SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

Menakar Efektivitas Bincang-bincang G-8

Banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi dunia di tengah terpaan krisis finansial yang belum jelas arahnya. Bahkan sangat sulit untuk menentukkan apakah ekonomi global saat ini masih berada dalam kondisi resesi atau pemulihan atau masih berfluktuasi antar keduanya. Berbagai forum yang melibatkan berbagai kelompok, sekutu, atau apapun istilahnya – sudah berulangkali digelar. Salah satu pertemuan teraktual adalah pertemuan G-8 di L’Aquila, Italia yang berlangsung pada tanggal 8-10 Juli 2009.

Pertemuan Puncak G-8 2009 dihadiri kedelapan anggotanya: Kanada, Rusia, Prancis,Jerman, Jepang, Italia, Inggris, dan AS. Pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Uni Eropa, presiden Komisi Eropa, dan beberapa negara berkembang yang meliputi China, Brasil, India, Meksiko, dan Afrika Selatan. Iran yang sebenarnya turut diundang guna membahas stabilitas di kawasan Asia Tengah, urung untuk hadir seiring dengan renggangnya hubungan Barat-Iran pasca Pemilu Iran yang berakhir dengan kerusuhan.

Pertemuan puncak selama tiga hari ini didahului oleh pertemuan tingkat menteri dengan bahasan isu yang beragam. Isu-isu yang menjadi agenda besar adalah isu krisis dan pertumbuhan ekonomi, perdagangan internasional, dampak krisis bagi individu, lingkungan hidup,  perkembangan di negara-negara miskin dan di Afrika, ketahanan dan keamanan pangan serta akses terhadap air bersih, kesehatan, dan isu-isu politik internasional.

Namun seperti forum-forum internasional sebelumnya, pertemuan G-8 kali ini tak disambut antusias. Ada berbagai faktor penyebab. Pertama adalah inefektivitas dari forum-forum internasional sebelumnya, mulai dari G-20, WTO, Forum Ekonomi Dunia, KTT ASEAN, hingga berbagai pembahasan internasional tentang lingkungan hidup. Forum-forum ini masih bersifat seremoni dan menjadi ajang debat antar kepentingan. Hal yang sama terjadi pada pertemuan G-8 pada saat berlangsungnya pembahasan mengenai perubahan iklim.

Tidak ada yang istimewa dari isi Declaration of the Leaders the Major Economies Forum on Energy and Climate yang dipublikasikan pada 9 Juli 2009 ini. Deklarasi justru menyebutkan target pengurangan emisi disepakati pada tahun 2050. Jangka waktu ini menghasilkan kritik dari Sekjen PBB, Ban Ki Moon, yang menyebutnya terlalu lama. Tak hanya itu, kesepakatan ini pun secara tersirat ditolak China dan India.

Penyebab kedua minimnya antusiasme komunitas internasional adalah ketidakhadiran Hu Jintao yang pada awal pertemuan hari ke-2 harus bergegas pulang karena merebaknya kerusuhan di Xinjiang. Ketidakhadiran Hu membuat pertemuan G-8 seolah kehilangan energinya. Wajar saja, bersama-sama dengan Brazil, Rusia, dan India, China adalah emerging market tercatat sebagai yang tertinggi di dunia meskipun merosot sekitar 3-4% pada paruh pertama tahun 2009. G-8 tentu mengharapkan Hu untuk berbicara.

Dalam G-8, China pun sangat lantang menyerukan penerapan mata uang internasional yang baru guna mengatasi pelemahan dollar pasca krisis ekonomi. Jason Simpkins, pemimpin editor Money Morning bahkan menyebut China menggunakan pertemuan G8 sebagai forum debat mata uang (9 Juli 2009). China juga berperan penting dalam keamanan kawasan dan isu percobaan nuklir Korut. Yang jelas, ketidakhadiran Hu berpengaruh pada pembahasan terkait perubahan iklim  yang hasil deklarasinya dipandang berbagai pihak ‘hanya jalan di tempat’.

Penyebab ketiga adalah ketidakhadiran Iran. Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki bahkan terang-terangan menyatakan kepastian tidak akan hadir dalam pertemuan tingkat menlu G-8.  Ketidakhadiran Mottaki disinyalir kuat terjadi karena renggangnya hubungan Iran-Barat pasca Pilpres Iran yang berakhir pada kerusuhan. Iran menganggap Barat mencampuri urusan dalam negeri sekaligus dalang aksi kerusuhan. Italia juga sudah meng-isukan sebuah konsensus untuk mengecam penanganan demonstrasi Iran dan pengusiran para wartawan. Tanpa kehadiran Mottaki, bahasan isu Iran pun kehilangan energinya.

