SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

DRAGONOMICS

China is China, you know? Even the U.S. cannot talk to China.

Irvan K. Hakim, a co-chairman of the Indonesian Iron and Steel Industry Association

Dalam bukunya yang berjudul Economics (1994), Paul A. Samuelson pernah mengungkapkan satu pernyataan menarik. Salah seorang bapak ekonomi dunia ini mengatakan bahwa ekonomi bukanlah ilmu eksakta, tapi dia melebihi seni. Jika kita telaah kalimat ini, kita akan menemukan bahwa ekonomi memang suatu hal yang unik. Ia memang terukur, namun tak terduga. Lihat saja sistem ekonomi ‘sosialisme pasar’ China. Secara ilmiah sistem ini aneh, namun ternyata ia berhasil diterapkan.

Jika saat ini diadakan polling dengan pertanyaan negara manakah yang menurut anda menjadi penentu geo-ekonomi global, saya yakin 100% bahwa China masuk dalam jajaran atas. ‘Kebesaran’ ekonomi China sudah menggaung sejak tahun 1990an dan selalu menjadi bahasan utama tidak hanya bagi para ekonom, namun juga bagi para politisi.  Sebagian memuji, sebagian mencaci. Sebagian optimis, sebagian pesimis.

Yang optimis memandang China sebagai peluang baru bagi dunia yang sudah lelah didominasi AS yang ‘cerewet’ soal HAM tapi pada kenyataannya selalu menerapkan standar ganda. Yang pesimis melihat China tetap tak akan mampu menyaingi AS. Harga yang harus dibayar China berupa pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan hidup, terlalu mahal. Apapun itu, tidak dapat dinafikan bahwa ekonomi China akan terus menjadi sorotan dunia, terlebih fakta berbicara bahwa China merupakan salah satu dari sedikit negara yang mampu bertahan menghadapi badai resesi tahun 2008.

Indikator yang paling sering digunakan untuk memperkuat pernyataan bahwa ekonomi China memang tangguh adalah tingginya nilai cadangan devisa yang saat ini merupakan yang terbesar di dunia, tingginya nilai ekspor, bertahannya angka konsumsi domestik, dan makin bergairahnya kiprah China di panggung internasional, entah dalam hal promosi Yuan sebagai mata uang global, ekspansi perusahaan multinasional, maupun kiprah China dalam penyelesaian berbagai konflik dunia. AS di bawah Obama pun terlihat ‘lebih bersahabat’ dengan China. Baru-baru ini, Obama melakukan kunjungan persahabatan ke China dan berani menolak bertemu dengan Dalai Lama demi kelancaran hubungan AS dengan China.

Dragonomics atau ekonomi naga, tidak menunjukkan suatu teori ekonomi baru. Ia lebih merupakan sebuah istilah yang melekat pada ciri khas ekonomi China yang oleh para petingginya dikatakan sebagai ‘sosialisme pasar’ yang dalam kenyataannya lebih liberal daripada ekonomi AS yang jelas-jelas dikatakan sebagai ekonomi liberal. Dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya: SDA, SDM, strategi manajemen yang dipengaruhi budaya konfusianis, China bukan saja mampu bertahan dari krisis (defense) namun juga menunjukkan sikap naga: diam dan menyerang (offense).

Sikap diam nampak ketika pemerintah China tidak pernah mengatakan secara verbal bahwa negaranya adalah negara ekonomi termaju. Persepsi bahwa ekonomi China sangat maju lebih banyak dilontarkan oleh pakar asing atau media asing. China justru merasa gerah dengan segala pujian ini. Pasalnya, kebangkitan ekonomi China sering diasosiakan dengan pelanggaran HAM dan peningkatan anggaran militernya. Itu sebabnya pemerintah China berkali-kali menegaskan bahwa kebangkitannya adalah kebangkitan yang damai (peaceful rise), bukan kebangkitan yang mengancam.

Perilaku offense China dilakukan dengan tenang dan diam. Tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa China menyimpan cadangan devisa terbesar di dunia hingga ada pengumuman resmi yang dirilis. Juga tidak ada yang menyadari bahwa selama ini China adalah salah satu sumber keuangan terbesar bagi pembangunan AS (pembeli sukuk AS terbanyak), hingga krisis subprime mortgage terjadi. Angka-angka ekonomi yang baru dirilis bahkan makin menunjukkan kecenderungan bahwa China memang mengungguli AS secara de facto, bukan sekedar opini publik atau opini pakar.

Untuk pertama kalinya, tahun 2009 ini China membeli lebih banyak mobil daripada AS meski keadaan ekonomi terbilang masih resesi (New York Times, 9 Desember 2009). Tidak hanya mobil, untuk pertama kalinya China juga melewati konsumsi AS pada tahun ini sebagai ‘pasar terbesar dunia’ untuk berbagai produk rumah tangga mulai dari kulkas hingga mesin cuci, bahkan hingga komputer desktop. Peningkatan konsumsi ini dipacu oleh kebijakan ekonomi berupa potongan harga, subisidi, dan suku bunga pinjaman yang tinggi. China memang menginginkan warganya meningkatkan konsumsi guna mendorong pertumbuhan ekonominya.

