukti nyata. Kita berharap kelak Indonesia dengan percaya diri (bukan dalam kerangka pepesan kosong) dapat berkata seperti Lee Myung Bak: “It is part of larger effort to move South Korea away from the periphery of Asia into the center of the world.”

February 6, 2010 Posted by sylvietanaga | Economy, Life Styles, Public Diplomacy | | No Comments Yet

Pentingnya Bahasa Mandarin di Era Pasar Bebas

“We’ve all been surprised that in such a short time Chinese would grow to surpass German.”

Trevor Packer – College Board’s vice president

Dicari: translator bahasa mandarin, guru bahasa mandarin.

Diutamakan: yang dapat berbahasa mandarin.

Mampu berbahasa mandarin menjadi nilai lebih.

Cukilan kalimat tersebut akhir-akhir ini banyak sekali ‘mejeng’ di media cetak sebagai salah satu prasyarat atau nilai tambah bagi mereka yang hendak mencari kerja. Booming bahasa mandarin nampaknya bukan hanya menjadi sebuah tren pasca Soeharto yang membebaskan kekangan kursus bahasa mandarin di penjuru tanah air. Booming bahasa mandarin juga bukan semata-mata terjadi akibat kencangnya keinginan warga Tionghoa untuk mempertahankan budaya mainland. Bahasa mandarin kini telah menjadi sebuah kebutuhan penting bagi siapapun yang ingin bertahan dari ketatnya persaingan kompetensi di era pasar bebas.

Sekalipun tergolong sebagai salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari di dunia (baca: Pentingnya Bahasa Mandarin), bahasa mandarin tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang belajar bahasa asing (chinese as foreign language). Toefl mandarin berstandar internasional atau HSK semakin banyak diminati komunitas internasional. Penggunaan bahasa mandarin menempati urutan ke-2 dalam penggunaan bahasa internasional setelah bahasa Inggris. Bukan hanya di Indonesia atau Asia saja, bahasa Mandarin juga makin banyak diminati para pelajar dan mahasiswa di benua Afrika, Eropa dan Amerika.

Anda tentu sudah dapat menebak dengan mudah mengapa fenomena ini terjadi. Kekuatan diplomasi dan ekonomi China dasawarsa terakhir mendorong setiap negara untuk memasuki pangsa pasar China dan bahkan menaklukan ambisi China sebagai negara superpower. Australia sangat terbantu karena sang perdana menteri, Kevin Rudd, fasih ber cas cis cus dalam bahasa bermulti intonasi itu. Dalam skala mikro, perusahaan jelas-jelas terbantu dengan karyawan yang fasih berbahasa mandarin. Juga makin banyak perusahaan yang mensyaratkan penguasaan mandarin atau bahkan khusus mendatangkan ahli bahasa.

Tim Clissold dalam bukunya yang berjudul Mr.China secara gamblang mengatakan bahwa bahasa Mandarin merupakan kunci utama memperoleh kepercayaan dari para pelaku ekonomi di China. Dahlan Iskan (kini Dirut PLN) dalam bukunya yang berjudul Belajar dari Tiongkok mengakui hal serupa. Dahlan yang banyak terlibat kerjasama bisnis dengan Tiongkok sadar betul pentingnya penguasaan bahasa yang satu ini. Meski sulit, sudah berumur, dan bukan etnis Tionghoa, Dahlan belajar bahasa Mandarin dengan tekun di Nanchang, China. Walau tak dapat menulis, Dahlan pun fasih membaca, bercakap plus “menulis” Han Zi (huruf Tiongkok) dengan menggunakan komputer berprogram Mandarin.

Bagi para pelaku bisnis, terutama mereka yang terlibat secara langsung dengan China atau overseas-nya, penguasaan bahasa mandarin menjadi satu kebutuhan utama. Penguasaan bahasa akan sangat mempermudah komunikasi dengan para pengusaha dan pejabat sekaligus memperluas guanxi atau koneksi, sebuah unsur vital dalam berbisnis di China. Selain memberikan petunjuk penting tentang nilai-nilai budaya masyarakat Tiongkok, penguasaan Mandarin juga dibutuhkan sebagai senjata bersaing dalam menjalankan transaksi bisnis.