Penyebab keempat, yang juga menimpa beberapa forum internasional lainnya adalah sifat keputusannya yang tidak mengikat. Kalimat singkatnya adalah ajang bincang-bincang (talk-shops) yang lebih mengarah pada tukar pendapat dan ajakan. Beberapa muatan deklarasi juga lebih mengarah pada penguatan komitmen yang sudah dibentuk sebelumnya. Belum ada terobosan baru. Sebagai contoh, laporan pertemuan para ahli dalam agenda Promoting Global Health, anehnya, tidak menyinggung masalah penyebaran pandemi H1N1 atau H5N1. Yang dibahas masih seputar HIV/AIDS, TB, dan malaria.

Penyebab-penyebab lainnya antara lain adalah adalah pemilihan isu yang terlampau sering untuk dibahas namun selama ini belum menghasilkan perubahan berarti (kemiskinan, lingkungan hidup, non-proliferasi nuklir, ekonomi global), struktur negara-negara industri yang tidak lagi hanya sebatas negara-negara yang tergabung dalam G-8, produksi deklarasi tak mengikat yang isinya ‘itu-itu’ saja, serta masih minimnya pelibatan non-state actors dalam pertemuan G-8. Meski memang ada kesepakatan, sifatnya hanya minor.

Salah satu isu yang berulangkali dibahas G-8 namun belum menghasilkan perubahan adalah isu kemiskinan dan kelaparan. Yayasan Save the Children mengatakan bahwa lebih dari 75.000 anak akan meninggal dunia dalam tiga hari pertemuan puncak G-8. Adrian Lovett, direktur kampanye Save the Children, mengatakan bahwa para pemimpin G-8 sebelumnya telah membuat janji yang sering tidak dipenuhi. Yayasan tersebut menyerukan sumbangan yang seluruhnya 7 miliar dollar AS setahun namun sejauh ini baru menerima separuhnya.

Masyarakat internasional hanya dapat berharap G-8 dan pemerintahnya mampu melaksanakan komitmennya sebaik mungkin, terutama dalam meminimalisasi dampak krisis dan pemanasan global.  Apalagi Indonesia. Indonesia berada di urutan teratas dalam daftar korban krisis yang tidak bersalah dalam gejolak ekonomi dunia saat ini. Untuk itu, Indonesia meminta perhatian dunia untuk mendapat prioritas pertama sebagai negara yang perlu diselamatkan dari kemungkinan terburuk akibat krisis (Kompas, 20 November 2008).

Namun Indonesia tidak perlu berharap banyak pada G-8 maupun pertemuan-pertemuan sejenis yang selama ini belum menghasilkan perubahan. Kiprah Indonesia dalam UNFCCC di Bali adalah sebuah langkah maju namun membutuhkan proses yang amat panjang untuk dapat diimplementasikan secara efektif oleh seluruh negara.

Akhirnya, semua kembali kepada daya tahan nasional yang merefleksikan posisi tawar Indonesia dalam panggung internasional. Daya tahan nasional harus diperkuat (politik, ekonomi, budaya, lingkungan, dll.) sambil terus menjalin kerjasama global dengan berbagai aktor. Ini adalah langkah nyata yang dapat kita lakukan daripada sekedar berharap pada ‘bincang-bincang’ ala G-8 yang belum jelas efektivitasnya.

July 10, 2009 Posted by sylvietanaga | About China, Economy | | No Comments Yet

Perokok Pasif yang Tak Berdaya

Smokers take a health risk every time they choose to light up.

That is their decision and their choice. But just as smokers have right to smoke, non-smokers also have a right to fresh air

(Queensland Cancer Fund)

Malam sudah larut. Bau asap rokok memenuhi ruangan berukuran kira-kira dua kali tiga meter. Untung saja pintu rumah terbuka. Yang mengisap adalah tiga orang wanita dan dua orang pria. Seorang ibu yang duduk tepat di samping saya, mengepulkan asap rokoknya tanpa ragu. Persis di sampingnya, seorang anak berusia sekitar tiga tahun bergelayutan. Ia merokok tepat di hadapan anaknya, tanpa merasa terganggu.

Inilah suasana mengagetkan yang saya lihat ketika menghadiri ’selamat kecil-kecilan’ dari anak salah seorang rekan yang hari itu disunat. Sambil berupaya menahan napas setengah-setengah (karena saya cukup alergi dengan asap rokok), saya tatap si anak yang baru disunat. Ia berbaring di antara kepungan asap dari berbagai penjuru. Tak terganggu nampaknya. Untung saja seorang rekan lainnya mengajak saya keluar.