Apakah hal ini berarti ancaman buat AS? Tidak. Dalam keadaan resesi, peningkatan konsumsi domestik China justru menjadi hal yang dinanti-nantikan tidak hanya oleh AS namun juga oleh dunia. Tingginya konsumsi domestik AS dengan menggunakan kredit yang berlebihan selama ini disebut sebagai pemicu krisis. Untuk itu AS harus menurunkan konsumsi domestik (spending) dan meningkatkan tabungannya (saving). Sebaliknya, China diharapkan dapat meningkatkan konsumsi domestik dan mengerem laju ekspornya. Dengan demikian barulah ketidakseimbangan dapat mulai dipulihkan.

Tapi sekali lagi, tak mudah untuk menghentikan naga yang sedang berdesis. Tak mudah mendorong masyarakat China yang terkenal hemat, untuk meningkatkan konsumsinya dan mengerem laju ekspor di tengah menggeliatnya industrialisasi. Ancaman dari China tidak hanya datang hanya dari perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan minyak, dll. tapi juga datang dari sektor barang-barang kebutuhan rumah tangga skala kecil yang gaung ekspornya bahkan sudah lintas benua, terutama di Eropa Timur dan Afrika (Foreign Policy, 9 Desember 2009).

Dampaknya juga terasa pada nilai mata uang dollar AS yang makin melemah dan nilai Yuan (Ren Min Bi) yang makin menguat. Kebijakan pemerintah China yang masih menahan laju nilai Yuan di pasar mata uang global selama ini dituduh sebagai biang terjadinya krisis. ‘Tenggelamnya’ nilai dollar AS makin mempermurah harga barang-barang produksi China. Akibatnya, ekspor dari negara-negara pesaing pun mengalami kemunduran. Namun tidak ada satu kewajiban pun bagi China untuk melepas nilai mata uangnya: salah satu sisi ‘sosialisme’ dari sosialisme pasar.

Arti dari semua ini adalah bahwa China dengan dragonomics-nya semakin menegaskan dirinya sebagai calon negara superpower baru di dunia, bukan hanya karena opini namun juga secara de juris dan de facto. Dalam bukunya yang berjudul “When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order”, kolumnis The Guardian, Martin Jacques, menulis China berpotensi menjadi superpower yang juga akan berdampak pada politik dan budaya dunia.

Saya percaya Martin Jacques bukan hendak berbicara mengenai masalah ‘benturan antar peradaban’ seperti yang diungkapkan Samuel Huntington. Premis dari Martin Jacques lebih mengingatkan dunia untuk belajar dari China, seperti yang ditulisnya: …China played nice, living “according to the terms set by others” and avoiding unnecessary conflicts to focus on its own economic growth. Dalam krisis 2008, dragonomics dilirik oleh para pakar sebagai contoh gaya ekonomi terbaik, bertolak belakang dengan ekonomi kapitalis yang divonis hanya tinggal menunggu kejatuhan.

Dragonomics memang belum sempurna (salah satunya dibuktikan melalui tingginya tingkat pengangguran di China), namun ia terbukti berhasil melewati ujiannya, setidaknya hingga detik ini. Meksi catatan sejarah China dinilai dunia Barat ‘tidak baik’, toh Sang Naga dengan dragonomics-nya sudah menunjukkan seni permainan cantiknya yang memukau dunia. Sampai sejauh ini, benarlah apa yang dikemukakan Bapak Paul A. Samuelson: ekonomi bukanlah ilmu eksakta, tapi dia melebihi seni.

December 14, 2009 Posted by sylvietanaga | About China, Economy | | 1 Comment

Anak Bukan Komoditas!

”Wah kak… tahu nggak, kemarin saya nonton film Twilight yang paling baru. Ganteng sekali pemeran utamanya! Pokoknya lebih ganteng daripada pemeran utama yang main di High School Musical. Ganteng bangeeettt!”

Kaget saya mendengarnya. Bukan karena filmnya atau karena hasrat ingin membuktikan apakah benar Robert Pattinson lebih ganteng daripada Zac Efron. Sama sekali bukan. Saya hanya kaget karena yang mengucapkan kalimat tersebut adalah seorang anak ’masih hijau’ yang baru saja memasuki jenjang SMP. Tapi lama kelamaan kalimat-kalimat semacam ini amat sering terdengar sehingga tak lagi menimbulkan sensasi kaget. Yang dibahas anak-anak ini sangat beraneka ragam mulai dari novel, film, game, hingga musik-musik begenre 17 tahun ke atas. Wuihhh…

Sebelum dibahas lebih lanjut, pernahkah sesekali anda perhatikan iklan-iklan produk bayi? Jaman dulu, iklan produk bayi hanya sebatas susu, makanan bayi, dan produk perlengkapan mandi untuk bayi. Tapi sekarang anda bisa melihat bahwa varian-varian produk bayi ini berkembang sedemikian rupa, bukan hanya dari variannya tapi juga jenis variannya. Merk susu bayi sudah tentu tak terhitung lagi jumlahnya. Tapi selain itu, saat ini juga berkembang produk-produk jenis baru yang belum muncul saat anda bayi. Ada produk pelembut pakaian khusus bayi, pengharum ruangan khusus bayi, tempat tidur khusus bayi, hingga soundsystem khusus bayi.