Mandarin juga telah menjadi mata pelajaran bahasa asing utama di berbagai negara, menggeser kedudukan bahasa-bahasa asing lainnya seperti Jepang, Prancis, Jerman, Spanyol. Orang tua murid dan pendidik sadar bahwa penguasaan bahasa mandarin sejak masa kanak-kanak akan membantu meningkatkan standar kompetensi mereka di kemudian hari, masa di mana China berpotensi menyamai atau bahkan mengungguli AS sebagai superpower. Tak terkecuali di AS sendiri. Dewasa ini, sekolah-sekolah di AS berlomba-lomba mendatangkan instruktur bahasa Mandarin. Pertumbuhan pelajaran mandarin ini pun tergolong pesat.

Di Massillon – Ohio, Jackson High School memulai program bahasa mandarin sejak tahun 2007 dengan hanya 20 murid dan kini mencapai 80 murid. Survei pemerintah AS memperkirakan ada 1.600 sekolah negeri dan swasta yang mengajarkan bahasa mandarin, naik sekitar 300 sekolah dari dekade sebelumnya. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat dengan pesat. Di seluruh AS ada sekitar 27.500 SMP dan SMA yang menawarkan minimal satu pelajaran bahasa asing. Survei dari Center for Applied Linguistics, sebuah kelompok peneliti di Washington, memaparkan bahwa mereka yang memilih bahasa mandarin naik dari 1% menjadi 4% dalam kurun waktu 1997-2008 (New York Times, 21 Januari 2010).

Jumlah pendaftar Advanced Placement test in Chinese yang baru diperkenalkan tahun 2007 di AS juga sudah mengalahkan tes untuk bahasa Jerman, Spanyol, dan Prancis. Pelajaran bahasa Jepang yang sempat booming di AS juga sudah menurun. Sekolah yang menawarkan bahasa Prancis, Jerman, dan Rusia. kebanyakan sudah berhenti beroperasi. Satu dekade lalu, program bahasa mandarin lebih banyak ditemui di pesisir Barat dan Timur AS tapi kini sudah merambah ke jantung AS termasuk Ohio, Illionois, Texas, Georgia, Colorado, dan Utah. Survei Asia Society bahkan menyimpulkan program bahasa mandarin untuk play-group di AS naik sekitar 200% sejak tahun 2004. (New York Times, 1 Juni 2009).

Ketertarikan mempelajari bahasa mandarin juga ditunjukkan dengan program bersama antara College Board (AS) dan Hanban (China) yang berlangsung sejak tahun 2006. Dalam program ini, ratusan pelajar dan pendidik AS mengunjungi sekolah-sekolah di China dengan subsidi dari Hanban. Para pelajar ini memulai kunjungannya dengan belajar bahasa mandarin. Sejak 2006, Hanban dan College Board juga mengirim lebih dari 325 guru sukarelawan bahasa mandarin asal China untuk bekerja di sekolah-sekolah Amerika. Setiap guru mendapat subsidi upah sebesar 13.000 dollar AS. (New York Times, 21 Januari 2010).

Pesatnya mandarin pun tak luput dari kritik. Beberapa menyebutkan pesatnya bahasa mandarin adalah salah satu misi soft diplomacy China. Upaya penyederhanaan karakter mandarin dan penggunaan bin yin (huruf latin karakter mandarin) dipandang sebagai kebijakan disengaja untuk mempopulerkan mandarin di ranah internasional. Selain tudingan merusak tatanan budaya yang kental melekat pada huruf Han tradisional, penyederhanaan yang mulai dipopulerkan pemerintah RRC sejak 1950 ini juga menuai kritik karena sulit bersinergi dengan software. Sebagai contoh, kalimat “kehilangan muka” diterjemahkan komputer sebagai kehilangan 麵 (“mie”) daripada kehilangan 面 (“muka”)! (NYT, 2/5/2009).