Bagi saya, ini adalah sebuah pemandangan menyedihkan. Sangat menyedihkan. Tapi mungkin sebenarnya sudah sangat biasa. Saya sudah pernah melihat seorang ibu yang merokok tepat di hadapan anaknya yang berusia 22 tahun. Saya juga sudah pernah mendengar bagaimana seorang rekan mampu bertahan di tengah sergapan asap rokok yang diisap seisi anggota keluarga. Pun saya sudah mendengar ada dokter yang tentu paham bahaya rokok namun justru memutuskan untuk memilihnya.

Merokok atau tidak adalah sebuah pilihan pribadi. Bosan sudah para ahli menjelaskan bahaya rokok. Sudah sangat lama dan menjemukan. Tapi melihat situasi kemarin, saya kembali prihatin. Bukan pada yang merokok (karena mereka tentu sudah tahu apa yang akan mereka tuai kemudian), tapi kepada yang di-rokok-i. Sayang sekali saya masih belum memiliki keberanian untuk menegur dan hanya mampu berkesal-kesal ria di dalam hati. Sambil terus menahan napas setengah-setengah.

Mungkin para perokok di rungan ini ada yang belum menyadari bahwa asap yang dihasilkannya juga mengandung ’bisa’ bagi yang tidak merokok, apalagi bagi anak-anak. Atau bisa jadi hanya sedikit yang paham UU pelarangan merokok di tempat- publik, meski si penegak hukum pun sering berperan sebagai si pelanggar.

Tanpa bermaksud menghakimi, ada baiknya perokok aktif menyadari dampak rokok bagi lingkungannya, jika memang ia tidak mengindahkan dampak rokok bagi dirinya. Gogirl edisi Juni 2009 berjudul ‘Bahaya Perokok Pasif’menulis bahwa jika sesekali menghirup asap rokok, efek langsung yang dirasakan perokok pasif “hanya sekedar” iritasi mata, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, dan sesak nafas. Makin sering menghirup asap rokok, makin besar pula kemungkinan terkena infeksi/kanker paru.

Artikel yang sama menulis bahwa setengah dari jumlah anak di dunia (juga di Indonesia) adalah perokok pasif. Mereka sudah terkena penyakit pernapasan seperti asma, bronchitis, dan pneumonia. Dari semua kelainan yang dialami perokok pasif anak-anak, Sudden Infant Death Syndrome atau kematian mendadak pada anak tercatat sebagai yang paling sering terjadi. Sayang, ini belum dipahami oleh para orangtua. Tapi saya juga salah karena tidak berani memberitahu si ibu tadi.

Hati makin miris manakala majalah TEMPO edisi 29 Juni-5 Juli 2009 (hal 160-161) memberitakan bahwa British American membeli Bentoel meski tarif cukai tinggi. Dalam artikel disebutkan pula pandangan dari seorang analis bahwa inovasi teknologi rokok mampu menciptakan permintaan baru di kalangan yang sebelumnya tidak merokok. Perusahaan rokok bertahan karena masih ada celah untuk berkembang di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia sangat potensial secara ekonomi.

Memang, hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Salah satu isi dari FCTC ini antara lain membahas perkara perlindungan terhadap perokok pasif. Dengan kata lain, tujuan FCTC adalah melindungi generasi yang akan datang. Maka dapat dibayangkan apa jadinya jika FCTC tak kunjung diratifikasi karena berbagai alasan. Para perokok (dan pemerintah) umumnya membela diri dengan mengatakan bahwa jutaan tenaga kerja akan luntang-lantung manakala industri rokok goncang.

Aneh juga mengingat AS sudah memberlakukan pembatasan konsumsi rokok yang makin ketat dilakukan di bawah pemerintahan Obama. Dibandingkan dengan SARS, flu burung (H5N1) atau flu babi (H1N1) yang lebih agresif dengan masa inkubasi yang singkat, pembunuhan yang dilakukan oleh rokok memang lebih bersifat jangka panjang. Tapi malang nian orang yang tidak merokok namun harus turut menanggung penyakit akibat terpaksa menghirup paparan asap rokok di lingkungannya.

Memang, beberapa perokok sudah sadar diri pada saat merokok dengan menjauhi orang yang tak merokok atau minimal mengarahkan puntung rokoknya agar asap tak mengarah langsung pada non-perokok. Tapi masih banyak yang tidak bertenggang rasa dengan melakukan pembunuhan secara perlahan pada orang-orang di sekitarnya. Apalagi jika orangtua secara sadar merokok di depan anaknya….

Mencium asap rokok, tubuh saya mengeluarkan reaksi yaitu pusing dan sedikit mual. Bagaimana dengan perokok pasif yang sudah kebal hingga merasa tak terganggu? Sekali lagi tanpa bermaksud menghakimi, perokok aktif sebaiknya tahu situasi dan tempat saat akan merokok, jika belum mampu melepaskan ketergantungannya dari zat adiktif tersebut. Bagi non-perokok, jauhi mereka yang sedang merokok. Jika tak memungkinkan, tegur secara halus (meski saya sendiri belum berani melakukannya).