Nah, yang ingin saya sampaikan, seperti yang mungkin sudah dapat ditebak dari judul tulisan ini – adalah betapa anak-anak pada masa kini semakin menjadi komoditas alias menjadi ’mangsa empuk’ industri. Cara kerjanya rumit-rumit mudah. Dengan memanfaatkan ’masa labil’, masa di mana anak masih cenderung mudah terbawa arus, industri mengomunikasikan produknya dengan sangat brilian pada target cilik mereka. Komunikasi produk ini dipermudah oleh suksesnya penetrasi televisi dan internet yang kini sudah amat tinggi di kalangan anak-anak. Si anak akan mulai tertarik untuk mengetahui dan kemudian memiliki produk tersebut, apalagi setelah mendengar atau melihat hal serupa dari lingkungannya.

Masih bingung? Baiklah saya akan memberikan contoh sederhana yang diambil dari buku Fast Food Nation (maaf sekali saya sudah lupa nama pengarangnya). Salah satu bagian dalam buku tersebut menceritakan salah satu strategi sukses dari McDonald. Strategi tersebut adalah dengan mengenalkan produk McD kepada konsumennya sejak mereka masih anak-anak. Maka McD membuat menu paket khusus untuk anak-anak beserta bonus mainan-mainannya termasuk si tokoh utama yaitu badut Ronald McDonald. Tujuan adalah agar si anak tertarik dan bisa selalu mendorong orang tuanya datang ke McD. Dengan kata lain, McD berupaya membentuk ’ikatan khusus’.

Bukan hanya itu, komunikasi sejak masa kanak-kanak ini bisa terinternalisasi hingga mereka dewasa. Alhasil setelah beranjak dewasa pun mereka akan selalu tertarik untuk datang ke McD. Nah, entah karena terinspirasi oleh McD entah tidak, hal-hal semacam ini berjalan semakin kental. Lihat saja aneka produk yang membuat anak-anak kita semakin autis dengan lingkungan sosialnya mulai dari yang agak jadoel semacam cellphone, game boy dan tamagochi, hingga PSP (Play Station Portable) dan Black Berry yang konon penggunaan di Malaysia saja tidak ’separah’ Indonesia.

Salah satu pusat perbelanjaan bahkan menyediakan jasa hiburan anak berupa permainan ‘cita-cita’ yang sudah menyerupai alam dewasa yang sesungguhnya. Ide brilian atas nama kreativitas anak, walau di sisi lain, kita patut prihatin ketika melihat anak-anak dari golongan menengah ke bawah yang hanya mampu menikmati mainan ala kadarnya di kampung-kampung kumuh seharga Rp 3.000an – paling mahal. Dewasa ini, upaya membisnis-kan anak-anak bahkan melibatkan anak-anak itu sendiri. Anak-anak polos ini dikomoditisasi, dipaksa menjadi subjek dan objek pasar.

Dalam kamus Encarta, commoditization adalah the process by which a product reaches a point in its development where one brand has no features that differentiate it from other brands – proses yang membuat sebuah produk mengalami peningkatan nilai yang membuatnya berbeda dari merk lain. Dan di sinilah letak permasalahannya. Dalam SK Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI (SK- 39/MEN.PP/IV/2009), anak didefinisikan sebagai tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan.

Artinya sangat jelas. Anak bukanlah barang atau produk tetapi manusia. Mereka adalah tunas, potensi, dan generasi penerus bangsa. Tapi apa lacur, komoditisasi anak justru semakin menjadi-jadi. Komoditisasi yang lazim ditemui bukan hanya sebatas produk tetapi juga jasa pendidikan dan jasa hiburan anak, dua bidang yang menjadi fokus utama anak-anak pada masa pertumbuhannya.

Di bidang pendidikan, upaya privatisasi pendidikan adalah salah satu contoh nyata bentuk komoditisasi anak. Beragam indikasi yang muncul adalah negara menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada swasta dengan orientasi mendapatkan keuntungan, pembebanan pembiayaan pendidikan kepada masyarakat melalui model ‘Pembiayaan Bersama dengan Masyarakat’, pembiayaan pendidikan kepada pemerintah-pemerintah lokal melalui penerapan otonomi daerah, serta pemotongan subsidi untuk perguruan tinggi. Tak heran jika RUU Badan Hukum Pendidikan yang mewajibkan semua sekolah menjadi Badan Hukum Pendidikan – termasuk sekolah negeri – dengan segera menuai protes keras. Anak dipandang tak lebih sebagai sumber uang.