Tapi berbagai tudingan miring ini tidak menyurutkan kesadaran komunitas internasional untuk mempelajari bahasa mandarin sejak usia dini. Maraknya penggunaan bahasa mandarin sedikit demi sedikit mampu memecahkan dominasi bahasa Inggris dalam bisnis internasional. Ini tentu menjadi tantangan bagi generasi muda dan para pelaku bisnis Indonesia yang saat ini harus menghadapi derasnya arus barang-barang impor asal China setelah berlakunya Asean Free Trade Agreement. Penguasaan bahasa mandarin bukan hanya aksesoris identitas tapi kini sudah menjadi kebutuhan bagi siapapun yang ingin unggul di tengah ketatnya kompetisi.

February 6, 2010 Posted by sylvietanaga | About China, Life Styles, Public Diplomacy | | No Comments Yet

Apple VS Google

“Apple and Google both want more. They’re gearing up for the ultimate fight. “

Chris Cunningham, founder of the New York mobile advertising firm Appssavvy


Setelah heboh kasus Microsoft vs Apple pada tahun 1980an, Microsoft vs IBM tahun 1990an, dan Microsoft vs Google tahun 2000an, kompetisi teknologi berikutnya terjadi antara Google dengan Apple. Dua raksaksa ini mulai menunjukkan rivalitasnya setelah CEO Google, Eric Schmidt mengundurkan diri dari dewan direksi Apple pada 3 Agustus 2010. Dua raksaksa teknologi ini mulanya bekerjasama untuk membangun mesin pencari iPhone keluaran Apple dengan menggunakan mesin pencari Google. Belakangan, Apple terlibat dalam pembicaraan serius dengan Microsoft Corp untuk mengganti Google dengan Bing Microsoft.

8 November 2009, Google mengumumkan pembelian AdMob, sebuah industri periklanan terkait produk mobile yang sebelumnya hendak dibeli Apple, sebesar 750 juta dollar AS. Steve Jobs sang CEO Apple pun segera mengumumkan akuisisi dengan nilai 275 juta dollar AS untuk membeli Quattro Wireless, perusahaan iklan yang meneliti target pasar para pengguna mobile-phone sesuai dengan kebiasaan mereka. Rivalitas berlanjut saat Google bekerjasama dengan Nexus One guna meluncurkan ponsel sendiri dengan menawarkan sistem operasi mobile bernama Android. Android diprediksi berbagai kalangan akan menjadi kompetitor serius bagi sistem operasi mobile-phone milik iPhone.

Apple maupun Google sama-sama tercatat sebagai dua perusahaan yang paling sukses dan paling berpengaruh di dunia. Dalam mobile hardware dan software, Apple memiliki iPhone dan Google memiliki Nexus One dan software Android-nya. Dalam kaitannya dengan sistem komputer, Apple memiliki MobileMe dan Google memiliki aplikasi web khusus termasuk Gmail, Google Docs dan Google Calendar. Tapi meski harus saling berbagi pangsa pasar, Apple dan Google memiliki ciri khas yang berbeda. Kata kuncinya adalah pendekatan inovasi, strategi manajemen, dan penguasaan atas selera pasar kontemporer.

Mengutip dari http://www.searchenginejournal.com/google-vs-apple/14261/, minimal ada tiga area ‘pertarungan’ antara Apple dan Google. Pertama, meski Google berencana akan merilis mesin pencari musik terbaru, Apple dengan iTunes music store-nya nampaknya masih belum tersaingi oleh kompetitor manapun. Musik masih menjadi milik Apple. Kedua adalah perbedaan mendasar antara Android dan iPhone. Android lebih bersifat terbuka terhadap berbagai jaringan sementara iPhone hanya terkunci untuk ponsel AT&T. Sistem operasi Android juga bersifat terbuka sementara iPhone terkunci. Terakhir, pasar Android juga tidak mewajibkan persetujuan terlebih dahulu untuk urusan pendaftaran.