Cara menghindari diri masih menjadi satu-satunya andalan. Mengharapkan pemerintah bertindak setegas Obama masih seperti berharap jatuhnya koin emas dari langit. Masih menjadi angan-angan yang entah kapan terwujud. Terlalu banyak kepentingan yang bermain. Yang lebih jelas: terlalu banyak aparat pemerintah sendiri yang terlanjur nyandu pada rokok. Generasi muda jadi korban sukarela. Bau-bauan ini berulangkali terpaksa saya hirup di angkot, warnet, bahkan kantor pemerintah.

Sepulangnya dari acara sunatan tadi, saya pulang ke rumah dan mendapati aroma tembakau yang amat lekat pada baju dan tubuh. Sangat membuat kepala puyeng. Segera saya mandi dan mencuci baju untuk menghilangkan aroma yang menurut saya sangat tak sedap dan menganggu. Dalam hati saya berharap anak-anak di ruangan tadi memiliki kekebalan tubuh dan tekat untuk di kemudian hari tidak mengambil pilihan yang keliru. Bukan soal siapa benar siapa salah. Sama sekali bukan. Hanya soal pilihan untuk bertenggang rasa terhadap sesama. Peace for all, sehat selalu untuk semuanya! :-)

July 6, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

BOOK REVIEW – Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan

Hiroshima Cover

Judul : Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal Buku : x + 163 halaman
Harga : Rp 40.000,-

Buku ini jelas menjadi bacaan wajib, terutama bagi mereka yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Karena karya John Hersey ini sungguh fenomenal. Reportase yang diterbitkan pertama kali pada tanggal 31 Agustus 1946 oleh The New Yorker ini terpilih sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika abad ke-20. Karya ini menjadi rujukan utama bagi mereka yang mendalami jurnalisme sastra, laporan kisah nyata yang ditulis dengan gaya fiksi.

Karya berjudul asli A Reporter at Large: Hiroshima ini, pada intinya berbicara mengenai detik-detik menjelang dan sesaat bom atom berjuluk B-21 dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. John Hersey tidak menggambarkan peristiwa ini dengan gaya berita umum. Dengan menggunakan sudut pandang dari 6 tokoh (ibu rumah tangga, juru tulis departemen personalia, dua dokter, pendeta, pastur), peristiwa Hiroshima membayang kuat di benak kita.

Karya ini terbagi atas empat bagian besar dengan alur maju. Sederhana namun sangat memikat. Bagian pertama berjudul Noiseless Flash (Kilat Tanpa Suara), menggambarkan aktivitas yang dilakukan keenam tokoh sesaat menjelang dijatuhkannya bom atom. Tidak ada seorangpun yang menyangka pagi itu, 6 Agustus 1945, sebuah bom akan dijatuhkan. Semua tokoh baru menyadari bahaya setelah munculnya sebuah kilat bisu yang amat menyilaukan.

Nona Toshiko Sasaki, sang juru tulis departemen personalia East Asia Tin Workers, sedang berbicara dengan gadis di sebelahnya. Dokter Masazaku Fuji baru saja duduk dengan nyaman di terasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang telah menjadi janda, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumahnya.

Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa spesimen darah yang akan dipakai untuk tes wasserman. Pendeta Kiyoshi Tanimoto, seorang pendeta Gereja Metodis Hiroshima, sedang mulai mengeluarkan pakaian dan barang-barang lainnya dari gerobak di depan sebuah rumah di pinggiran kota.

Keenam tokoh ini merupakan orang-orang yang selamat dalam peristiwa ini. Dalam bagian pertama, Hersey berhasil menggambarkan detail peristiwa sesaat menjelang B-29 diledakkan. Kisah keenam tokoh sesaat setelah bom ini meledak pun digambarkan dengan detail oleh Hersey dalam bagian kedua yang berjudul The Fire (Api).

Pendeta Tanimoto takjub melihat sekelompok tentara dengan kepala berlumuran darah yang tengah kebingungan. Ia juga sempat menolong seorang ibu menggendong anaknya yang berusia 3-4 tahun. Nyonya Nakamura berhasil menyelamatkan ketiga anaknya dan mengungsi bersama tetangganya ke Taman Asano. Dengan punggung berlumuran darah, Pastur Klinsorge mendapati beberapa rekannya terluka.