Di bidang hiburan yang pada dasarnya merupakan kebutuhan primer seorang anak, komoditisasi pun sudah mengemuka sangat jelas. Selain terkait dengan gencarnya komunikasi produk-produk hiburan anak yang sudah dijelaskan pada tulisan awal, minimnya media representasi anak menjadi faktor permasalahan utama. Kini banyak sekali bermunculan audisi-audisi anak untuk menjadi bintang secara instan di televisi. Nyatanya, anak-anak ini sengaja dibentuk dengan ‘pola pasar’ yang nyaris menyita kehidupan normal mereka sebagai anak-anak. Semua demi tuntutan pasar.

Mereka didorong untuk membuat album, manggung intensif, bermain sinetron stripping, bermain film, dan membintangi beberapa iklan di sela-sela sekolahnya. Album-album yang dihasilkan pun lebih tepat disebut sebagai album remaja atau dewasa daripada album anak-anak. Demikian pula dengan sinetron. Kehidupan pribadi mereka diekspos habis-habisan seperti halnya artis dewasa. Waktu mereka bersosialisasi dengan rekan-rekan sebayanya pun habis di tempat syuting, bahkan tak sedikit yang akhirnya lebih memilih home-scholling akibat padatnya jadwal.

Sebaliknya, anak-anak pemenang olimpiade, pemenang lomba lukis, teater, dan paduan suara tingkat internasional yang sudah mengharumkan nama bangsa justru tidak mendapat tempat dalam media. Media representasi anak kebanyakan diadopsi dari Barat dan Asia Timur yang tentu minim nuansa lokalnya seperti Spongebob, Power Puff Girls, Shincan, Power Ranger, dan Sesame Street. Film-film Hollywood dan MTV bahkan lebih familiar sebagai hiburan utama di mata anak-anak Indonesia. Jarang media yang memberi ruang untuk memblow-up game asal Indonesia, misalnya.

Padahal menurut Hernando de Soto yang menulis buku The Mysteri of Capital, media representasi adalah kunci mengonversi aset-aset (dalam hal ini adalah anak-anak) menjadi modal. Menjadi modal di sini bukan berarti anak-anak menjadi sapi perah tetapi menjadi kekuatan untuk meningkatkan produktivitas bangsa. Konversi aset menjadi modal ini, menurut Hernando De Soto adalah kunci utama bagaimana sebuah negara dapat memiliki modal yang potensial yang membuat negara tersebut maju. Artinya anak-anak memang memiliki peran strategis yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan.

Namun peran strategis tersebut akan sulit terwujud selama anak-anak Indonesia masih dikomoditisasi dengan pola oldschool: dididik dengan orientasi material, bukan pada inovasi sesuai tumbuh kembang anak. Orang tua membiarkan saja hal ini terjadi: “yang penting nilai-nilai mereka di sekolah baik.” Anak-anak menjadi lebih senang menghabiskan waktunya di mall dan menonton di bioskop daripada beraktivitas di tempat yang lain. Kebiasaan konsumerisme mulai terpupuk, pola pikir menjadi sangat instan dan individualis. Gaya hidup semacam ini mereka pelajari dari orang tuanya yang di kemudian hari akan kembali ditiru oleh anak cucu mereka seperti pola McD.

Nah, dalam hal ini banyak sekali hal yang harus dibenahi: kebijakan pemerintah (pendidikan, media, dll) dan terutama adalah peran kunci orang tua sebagai agen nilai pertama bagi anak. Anak jangan dipandang sebagai subjek penghasil uang melalui berbagai upaya eksploitasi. Sebaliknya, anak juga jangan dilihat sebagai objek komoditas. Dewasa ini, banyak orang tua yang terlalu ‘sibuk’ dengan pekerjaannya sehingga meng-iya-kan begitu saja seluruh permintaan anak sebagai respon permintaan maaf atas kesibukan mereka selama ini.

Universal Children’s Day yang jatuh pada tanggal 20 November hendaknya menjadi momentum untuk kembali mengingatkan hak-hak anak yang bebas dari eksploitasi, bebas mengemukakan pendapat, bebas memperoleh pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja. Universal Children’s Day ini, seperti yang dilansir oleh PBB, hendaknya mengingatkan kita bahwa anak-anak membutuhkan cinta dan penghargaan saat mereka bertumbuh dengan potensi penuh yang mereka miliki.

Anak-anak adalah unik. Mereka adalah modal bangsa yang bisa menghasilkan komoditas yang berharga bagi bangsa ini, bukan menjadi korban komodotisasi jangka pendek yang justru akan mengorbankan kepentingan negara dalam jangka panjang. Sekali lagi, anak bukan komoditas! Mereka adalah calon penghasil komoditas sekaligus tumpuan masa depan Indonesia.

December 11, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

“Hey, this is a really great wall”

 

Didampingi duta besar AS untuk China, Jon M. Huntsman Jr., dan duta besar China untuk AS, Zhou Wenzhong, Obama melangkah di tengah-tengah tembok besar China. Kedua tangannya dimasukkan dalam kantung celana hitam yang senada dengan warna jaket kulitnya. Komentar-komentar terkait dengan situs tembok besar China pun terlontar dari mulutnya.