Ketiga adalah perbedaan antara internet browser dan sistem operasi. Apple memiliki internet browser yang kapasitasnya sedikit lebih besar daripada yang dimiliki Google. Apple merilis Safari pada tahun 2003. Tahun 2007, Apple juga internet browser versi mobile yang dapat dioperasikan oleh Windows XP dan Vista. Safari berhasil meraih 3,62 persen pangsa pasar internet browser yang naik menjadi 4,36 persen pada November 2009. Bulan Desember 2008, Google merilis Google Chrome yang menduduki peringkat lima setelah Internet Explorer, Firefox, Safari, dan Opera pada Januari 2009. Pada November 2009, dengan cepat Google Chrome melesat ke urutan keempat dengan angka 3,93 persen.

Apple dan Google juga berbeda dalam hal pendekatan piranti keras (hardware) komputer. Google mencari banyak pembuat piranti keras untuk memproduksi ponsel dan aneka komponen yang menjalankan sistem operasi Android. Hal serupa dipraktekkan terhadap sistem operasi piranti lunak (software) Chrome, membuat Google menjadi produk komersial. Adapun Apple tidak pernah membiarkan produksi Mac, iPod, dan iPhone-nya diproduksi banyak tangan. Apple sepenuhnya berpikir tentang penjualan piranti keras. Apple amat percaya diri bahwa mereka dapat melanjutkan pembuatan komponen-komponen terbaiknya.

Banyak analis menjagokan Google akan memenangkan persaingan dalam bidang mobile phones and internet browsers pada masa mendatang sekalipun saat ini di atas kertas Apple masih lebih unggul. Tapi tak sedikit pula yang berpendapat bahwa kedudukan Apple dalam musik akan sangat sulit tergeser. Tabel yang dikutip dari Bloomberg (13 Januari 2010) di bawah ini memperlihatkan perbedaan Apple dan Google dari segi pendekatan manajerial.

Apple Google
Data founded 1976 1998
CEOs Steve Jobs Eric Schmidt
CEO salary $ 1 a year $ 1 a year
Headquarters Infinite Loop campus, Cupertino The Googleplex, Mountain View
Market Cap $ 190 billion $ 186 billion
Revenue $ 36,5 billion $ 22,6 billion
Motto Think different Don’t be evil
Key to success Elegance Algorithm
Work ethic 120% of employees’ time for Steve’ projects 20% of employees’ time for pet projects
The employees who matter Designers Engineers
How decisions get made Because Steve says so Data, data, data
Founder’s aircraft Gulfstream V Boeing 767
Car of choice Marcedes SL55 Toyota Prius
Big challenge Does anyone but Jobs have a vision? Can they make money on anything but search?

Rivalitas Apple-Google sekali lagi memberi kita gambaran ketatnya kompetisi antar pelaku bisnis kontemporer yang mengemban misi penguasaan pangsa pasar dan maksimalisasi profit. Kompetisi harga dan kompetisi teknologi pun mewarnai persaingan dua raksaksa digital ini. Inovasi baru dilancarkan demi mempengaruhi pembeli potensial. Rivalitas ini bahkan berdampak luas pada komunitas internasional. Mengutip Business Week, pertarungan dua superstar Silicon Valley ini akan membentuk masa depan mobile computing dunia.

Dampak lain dari rivalitas ini adalah merangsang munculnya inovasi-inovasi baru. Inovasi yang dilakukan Apple mungkin sudah sangat cepat, namun munculnya Android dan inovasi keluaran Google lainnya memacu Apple terus berpacu dengan waktu guna menghasilkan inovasi berikutnya. Demikian pula sebaliknya. Kompetisi yang sehat antar keduanya pun makin menguntungkan konsumen. Akan ada lebih banyak pilihan. Kompetisi ini juga tentu akan berdampak pada penurunan harga dan mendorong pelayanan yang lebih baik.

Kita juga berharap rivalitas Apple-Google ini juga dapat memacu produsen lokal untuk meningkatkan daya saing produknya dengan menciptakan aneka inovasi baru atau minimal dapat menggunakan inovasi-inovasi yang ditawarkan untuk menghasilkan inovasi baru. Sayangnya, selama ini masyarakat kita hanya menjadi pangsa pasar yang empuk bagi produk-produk keluaran Apple maupun Google. Daripada menjadi inspirasi untuk berinovasi, Apple-Google lebih mendorong masyarakat kita menjadi lebih konsumtif atas nama gaya hidup. Semoga kondisi ini segera berubah mengingat makin ketatnya persaingan di era pasar bebas.