Dokter Fujii mengalami shock dan sempat terjepit di antara tiang-tiang pondasi rumahnya dan akhirnya berhasil membebaskan dirinya sendiri. Dokter Sasaki yang kehilangan kacamatanya, segera menolong korban yang mengalir deras datang kepadanya. Tubuh Nona Sasaki terjepit di antara tumpukan buku dan rak buku sebelum akhirnya ditarik keluar. Kaki kirinya patah. Pastur Klinsorge, pendeta Tanimoto, dan dokter Sasaki pun berupaya keras menolong korban.

Pada bagian ketiga yang berjudul Details Are Being Investigated (Perinciannya Sedang Diselidiki), memperlihatkan aktivitas keenam tokoh selanjutnya. Ada yang bergerak menolong korban, ada pula yang berusaha menenangkan diri dari shock. Kondisi memilukan tergambar dengan jelas: kulit melepuh, korban yang tenggelam karena tak lagi memiliki tenaga untuk bergerak, juga mayat yang bercampur dengan koran luka di rumah sakit.

Bagian terakhir berjudul Panic Grass and Feverfew (Panic Grass dan Tanaman Feverfew). Berisi reportase tentang aktivitas dan kondisi keenam tokoh dua minggu setelah bom dijatuhkan. Di sini, para tokoh mulai mengalami penyakit yang terjadi karena radiasi. Nyonya Nakamura mulai mengalami kebotakan sementara pendeta Hanimoto tiba-tiba jatuh sakit.

Hersey juga melengkapi naskahnya dengan berbagai data seperti sebab umum penyakit akibat bom, jumlah korban, dan suhu udara yang mencapai 6.000 derajat celcius di pusat bom. Di akhir kisah, Hersey menuliskan bahwa dari peristiwa ini, pengabdian yang besar dari rakyat Jepang terhadap kaisar dan negaranya amat besar. Rata-rata meninggal dalam diam dan bahkan menganggap kematiannya sebagai sebuah pengorbanan bagi kaisar dan negara.

Masterpiece John Hersey yang meninggal pada tahun 1993 ini pun menjadi bahan bacaan wajib bagi Anda. Dalam penggarapan karyanya, Hersey mengunjungi Jepang selama tiga minggu dan mewawancarai para tokoh yang dapat berbahasa Inggris (meski patah-patah). Hersey kemudian mengolah tulisannya dengan proses editing selama 10 hari.

Reportase lebih dari 30.000 kata ini awalnya hendak diterbitkan dalam 4 seri The New Yorker namun urung dilakukan. Pemenggalan dirasakan akan mengganggu introduksi sehingga The New Yorker menerbitkan edisi yang seluruhnya berisi tulisan Hersey. Masyarakat meresponi dengan luar biasa. Dalam waktu singkat, edisi ini habis terjual. Albert Einstein yang hendak memborong edisi Hiroshima ini pun hanya mampu gigit jari karena kehabisan.

Selain mampu menampilkan reportase dengan gaya fiktif (sehingga pembaca seolah sedang membaca novel), John Hersey tidak menggiring pembacanya untuk membela pihak tertentu. Hersey bahkan tidak menulis Hiroshima dengan emosi. Ia menulis dengan gaya yang ‘kering, kalem, dan tanpa emosi’. Gaya jurnalisme sastra yang memikat yang digunakan John Hersey juga dapat menginspirasi Anda ketika menulis hasil reportase. Selamat membaca!

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Book Review | | No Comments Yet

KAKA

Bicara tentang gaya hidup pemain bola, ingatan kita umumnya terarah pada gaya hidup selebritas: glamor dan elit. Biaya transfer dan upah seorang pesepak bola ternama (di klub ternama di bumi belahan Barat, tentunya) jumlahnya sama dengan APBD di beberapa wilayah di Indonesia. Ratusan miliar rupiah sekali transfer. Tidak heran jika kekayaan material bergelimang menghiasi kehidupan para pemain ini.

Tapi lain dengan Kaka. Sebuah artikel yang sangat menarik terantum dalam majalah TEMPO edisi 15-21 Juni 2009 (hlm 46-47). Dalam tag-linenya, TEMPO menulis soal Kaka: Manusia 948 Miliar: Gaya hidup Kaka jauh dari glamor. Itu juga yang membuatnya tetap menjadi pemain nomor satu dan berharga mahal. Kaka memang diganjar dengan angka sebesar itu atas oleh presiden Real Madrid yang baru, Florentino Perez. Angka sebesar ini tanpa ragu dibayar kontan oleh sang presiden.

TEMPO menulis bahwa Kaka memiliki gaya hidup yang berbeda dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya seperti Ronaldinho, Ronaldo, dan Adriano hidup dikelilingi dengan mobil mewah, clubbing, dan wanita, Kaka memilih untuk mengelola dirinya dengan lebih baik. Ia lebih tertarik menyumbangkan uangnya untuk kegiatan agama karena baginya, semua yang dia peroleh semata pemberian Tuhan.