“Spectacular.”

“It’s a reminder of the ancient history of the Chinese people.”

“It gives you a good perspective on a lot of the day-to-day things. They don’t amount to much in the scope of history.”

“… I also think I’m glad I didn’t carry a camera.”

Dengan kunjungan ke tembok besar China, berakhirlah perjalanan Obama yang dinilai banyak pihak tak lebih sebagai sebagai kunjungan persahabatan biasa. Formalitas. Kunjungan persahabatan Obama ini terjadi di tengah kemelut isu perdagangan, militer, dan perubahan iklim. Tiga isu turun-temurun yang terus menjadi sorotan utama pemimpin dua negara dari masa ke masa.  International Herald Tribune dalam edisi Sabtu, 19 November 2009 secara tersirat bahkan menyebut bahwa posisi tawar AS kini relatif lebih rendah daripada China.

Harian ini menyebut bahwa di masa yang akan datang, bukan tak mungkin AS yang akan lebih bergantung pada China daripada sebaliknya: suatu hal yang selalu didengung-dengungkan dengan semangat oleh China. Poin utamanya adalah daya tawar kekuatan ekonomi. Menurunnya kualitas AS dalam hal inovasi produk ditambah dengan semangatnya China mempromosikan Yuan sebagai alternatif mata uang global semakin mengemuka. Benarkah demikian?

Di satu sisi, pendekatan kebijakan luar negeri Obama yang ‘Dolkish’ (dolphinkish/kebalikan dari Hawkish) dinilai banyak pihak sebagai alasan mengapa Obama memilih pendekatan ramah-tamah dengan China. Di sisi lain, partai Demokrat terkenal lebih ‘strik’ dalam menekankan hak-hak asasi manusia seperti pemberlakuan embargo pasca terjadinya peristiwa Tiananmen. Tapi sekali lagi – kepentingan nasional AS selalu di atas segalanyai. Saat ini, AS memiliki banyak kepentingan dengan China: kepentingan agar investor China terus menanam investasinya di AS, kepentingan terkait perubahan iklim, dan sebagainya.

Interdependensi pun masih berlaku: China memiliki banyak kepentingan dengan AS. China antara lain berkepentingan agar ekonomi AS tetap kuat karena dengan demikian saham-saham AS yang banyak dimodali China tidak mengalami kejatuhan nilai, China juga berkepentingan agar stabilitas neraca perdagangan dengan AS dapat tetap terjaga di tengah terjangan resesi dunia. Dan masih banyak lagi kepentingan China di bidang-bidang lainnya.

Namun seperti yang dikatakan oleh International Herald Tribune – daya tawar pemerintah AS lebih lemah karena berbagai hal. Saat ini China menjadi penyokong dana terbesar baik bagi investasi AS maupun bagi dunia. Nilai devisa China tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Belum lagi dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan sumber daya energi yang terus menggurita di berbagai kawasan dunia. Maka dalam kunjungannya Obama lebih memilih pendekatan ‘nilai universal’ dan bukan melancarkan kecaman-kecaman.

Pada awal kunjungan resminya ke Shanghai pada 16 November 2009, misalnya, Obama memaparkan karakter universal dari hak asasi manusia di depan ratusan mahasiswa.

Obama mengatakan, “Kami tidak akan memaksakan sistem pemerintahan dan tata nilai kami untuk diterapkan di negara lainnya. Tapi saya tidak percaya, bahwa prinsip yang kami anut, hanya berlaku di negara kami. Kebebasan berpendapat dan beragama, akses terhadap informasi dan partisipasi politik, kami yakini sebagai hak universal. Hal ini harus berlaku bagi semua warga, termasuk kelompok etnis dan agama minoritas, apakah mereka berada di Amerika Serikat, China atau negara lainnya.“

Sangat lunak meski nilai yang sama dikemukakan Obama pada saat bertemu muka dengan presiden China, Hu Jintao. Kunjungan Obama ini bahkan mengundang kecaman sebagai kunjungan yang tidak menghasilkan perubahan dalam penegakan HAM. Tak hanya itu, Obama juga dipandang belum sukses dalam memproduksi ‘gebrakan’ dalam isu kerjasama dan pengembangan energi bersih.

Bagaimana respon China? Economist mencatat:

China handled the visit with ambivalence. It was keen to encourage Mr Obama’s friendly approach and his willingness to recognise China as a fellow great power. But it was also clearly nervous of a charismatic young president far better than China’s standoffish leaders at appealing to ordinary citizens (“voters”, as they are known in America).

Meski menghasilkan sebuah deklarasi bersama untuk membuka dialog dalam bidang luar angkasa, namun deklarasi ini lebih dipandang dipandang sebagai ketakutan AS terhadap kemajuan militer China. Demikian pula dengan rencana penyelenggaran dialog tentang HAM pada akhir bulan Februari 2010 yang tidak mendapat respon terlalu positif dari China.