January 27, 2010 Posted by sylvietanaga | Economy, Life Styles | | No Comments Yet

Apa Kabar Idol?

“I still think that ‘Idol,’ even the most recent seasons, is such a great platform for the winners to work with superstar writers and producers. They wouldn’t have gotten the chance to do that if they were just another singer starting out.”

Sharon Dastur, program director for the New York Top 40 station Z100


Usai lama arena ‘Idol’ tak berkabar (setelah sebelumnya dikupas habis-habisan oleh media), suatu sore saya menemukan sebuah artikel menarik dari Ben Sisario yang ditulisnya untuk harian New York Times. Judulnya cukup provokatif dan menggelitik: Can ‘Idol’ Still Churn Out Stars? Time Will Tell (NYT, 14 Januari 2010). Artikel ini memajang informasi mengenai ‘nasib terakhir’ penjualan album dari para pemenang American Idol. Kesimpulannya? Album para pemenang American Idol ini mencetak hasil penjualan yang gemilang pada awalnya, namun terus mengalami penyusutan pada album-album berikutnya.

Pemenang kedua season 5 American Idol, Katharine McPhee, berhasil mendudukkan rekaman pertamanya dalam posisi nomor dua pada tangga album Billboard yang amat tersohor. Tapi setahun kemudian, ia terlempar dari RCA (induk Sony Music Entertainment yang terikat kontrak untuk mengeluarkan rekaman bagi para kontestan Idol). Album keduanya dirilis oleh Verve, label dari Universal Music Group dengan angka penjualan ‘hanya’ 15.000 copy. Jika digabungkan, total penjualan kedua album hanya mencapai 380.000 copy, angka yang tak istimewa bagi seorang pop star berdasarkan standar AS.

Kelly Clarkson, pemenang utama American Idol edisi perdana yang wajahnya sudah mendunia, merilis empat album sejak tahun 2003 dengan total penjualan 10,5 juta copy. Tapi penjualan album terakhirnya yang berjudul All I Ever Wanted, hanya meraup 819.000 copy. Chris Daughtry (peringkat empat American Idol season 5) berhasil menjual 4,6 juta copy album perdananya. Namun senasib dengan rekannya, album terakhirnya yang berjudul Leave This Town pun jeblok di pasaran dengan angka penjualan sebesar 819.000 copy.

Carrie Underwood, pemenang utama American Idol season 4 juga mengalami efek yang sama. Album Some Heart yang dirilisnya pada tahun 2005 berhasil mencapai angka 6,9 juta copy. Album selanjutnya, Carnival Ride, mencatat angka 3,1 juta copy. Pada album berjudul Play On, angka penjualan yang berhasil diraup adalah sebesar 1,2 juta copy. Lumayan. Tapi penjualan album terakhirnya, For Your Entertainment, hanya mencapai angka 445.000 copy.

Ada banyak penjelasan mengapa fenomena penurunan penjualan album ini terjadi. Alasan yang paling menonjol adalah makin maraknya era digital yang memungkinkan para penikmat musik mengunduh secara gratis lagu-lagu penyanyi kesayangannya melalui jalur nirkabel. Akibatnya, angka penjualan album pun berbanding terbalik dengan pertumbuhan musik di dunia maya. Penjualan album mengalami penyusutan sementara jumlah unduhan di internet makin meningkat. Suatu hal yang mengesalkan produser dan penjual album.

Album kedua Jordin Sparks (pemenang American Idol season 6), misalnya, hanya mencapai 158.000 copy. Tapi salah satu lagunya menjadi hit di radio dan telah diunduh sebanyak 1,3 juta kali. Album perdana Kris Allen juga hanya mencapai 233.000 copy namun lagunya yang berjudul Live Like We’re Dying telah diunduh sebanyak 551.000 kali.