Gaya hidup lainnya, bacaan favorit Kaka adalah Injil dan menggemari musik gospel. Kaka bahkan tidak pernah bermain dengan wanita dan bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Suatu hal yang relatif jarang ditemui di tengah glamoritas kehidupan para pesepak bola ternama. Tampilannya santun dan selalu mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Ini adalah sebuah gaya hidup yang saya pelajari. Dengan sebuah kerendahhatian, kesederhanaan, dan tidak cepat puas dengan apa telah diraih, nilai kita akan selalu langgeng. Para pesepak bola yang berfokus pada upaya lepas dari kemiskinan semata (mengejar kekayaan), meski ia adalah seorang pemain hebat, gaungnya akan cepat pudar. Ia akan melesat dengan cepat, namun juga akan merosot dengan cepat.

Seorang pemain hebat yang kesehariannya hanya leyeh-leyeh alias malas berlatih, nilainya akan ‘turun’ di mata para pendukungnya, minimal di mata pelatihnya. Sudah banyak pelatih yang menyatakan kekesalannya karena sang bintang tak datang tepat waktu untuk latihan karena semalam suntuk mereka clubbing. Padahal, kehebatan tidak berarti apa-apa tanpa latihan yang tekun disertai dengan kerendahatian.

Apa yang dilakukan Kaka tidak hanya mengingatkan para pemain bola agar pandai mengelola diri. Kaka memberi contoh nyata bagaimana seharusnya seseorang berkarya: motivasinya, ketekunannya berlatih, respon setelah memperoleh harta, respon setelah diangkat sebagai seorang superstar, dan masih banyak lagi. Sesaat terdengar sederhana, namun belum banyak ‘Kaka-Kaka’ lainnya.

Motivasi meraih kekayaan yang sebesar-besarnya demi kemakmuran diri sendiri dan keluarganya atau kelompoknya, masih santer mewarnai kehidupan Indonesia. Tak heran jika kasus korupsi muncul bak cendawan di musim hujan. Motivasi meriah ketenaran instan tanpa pengelolaan diri yang baik pun banyak menjatuhkan kehidupan sang bintang. Entah karirnya, entah keluarganya.

Setelah mengalami kesulitan, lebih banyak lagi yang menyalahkan nasibnya atau menyalahkan orang lain sebagai penyebab kemalangannya, tanpa pernah bercermin pada perbuatannya. Bahkan sering terdengar: “….ya udahlah, mungkin ini cobaan dari Tuhan”. Menyesatkan. Bisa jadi apa yang menimpa dirinya adalah karena kesalahan sendiri, bukan karena Yang Di Atas sedang iseng mencobai umatNya.

Kalau disingkat, inilah beberapa hal yang saya pelajari dari seorang Kaka:

Memiliki motivasi melakukan untuk Tuhan, bukan meraih kekayaan
Itu sebabnya Kaka tidak mengiyakan tawaran dari kelompok lain meskipun nilai euro-nya jauh lebih tinggi daripada yang ditawarkan Real Madrid.
Kesadaran bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia Tuhan
Itu sebabnya Kaka tidak menjadi sombong ketika meraih ketenaran dan kekayaan.
Memiliki pengelolaan diri yang baik, bertanggungjawab atas kehidupannya
Menghindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri (kelebihan pesta, merokok, seks bebas, bermain wanita). Sebaliknya, Kaka melakukan hal-hal yang dapat menunjang kemajuannya: tekun berlatih, menyayangi keluarga, dll.
Tidak ikut arus dan memiliki prinsip hidup yang kokoh
Ini masih terkait dengan upaya pengelolaan diri secara bertanggungjawab. Meskipun mayoritas teman-temannya lebih gemar clubbing dan bermain wanita, Kaka tidak pernah melakukannya. Kaka memegang prinsip-prinsip hidupnya dengan teguh, menarik garis batas yang amat jelas antara yang positif dan negatif.

Gaya hidup Kaka ini tentu menjadi dambaan bagi kita semua. Tapi ini semua adalah soal keputusan, jangan berhenti sebatas dambaan. Semua merupakan proses namun harus dimulai sejak detik ini. Saya pun masih belajar, masih berproses. Saya bisa membayangkan respon teman-teman Kaka ketika ia bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Juga dengan kebiasaannya membaca Injil dan mendengar gospel.

Saya jadi ingat kata-kata guru PPKn pada masa silam yang mengatakan: kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Kita bebas untuk memilih dan mengambil keputusan. Namun jika motivasi kita dalam menjalankan kebebasan salah: hanya digunakan untuk kepentingan diri dan berupaya meraih kekayaan semaksimal mungkin, ada baiknya kita melirik Kaka.