Pernyataan-pernyataan Obama tentang nilai-nilai HAM yang dikemukakannya selama berada di China dilarang keras diliput oleh para reporter. Yang lebih mengenaskan, seorang pengacara hak asasi manusia veteran, Tianyong Jiang, justru ditahan secara tidak sah selama kunjungan Obama ke China dan berada di bawah ancaman atas usahanya untuk bertemu dengan Obama. 200 polisi dikerahkan dan menginterogasi Jiang dan seorang koleganya selama lebih dari satu jam dan mereka ditahan sampai Obama meninggalkan China.

Tak hanya itu, sebelum dan selama kunjungan Obama ke China, sejumlah umat Kristen gereja keluarga, para aktivis HAM, pengacara HAM dan praktisi Falun Gong telah ditangkap, ditahan dan dikirim ke penjara tanpa proses pengadilan. China juga menekan para pemimpin atau pemilik serikat pekerja serta memaksa mereka menandatangani jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan ‘tindakan apapun’ selama periode kunjungan Obama.

Akhirnya, Obama mungkin memang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengutarakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan yang disebutnya sebagai sesuatu yang ‘universal’. Obama juga memang telah mengatakan bahwa dirinya akan akan selalu “speak out” dalam merealisasikan prinsip-prinsip utamanya. Namun kepentingan nasional lagi-lagi sudah ditakdirkan menjadi garis utama kebijakan yang harus diambil tiap negara, tak terkecuali AS di bawah kepemimpinan Obama.

Daya tawar AS yang makin melemah (dan daya tawar China yang makin menguat), memaksa Obama mengatakan:  “more is to be gained when great powers co-operate than when they collide”.

Hey, this is a really great wall.” Yup!

November 26, 2009 Posted by sylvietanaga | About China, Economy, Environment | | No Comments Yet

Reaksi Cepat Clinton dan HUT ke-64 RI

Reaksi cepat, seperti yang didengungkan oleh salah satu pasangan capres-wapres Pemilu 2009 dalam beberapa konteks memang dibutuhkan. Setelahnya, reaksi tepat pun harus segera menyusul. Sesaat setelah terjadinya pengeboman di hotel JW Mariott dan The Ritz Carlton, para tamu hotel yang selamat bergegas menolong korban luka parah. Hotel-hotel lainnya bergegas menerjunkan anjing-anjing pelacak untuk menyisir basement. Kepala daerah di seluruh pelosok bergegas menerjunkan aparat guna melakukan pengamanan dan pemeriksaan.

Reaksi cepat ini, sayangnya, masih dilakukan sebagai upaya kuratif, bukan strategi awal. Ketika intelijen menemukan sepercik informasi, reaksi cepat tak muncul meski keselamatan penduduk menjadi taruhan. Reaksi yang sama muncul tatkala ribuan TKI dan anak-anaknya menggumuli nasib di tanah seberang, ketika keluarga David Hartanto Widjaja yang berbaju batik saat menghadiri sidang mati-matian berjuang membersihkan nama baik anaknya, ketika masyarakat Porong berteriak menuntut ganti rugi yang tak kunjung tuntas.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Samuel Mulia dalam kolom tentang orang ‘VVIP’ dan non ‘VVIP’ (Kompas Minggu, 9 Agustus 2009), reaksi cepat ironisnya baru muncul manakala yang terlibat adalah orang yang dipandang VVIP. Reaksi cepat muncul saat Meutia Hafid dan Boediono disandera kaum ekstremis Irak. Itu baik. Reaksi cepat datang saat tentara Israel melakukan agresi ke tanah Palestina. Itu juga sangat baik. Namun reaksi cepat juga hendaknya tidak mengenal agama maupun ras, atau perbedaan apapun juga.

Reaksi cepat Clinton saat membebaskan dua jurnalis AS di Korea Utara beberapa waktu silam dapat menjadi salah satu contoh yang baik. Dua orang yang berhasil dibawa pulang Clinton jelas bermata sipit dengan darah dan nama Asia, Laura Ling dan Euna Lee. Meski tak mengakui bahwa keberhasilan pembebasan tersebut adalah buah pekerjaan tangan pemerintah, beberapa analis yakin bahwa Departemen Luar Negeri dan Utusan Korea Utara terlibat dalam negosiasi intensif. Apalagi Kim Jong Ill terkenal sebagai sosok yang sangat sulit ditemui, termasuk oleh para utusan PBB.

Barack Obama dalam wawancaranya dengan MSNBC pun mengatakan bahwa upaya ini adalah jejak menuju hubungan yang lebih baik, meski Korea Utara tetap wajib patuh terhadap hukum internasional. Dengan kata lain, upaya pembebasan ini bukan semata-mata dipandang sebagai reaksi cepat yang emosional namun juga sebuah reaksi cepat yang bijak (tepat, menurut salah seorang capres) dan bersifat jangka panjang, bukan lagi reaksi kuratif.