Penurunan album juga mungkin terjadi karena sifat dari ajang Idol sendiri yang dilakukan setahun sekali. Perhatian pemirsa dan penikmat musik menjadi berkurang atau terbagi. Ketika seorang pemenang Idol tampil dan mengeluarkan album perdananya, belum genap setahun ia sudah harus berkompetisi dengan pemenang baru yang lahir dari ajang serupa.

Tapi bukan berarti mengikuti kontes Idol menjadi sesuatu yang sia-sia seperti yang dijelaskan Sharon Dastur, direktur program salah satu radio di New York. Dastur mengatakan bahwa meski fenomena ini terjadi, Idol tetap memberikan wadah yang potensial bagi para pemenangnya untuk berkolaborasi bersama penyanyi, penulis, dan produser ternama. Seseorang yang ‘bukan siapa-siapa’, kecil kemungkinannya untuk tiba-tiba memperoleh kesempatan sebesar ini. Tentu tak mudah perjuangan yang harus dikerahkan seseorang dalam mencapai tahap final pada kontes-kontes Idol. Ia wajib menyisihkan jutaan kontestan lainnya.

Saya memang belum mendapat data tentang angka penjualan album-album para kontestan Idol di Indonesia yang sudah sangat beragam variannya. Jika ditanya apakah gaung para penyanyinya sudah memudar, bisa dikatakan ‘ya’. Tapi sekali lagi, fenomena penurunan penjualan album nampaknya tidak hanya mendera para penyanyi Idol namun juga menimpa para penyanyi yang sudah terlebih dahulu eksis. Alasannya sangat kasuistik meski rata-rata memang terjadi karena maraknya penjualan album bajakan dan unduh gratis melalui internet.

Sisi positifnya adalah para produser album Idol, sang Idol, dan calon Idol belajar bahwa saat mereka berencana menyusun sebuah album baru, strategi manajemen pemasaran dan kualitas musik mutlak diperhatikan. Jika dalam sebuah album hanya satu atau dua lagu saja yang akan booming, masyarakat lebih memilih mengunduh lagu tersebut melalui internet ketimbang harus membeli album. Apalagi harga Indonesia masih terasa berat bagi kebanyakan orang.

Strategi pemasaran juga memegang peranan penting. Sayangnya, kebanyakan produser masih menitikberatkan standar sukses pada angka penjualan album atau selera pasar yang seringkali berbanding terbalik dengan kualitas musik. Tak heran jika para penyanyi ‘idealis’ yang sebenarnya sudah lama merangkak dari bawah, lebih memilih jalur indie ketimbang ikut arus pasar. Banyak juga yang akhirnya melambaikan bendera putih: menyerah. Selain sebagai ajang coba-coba, sulitnya menarik perhatian dari label utama akhirnya membuat ajang Idol menjadi pintu masuk yang menggiurkan meski harus dibayar oleh kompromi pasar.

Apa yang dialami oleh Katharine McPhee yang terpaksa terlempar dari Sony Music Entertainment masih terbilang lumayan. Setidaknya ia mendapat wadah baru yang tak kalah punya nama yaitu Universal Music Group. Nasib yang jauh lebih mengenaskan terjadi pada kontestan Idol di Indonesia yang awalnya terlihat mampu meniti karier dengan gemilang. Bukan hanya terlempar dari peredaran dunia musik Indonesia, mereka pun harus memulai hidup dari nol. Beruntunglah mereka yang masih dinilai ‘menjual’ sehingga dapat tampil dengan eksis di layar dan media massa meski tidak dalam konteks bermusik.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan ini, saya masih yakin bahwa para kontestan Idol mampu meraih sukses gemilang dalam jangka panjang jika mereka memiliki kualitas, ketekunan berlatih dalam bidangnya, dan terutama adalah mental yang siap menghadapi tantangan. Idol mengangkat seseorang dari no one menjadi someone. Banyak pemenang yang tidak memiliki mental yang kuat dalam menghadapi keberhasilan yang mendadak. Sebuah keberhasilan harus diimbangi dengan tanggungjawab yang besar pula.