Jangan heran kalau hingga detik ini ‘nilai’ Kaka masih tetap sangat tinggi yang tentu tidak bisa diukur dengan nilai nominal 984 miliar. Bukan semata-mata karena kehebatannya mengolah si bundar tapi karena gaya hidupnya. Karena ia mengambil kebebasannya secara bertanggungjawab. Karena ia pandai mengelola diri.

Saya jadi membayangkan apa jadinya Indonesia jika seluruh rakyatnya pandai mengelola diri. Dan saya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika para pemimpin bangsa yang bertugas mengelola bangsa ternyata tidak mampu mengelola diri. Seorang pemimpin yang tidak dapat mengelola diri, jangan harap ia dapat sukses mengelola kelompok atau bangsanya. Tidak mungkin. ‘Nilai’nya akan cepat jatuh.

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Sampai Jumpa Lagi, Kawan-Kawan!

DSCI1595

”Syl, kumaha?”
”Sori banget mas, kaga ada yang nganterin neh, tukang ojeg gw lagi nggak bisa nganter.”
”Make taksi ajah atuh, kan bisa.”
”……….. Ya udah, oke deh mas!”

Sebuah keputusan yang kemudian sangat saya syukuri. Fendra, demikian nama teman yang membujuk saya ikut menonton Police Academy, berhasil membujuk membuat saya keluar dari kamar apartemen.
Tak terasa, sudah dua minggu kami – para jurnalis dari berbagai pelosok Indonesia, belajar bersama dalam pelatihan Jurnalistik Pantau XVII di Jakarta.

Ada Arizal dari Harian Singgalang, Fendra dan Firman Hadi dari Aceh, Agus dari Sumatera Ekspres, Arifuddin yang merupakan pensiunan BI, Endro dari Kaltim Post, Hendra dari IMPACT Aceh, Dawud dari radio Prosalina FM di Jember, Sari dan Wulan dari Bisnis Indonesia, dan Roy Thaniago yang aktif nge-blog di Jakarta.

Kami semua doyan bercanda. Endro merupakan mantan pemain Lenong. Hobinya adalah membuat guyonan yang membuat perut terkocok. Agus, dengan gaya kocaknya gemar memprovokasi kelas menjadi lebih ramai. Logat campur sari dari seluruh Indonesia pun kerapkali terdengar.

Kelas tambah ramai.
Ada orang muslim naik bus. Terus dia bilang ‘bismillah’. Di sampingnya, seorang Kristen kebingungan. Katanya: Ini bis kota, bukan bismillah.

Kali lain:
Seorang Madura naik taksi. Sesampainya, argo menunjukkan harga 100.000. Orang Madura tersebut hanya membayar 50.000. Si sopir taksi yang kebingungan bertanya pada orang Madura:
Sopir taksi: Bang, lihat nggak argonya berapa?
Orang Madura: Iya, saya liat.
Sopir taksi: Lho kok cuma segini??
Orang Madura: Lha, sampeyan kan ikut naik……
Mas Andreas, pelatih kami, sampai geleng-geleng.
“Ini kelas terkocak selama pelatihan,” ujarnya.

Selama dua minggu bersama, persahabatan terjalin makin erat. Ngobrol bareng, diskusi bareng, makan bareng, belajar bareng, bahkan karaoke bareng dan nonton film bareng (dua terakhir, saya tak ikut). Maka menjelang perpisahan, ada rasa berat yang luar biasa.

Adalah Mas Endro dari Kaltim Post yang mengusulkan nonton Police Academy bersama di Pantai Karnaval Ancol. Gratis, katanya. Ia baru saja meliput sang investor Police Academy yang ternyata temannya. Jika bayar sendiri Rp150.000.

Ingin ikut. Namun gabungan rasa capek, takut hujan dan malas mencari taksi mengalahkan niat ini. Telepon seluler pun saya raih:
Mas Endro, sori banget ya, gw ga bisa ikut soalnya tukang ojeg gw kaga bisa nganter… Salam buat kawan-kawan.
Mas Endro menjawab SMS saya: Ya udah gpp, sampai jumpa di lain waktu.

Tapi bujukan mas Fendra melalui telepon tak dapat saya hindari.
“Ditunggu ya di restoran Segarra!” ujarnya, masih mencoba berbahasa Sunda.
Uniknya, ia adalah orang Aceh.

Akhirnya saya bergegas mencari taksi menuju Ancol. Saya mengira mereka sedang makan bersama di restoran yang letaknya jauh. Ternyata mereka sedang menikmati santap siang sambil konferensi pers dengan pihak Police Academy Italia dan direktur utama Ancol. Secara umum kon-pers ini bicara tentang penyelenggaraan Police Academy yang akan berlangsung mulai 6 Juni-18 Agustus 2009. Tiga bulan.