Kembali pada tanah air, banyak sekali reaksi yang terlampau lambat atau reaksi yang cepat namun keblinger. Kita lambat sekali bereaksi terhadap gundulnya hutan-hutan, pencemaran lingkungan, dan korupsi. Namun cepat sekali kita bereaksi terhadap kemajuan jenis handphone dan blackberry. Aparat penegak hukum begitu lambat beraksi terhadap korupsi internal namun begitu cepat menanggapi dugaan korupsi eksternal.  Politikus bereaksi begitu cepat menanggapi lirik lagu Slank namun bereaksi sebaliknya ketika mengemban tugas-tugas memberantas kemiskinan dan menghapus buta aksara.

Melirik pada sejarah, reaksi cepat jualah yang turut menentukkan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 64 tahun silam. Reaksi cepat Soekarni, Chaerul Saleh dan para pemuda dalam memutuskan kemerdekaan RI bersinggungan dengan reaksi tenang dan penuh perhitungan dari Soekarno dan tokoh lain. Tapi toh, kemerdekaan RI berhasil diproklamirkan dengan sukses. Reaksi cepat terbukti bisa sejalan dengan reaksi bijak. Keduanya tetap dibutuhkan dan terbukti sangat berpengaruh. Hal yang sama juga diperlukan hingga saat ini.

Reaksi cepat negara dibutuhkan dalam berbagai konteks: reaksi cepat dalam memaafkan, reaksi cepat dalam membangun, reaksi cepat dalam menanggapi ketidakadilan, dan masih banyak lagi. Masih berkaca dengan peristiwa Bill Clinton membebaskan dua jurnalis AS, ada reaksi cepat antar presiden dan wakil presiden, reaksi cepat antar presiden, antar diplomat dan pemerintah, dan seterusnya. Tidak ada kata ‘tunggu dulu’ demi kepentingan nasional. Kita tentu berharap reaksi cepat partai politik saat ini benar-benar untuk kepentingan bangsa.

Jadi apa kaitan antara reaksi cepat (dan bijak) dengan kemerdekaan Indonesia? Reaksi cepat dan bijak adalah kunci menuju kemerdekaan. Sejarah telah membuktikannya. Lebih cepat kita memaafkan, lebih cepat kita merdeka. Lebih cepat bangkit dari kelemahan, lebih cepat Indonesia mengayuh kejayaannya. Dan lebih cepat kita beringsut dari rasa bangga akan kultur ”jam karet”  ala Indonesia, lebih cepat pula kita memutuskan bereaksi cepat. Starting to be on time from yourselves then you can push your government to be faster than you.

August 17, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Strategic Economic Dialogue: Dialog ‘Win-Win’ China-AS

Let’s be honest… some in China think that America will try to contain China’s ambitions; some in America that think there is something to fear in a rising China.

I take a different view

Barack Obama, U.S President in Opens Policy Talks With China – July 27, 2009

Cukup banyak kesepakatan yang dikemukakan dalam Strategic Economic Dialogue (SED) China-AS yang digelar 27-29 Juli 2009. China maupun AS sepakat bahwa penguatan kerjasama bilateral dalam berbagai bidang, harus terus berlanjut. Pasalnya, kerjasama dua negara superpower ini turut menentukkan struktur geopolitik-ekonomi dunia dewasa ini. Seperti pendahulunya, Barack Obama pun mengambil kesempatan menyambangi negeri Panda ini guna berbincang secara langsung dengan China.

SED kali ini sudah menunjukkan perkembangan dari SED-SED sebelumnya. SED diresmikan pertama kali pada 29 September 2006 oleh presiden Bush dan presiden Hu Jintao yang sepakat untuk mendiskusikan isu-isu ekonomi dalam “tingkat tertinggi pemerintahan”. Bagi China, SED bermanfaat untuk menciptakan mekanisme koordinasi makroekonomi jangka panjang dan perdagangan bilateral dengan AS. Bagi AS, SED menjadi wadah potensial untuk mendorong China mengimplementasikan kebijakan pasar terbukanya secara penuh, termasuk soal kebijakan mata uang Yuan.

Perbincangan pada SED-SED sebelumnya lebih bertumpu pada isu makroekonomi, perdagangan, dan lingkungan. Dalam SED pertama yang diselenggarakan pada 14-15 Desember 2009, misalnya, topik pembahasan meliputi: kebijakan makroekonomi, inovasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual, energi dan lingkungan, serta layanan jasa dan investasi. SED 2007 juga menghasilkan beberapa Memorandum of Understanding (MoU) seperti  MoU manajemen lingkungan hidup, MoU keamanan produk ekspor, MoU promosi turisme bilateral, dan MoU kerjasama perdagangan. Hal yang kurang lebih sama menjadi agenda pembahasan dalam SED tahun 2008.

Seiring terjadinya dua peristiwa besar: pergantian tampuk kepemimpinan di AS dan krisis keuangan global 2008-2009, SED 2009 dipaksa beradaptasi dengan berbagai isu baru di samping isu lama seperti besarnya selisih neraca perdagangan kedua negara dan lingkungan hidup. Untuk itu, dialog yang juga disebut sebagai ‘strategic track’ dan ‘economic track’ ini memperluas cakupan isu pembahasan dan memperdalam pembicaraan isu-isu lama. Topik utama pembahasan SED 2009 adalah hubungan China-AS dalam berbagai bidang, kerjasama ekonomi dan keuangan, kerjasama dalam isu-isu global, serta kerjasama dalam isu-isu regional dan internasional.