Keberhasilan harus dipakai untuk membuat hidup menjadi lebih baik, bukan semata-mata berfokus pada hawa nafsu raihan materi atau popularitas. Tanpa tanggungjawab, kesuksesan akan segera lenyap. Bila kunci ini berhasil dipahami, tak mustahil jebolan Idol lebih mampu bertahan dari para penyanyi yang sudah melegenda namun tak bertanggungjawab. Ia mampu menghadapi keberhasilan maupun kegagalan yang datang secara tiba-tiba. Time Will Tell.

January 23, 2010 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Kraftbury

“We believe the offer represents good value for Cadbury shareholders and are pleased with the commitment that Kraft Foods has made to our heritage, values and people throughout the world.”

Roger Carr, Chairman of Cadbury


Selasa, 19 Januari 2010 nampaknya menjadi hari yang bersejarah bagi para pelaku bisnis yang bergelut dalam bidang permen dan makanan (konfeksioner). Pada hari itulah Cadbury akhirnya menerima lamaran akuisisi dari Kraft Foods dengan harga penawaran akhir 18,9 miliar dollar AS. Ini setara dengan nilai 840 pence per saham atau total nilai 11,9 miliar poundsterling. Sukses diraih setelah lamaran ‘goliat’ makanan dan minuman asal AS ini ditolak Cadbury berkali-kali. Sebelumnya, tawaran yang diajukan hanya 500 pence per lembar saham, ditambah penerbitan 0,1874 saham baru. Setelah transaksi ini dipublikasikan, saham Cadbury pun melesat sebesar 3,3%. Dengan akuisisi ini, Karfbury pun menjadi ‘raja’ produsen kue dan makanan di dunia.

Dalam mengemban aktivitas bisnisnya, ada dua misi besar yang diemban perusahaan yakni pengusaaan pangsa pasar bagi produk-produk yang dihasilkannya dan mengembangkan aktivitas yang dapat memaksimalisasi perolehan profit (Bob S. Hadiwinata 2002:36). Nah, dua misi besar ini nampaknya benar-benar dikerjakan dengan baik oleh Kraft dan Cadbury.

Pertama terkait penguasaan pangsa pasar. Perkara ini jelas tak diragukan lagi mengingat kedua perusahaan sudah termasuk dalam kategori perusahaan besar dunia. Tapi bukan hanya itu. Kraft tercatat lebih berjaya di AS sementara Cadbury menguasai pasar Eropa. Di samping itu, Cadbury lebih menguasai pangsa pasar lebih menonjol dalam hal bisnis permen karet terutama di Eropa dan Amerika Latin sementara Kraft memiliki lebih sedikit pengalaman dalam hal tersebut (Economist, 19 Januari 2010). Artinya jelas. ‘Saling melengkapi’ dalam hal jenis produksi dan jenis wilayah pasar ini mampu membawa Kraftbury terbang ke pangsa pasar yang lebih luas.

Kedua adalah maksimalisasi perolehan profit. Dapat kita simak bahwa maksimalisasi perolehan profit akan terjadi menyusul terciptanya perluasan pangsa pasar. Dengan akuisisi ini, Kraftbury juga dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, sumber daya teknologi, dan beragam ide-ide inovasinya. Sekalipun Kraft membeli Cadbury dengan harga mahal, imbal hasil yang diraih akan jauh lebih besar terlebih kedua perusahaan harus menghadapi ancaman derasnya produk ekspor China yang merupakan produsen manisan dan permen terbesar kedua di dunia. Produk-produk ternama Cadbury seperti dairy milk, créme eggs, dan dentyne chewing gum adalah produk unggulan yang direspon sangat positif oleh pasar negara berkembang.

Hal lain yang dapat kita simak dari kisah akuisisi dua raksaksa perusahaan makanan ini adalah munculnya karakter kaum entrepreneur yang dimiliki direksi kedua perusahaan ini. Dua dari lima karakter kaun entrepreneur yang diidentifikasi Everett Hagen (1975: 270-272) adalah bahwa kaum entrepreneur dimotivasi oleh rasa tidak puas terhadap sesuatu yang telah dicapai dan memiliki sifat yang berorientasi pada prestasi dalam melakukan inovasi.