Perut mulai keroncongan saat saya puluhan wartawan mulai meninggalkan restoran Segarra untuk menonton Police Academy Stuntman Show.
Makanan sudah habis. Saya pun mencicipi sisa-sisa melon, semangka, dan agar-agar. Lumayan …..

Agus masih sibuk mencatat hasil kon-pers dengan laptopnya.
Sari sibuk mengejar narsum untuk hariannya, Bisnis Indonesia edisi Jumat.
Mas Endro yang sudah menyelesaikan wawancaranya dengan sang investor beberapa hari sebelumnya, mengajak kami beranjak.
‘Kepala suku,’ demikian Sari menyebutnya.

* *

Cahaya matahari bersinar terik saat kami menempati bangku pertunjukkan. Kami, rombongan wartawan ‘bedol desa’, masuk melalui pintu samping bersama rombongan wartawan lainnya.
Gratis.

Tiga bersap bangku biru sudah terisi separuhnya saat kami duduk. Kapasitas kursi kurang lebih 2.600. Seorang polisi bule asal Italia sudah ‘beraksi’ dengan mencandai beberapa penonton.

Priiitttttttttttt
Si polisi meniup-niup peluitnya keras-keras.
Ia mengerjai antara lain: tiga orang anak-anak, dua pasang keluarga, seorang kameramen, dan beberapa orang lainnya. Ada yang dicegat dan disuruh mengikuti gerakannya. Ada yang disuruh melepas kacamatanya untuk kemudian diganti dengan kacamata raksaksa.

Cukup menghibur….
Narasi cerita yang dibawakan oleh seorang ‘polisi’ bule (yang ternyata merupakan jubir dalam kon-pers di restoran), menjadi awal pembuka police academy. Narasi ini kemudian diterjemahkan seorang penerjemah perempuan yang memakai pakaian polisi superseksi.

* *

Ruang pertunjukkan Police Academy Stuntman Show sekilas tidak terlalu menarik. Hanya beberapa backdrop sederhana dan rumah ‘beneran’ yang bertulis: ‘Police Academy’ dan ‘Police Garage’ serta sebuah gas station bohongan.

Yang menarik adalah properti yang menghiasi ‘panggung’ beruapa jalan beraspal. Ada sebuah meriam yang ternyata dapat mengeluarkan efek letupan bercahaya. Juga ada sebuah helikopter di atas bangunan ‘police academy’.

Cerita bermula dari kaburnya seorang narapidana kelas berat dari penjara yang berada di kawasan police academy. Tim polisi kelabakan karena narapidana ini sangat lihai. Ia bahkan berhasil membobol police academy dan mencuri uang. Polisi dan si pencuri pun terlibat kejar-kejaran.
Alur ceritanya memang amat sederhana.

Tapi adegan kejar-kejaran sungguh memikat.
Mendebarkan.
Mobil si pencuri dan geng-nya meraung-raung dan kemudian melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Ketika nyaris mencium tembok pembatas, mobil diputar 180 derajat dengan bunyi mengerikan hingga menimbulkan debu yang beterbangan.

Dalam adegan lain, sekelompok motor meraung-raung dengan kecepatan tinggi. Selain berhasil mengangkat roda depan, kelompok stuntman ini juga berhasil menerbangkan motornya setinggi lima meter dari permukaan tanah!

Tim polisi tak mau kalah bergaya.
Setelah mengebut dan memundurkan motornya dengan kecepatan tinggi, para polisi ini mulai mengangkat mobilnya hingga hanya bertumpu pada dua ban saja.

Kemiringannya sangat mengerikan: 45 derajat!
Para polisi ini bahkan berdiri di atas mobil yang sudah miring tersebut.
Para penonton menarik napas.
Suara wuowwwww…….. kembali bergema.
Para wartawan segera mengambil kameranya – klik sana klik sini.
Sari sibuk mencatat di notes-nya.

* *

Matahari mulai tenggelam di ufuk. Suasana sunset tak begitu jelas. Kami berjalan lambat-lambat menyusuri pantai Ancol. Semua terlibat dalam pembicaraan seru. Saya mengobrol dengan mas Fendra soal Aceh. Juga dengan mas Endro mengenai berbagai hal. Mulai dari curhat kehidupan wartawan hingga keluarga.

Sebuah kenangan manis yang sungguh tak terlupakan.

Air laut sudah pasang, merendam pasir terluar. Matahari sudah pulas di peraduannya ketika kami berjalan pulang. Ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Berat rasanya ketika akhirnya harus berpisah. Namun kami berjanji untuk tetap berkomunikasi. Melalui facebook, tentunya. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan!

* * *

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature | | 3 Comments