Terkait hubungan China-AS, kedua negara sepakat bahwa hubungan yang bersifat saling menguntungkan antar kedua negara harus terus dikembangkan dalam berbagai bidang: ekonomi, militer, sosial-budaya, dll.

Terkait kerjasama ekonomi dan keuangan, ada empat kesepakatan yang berhasil dicapai. Pertama, AS dan China akan terus mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berkelanjutan guna memulihkan kondisi ekonomi dunia. Kedua, dua negara akan bekerjasama membangun sistem keuangan dan meningkatkan peraturan keuangan dan pengawasan. Ketiga, dua negara berkomitmen untuk membuka pintu lebar-lebar bagi perdagangan dan melawan proteksionisme. Terakhir, dua negara sepakat bekerjasama dalam reformasi dan penguatan lembaga keuangan internasional untuk meningkatkan peran negara-negara berkembang, termasuk China.

Terkait kerjasama dalam isu-isu global, isu lingkungan dan energi kembali menjadi topik pembahasan hangat. Kedua negara ini sama-sama tercatat sebagai pengonsumsi energi terbesar dan penghasil karbondioksida tertinggi di dunia. Dalam dialog ini, kedua negara menandatangani MoU kerjasama bilateral energi, perubahan iklim, dan lingkungan. Seperti yang dikatakan oleh Menlu AS, Hillary Clinton, kerjasama ini menjadi kerangka dalam membangun ekonomi yang ramah lingkungan. Kedua belah pihak juga sepakat terhadap pentingnya Framework for Ten Year Cooperation on Energy and Environment dalam memfasilitasi kerjasama energi dan lingkungan.

Perbincangan juga memuat berbagai terkait isu-isu regional dan internasional. Isu-isu yang mengemuka antara lain adalah stabilitas di kawasan Semenanjung Korea, serta stabilisasi keamanan di kawasan Timur-Tengah dan Sudan. China dan AS juga menyatakan sikap oposisinya terhadap aksi-aksi terorisme dan mendiskusikan rencana Nuclear Nonproliferation Treaty (NPT) Review Conference and the Conference on Disarmament (CD) yang akan diselenggarakan pada tahun 2010.

Yang menjadi catatan penting dalam SED 2009 adalah dialog ini berlangsung di tengah merebaknya kasus Xinjiang dan menjulangnya defisit ekonomi AS. Tak heran jika kedua negara maupun dunia, sama-sama mengarahkan fokus utamanya pada pertemuan kali ini. Kerjasama China dan AS dalam aneka bidang ini jelas tak hanya berpengaruh pada hubungan bilateral namun juga berdampak pada komunitas internasional. Menariknya, berbagai pihak di China berharap pembahasan ekonomi lebih ditekankan daripada isu strategis seperti Xinjiang. Nyatanya, isu yang potensial memancing perdebatan ini memang tidak terlalu bergaung dalam pembahasan SED.

Isu lain yang mendapat sorotan utama masih mengenai besarnya defisit perdagangan AS terhadap China yang antara lain disebabkan oleh terlampau melonjaknya ekspor China ke AS, nilai mata uang Yuan yang tidak fleksibel dan tingginya angka konsumsi AS berbanding dengan tabungannya. Untuk itu AS mengulangi permintaannya pada China untuk membuka pasar uangnya, melepaskan diri dari ketergantungan ekspor, dan meningkatkan permintaan dalam negerinya. Sebaliknya, China sempat menyindir konsumsi AS yang sangat besar yang melebihi tabungannya.

Sebagai pendukung dari kerjasama antar aktor negara seperti dalam Joint Economic Commisions, Joint Commission on Commerce and Trade, dan Strategic Economic Dialogue, kerjasama antar aktor non-negara rasanya juga perlu terus dikembangkan. The US-China Business Council (USBC) yang beranggotakan pebisnis China dan AS dan The National Committee on United State-China Relations (NCUSCR) yang beranggotakan masyarakat China dan AS merupakan contoh kerjasama antar aktor non-negara yang sangat positif bagi kedua negara maupun bagi dunia.

Komunitas internasional tentu berharap kerjasama ini dapat terimplementasi tak hanya sebatas penguatan hubungan bilateral namun juga sebagai simbol keterpaduan dua negara terbesar dunia dalam menghadapi aneka tantangan global. Bagaimanapun juga, kedua negara ini saling bergantung. Kedua negara juga berperan penting dalam berbagai isu internasional seperti yang dikemukakan Menkeu AS, Timothy Geithner dan Menlu AS, Clinton: “Ada masalah global yang hanya bisa diselesaikan oleh AS dan China. Sedikit yang dapat diselesaikan tanpa AS dan China bersama-sama”.

August 1, 2009 Posted by sylvietanaga | About China, Economy | | 1 Comment