Cadbury terus ‘menjual mahal’ perusahaannya sejak dipinang Kraft pada 7 September 2009. Nilai penawaran yang diajukan Kraft pertama kalinya adalah 16,7 miliar dollar AS. Ketidakpuasan direksi  Cadbury atas nilai yang sebenarnya sudah besar tersebut membuat Kraft menaikkan harga penawarannya hingga mencapai 18,9 miliar dollar AS. Sebuah upaya tarik ulur yang akhirnya membuahkan hasil. Sebaliknya, ketidakpuasan Kraft terhadap indikasi penolakan Cadbury membuatnya makin gigih melakukan penawaran-penawaran baru di tengah ketatnya persaingan dengan produsen cokelat dari Italia, Ferrero yang berkolaborasi bersama produsen asal Amerika, Hershey Co. untuk memperebutkan Cadbury.

Kedua adalah sifat uang berorientasi pada prestasi dalam melakukan inovasi. Ini patut menjadi pelajaran bagi para investor tanah air. Rencana akuisisi harus dipertimbangkan dengan matang, bukan terpaksa dilakukan karena salah satu perusahaan di ambang krisis. Akuisisi harus dilakukan demi perbaikan prestasi dalam berinovasi. CEO Cadbury, Roger Carr, menegaskan bahwa alasan bersatunya Cadbury dengan Kraft bukan karena Cadbury tidak lagi memiliki strategi operasional dan manajerial ataupun alasan keuangan. Inilah pernyataan Carr: “It was about management achievement, and the Kraft achievement relative to the Cadbury one was less. Therefore, you would only sell this business for the right price.” (Reuters, 20 Januari 2010).

Akhirnya, akuisisi kini menjadi sebuah alternatif favorit yang banyak dipilih para pelaku dunia usaha dalam rangka maksimalisasi profit dan perluasan pangsa pasar,. Namun patut untuk diperhatikan bahwa prinsip kehati-hatian dalam merencanakan akuisisi menjadi hal mutlak diperhatikan oleh masing-masing pihak.

Kegagalan rencana akuisisi berpotensi pada jatuhnya harga saham masing-masing perusahaan seperti yang menimpa Microsoft setelah gagal meminang Yahoo! Baik Kraft, Ferrero-Hershey Co., maupun Cadbury sudah sama-sama mempertimbangkan rencana akuisisi ini dengan matang. Sebagai langkah pemanasan, misalnya, Kraft bahkan telah menyiapkan dana 16 miliar dollar AS untuk mengambil alih Dirol Cadbury di Rusia.

Di samping itu, proses akuisisi juga harus mempertimbangkan kepentingan nasional dan aturan main yang berlaku. Kraft lebih memilih untuk mengakuisisi Cadbury ketimbang perusahaan milik China yang bisa jadi memiliki pangsa pasar lebih luas daripada AS dan Eropa yang masih tersaruk-saruk bangkit dari resesi. Meski kepentingan maksimalisasi profit dan perluasan pangsa pasar menempati urusan teratas, aturan main harus diperhatikan. Jika tidak, akuisisi hanya berdampak positif pada segelintir orang. BUMN yang diakuisisi tanpa aturan, misalnya, bisa jadi malah menimbulkan persoalan baru yakni munculnya potensi jerat privatisasi.

Prinsip kehati-hatian terakhir sekaligus merupakan catatan penting adalah akuisisi tidak boleh merugikan stakeholders, termasuk para pekerja. Kekhawatiran akan terjadi pemutusan hubungan kerja adalah hal lazim yang ditemui dalam proses akuisisi. Oleh karena itu, dampak akuisisi terhadap para pekerja harus dipertimbangkan dalam perencanaan awal akuisisi. Menanggapi kekhawatiran terkait persoalan ini, Kraft memastikan bahwa proses akuisisi ini justru akan menguntungkan seluruh pihak karena inilah saat yang tepat bagi dua perusahaan untuk bersama-sama menciptakan kerajaan makanan dan permen terbesar dunia (Economist, 19 Januari 2010).

January 21, 2010 Posted by sylvietanaga | Economy | | 2 Comments