Pentingnya Bahasa Mandarin di Era Pasar Global

CHINESE_LANGUAGE_INTERPRETER_MUMBAI_Services


By: Sylvie Tanaga

Pesatnya perekonomian Cina ditambah dengan besarnya jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 1,3 miliar jiwa membuat berbagai industri raksaksa dunia berlomba-lomba membenamkan investasinya di sana. Oleh karena itu, prasyarat penting yang harus dipenuhi oleh seorang investor guna membangun kepercayaan publik lokal adalah kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin.

Alhasil, Bahasa Mandarin kini menjadi bahasa Internasional kedua setelah Bahasa Inggris. Bahasa Mandarin digunakan oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia dan penguasaan terhadap Bahasa Mandarin sering diidentikan dengan makin cerahnya prospek karir seseorang terutama bagi mereka yang hendak terjun dalam dunia bisnis

PENTINGNYA BAHASA MANDARIN
Mengulas mengenai semakin pentingnya bahasa Mandarin, suka tidak suka sangat terkait dengan kebangkitan China yang sangat drastis mulai tahun 1990an. Tak bosan-bosannya kita mendengar tentang kebangkitan China yang dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan terutama dalam hal pertumbuhan ekonominya yang rata-rata mencapai nilai di atas 9% per tahun. Pada tahun 2007 saja China tercatat mengalami peningkatan surplus perdagangan sebesar 48% hingga mencapai 232,2 milyar dollar.

Belum lagi kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologinya yang juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan seiring dengan laju pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi. Negara dengan jumlah penduduk 1.321.851.888 (est. July 2007) ini praktis menjadi magnet bagi para investor asing yang ingin mencoba mengembangkan bisnisnya di Asia.

Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah investasi asing langsung (foreign direct investment) pada kuarter pertama tahun 2007 yang mengalami kenaikan 4,4% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2006 yaitu dari 14.2 milyar dollar pada kuarter pertama tahun 2006 menjadi 15,9 milyar dollar pada kuarter pertama tahun 2007. Dari jumlah tersebut, AS tercatat sebagai sumber FDI kelima terbesar bagi China setelah Hongkong, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.

Bahasa Mandarin sebagai bahasa mayoritas di China (putonghua yang merupakan dialek asal Beijing) di samping bahasa-bahasa daerah lainnya secara tidak langsung mengalami ‘kenaikan pamor’ sebagai bahasa pengantar internasional utama di samping bahasa Inggris. Untuk dapat berinvestasi di China, penguasaan bahasa Mandarin menjadi amat penting karena kelancaran bisnis berawal dari kelancaran berkomunikasi.

Kunci utama dalam dunia usaha adalah kepercayaan dan kepercayaan itu akan tumbuh dengan lebih mudah dan cepat jika syarat kesamaan bahasa sudah dipenuhi. Tim Clissold, salah seorang pendiri kelompok pemodal swasta yang menanamkan investasi di China, dalam novel akademisnya yang berjudul Mr.China, menuturkan pentingnya penguasaan bahasa Mandarin bagi siapapun yang berminat berinvestasi di China sebagai modal dasar tumbuhnya kepercayaan dari pejabat dan pengusaha lokal (China).

Mengapa demikian?

Clissold mencatat bahwa bahasa mandarin bagi orang China di seluruh penjuru dunia adalah pusat dari perasaan “kechinaan” sementara huruf-huruf China adalah pusat bahasa itu. Dengan demikian, China akan lebih respek dan menaruh kepercayaannya dengan seorang investor asing yang mampu menjalin komunikasi dengan bahasa Mandarin yang baik yang kemudian akan berlanjut dengan pembicaraan-pembicaraan yang lebih hangat sehingga jelas bahwa bahasa mandarin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari China.

Bahasa Mandarin juga digunakan oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia sehingga mempelajari bahasa ini akan memungkinkan kita berkomunikasi lancar dengan seperlima populasi dunia. Sekitar 30 juta orang asing (non China) kini tercatat tengah mempelajari bahasa Mandarin dan pemerintah China sendiri memperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 100 juta orang pada tahun 2010.

Dengan demikian, terlepas dari persoalan bisnis, bahasa Mandarin sangat penting untuk dipelajari bagi siapapun seperti halnya mempelajari bahasa Inggris. Simak saja cerita-cerita singkat di bawah ini.

Stella, lulusan jurusan marketing Royal Melbourne Institute of Technology, Australia tentu saja sudah mahir berbahasa Inggris beraksen negara kanguru. Menyadari bahwa China sudah menjadi negara yang kuat dalam bisnis di belahan negara mana pun, Stella memutuskan belajar bahasa Mandarin.

“Tadinya saya ingin kursus di Indonesia saja, negara saya sendiri. Namun saya khawatir, saya tidak terpacu. Jika saya belajar di negara yang memang menggunakan bahasa tersebut, mau tidak mau saya harus menggunakannya,” kata Stella yang memutuskan belajar di Beijing. Pulang ke Indonesia dengan bekal ilmu marketing, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin, Stella bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai personal financial advicer. Bahasa Mandarinnya benar-benar dibutuhkan dalam berhubungan dengan kliennya.

Tak lama Stella bekerja di perusahaan itu, ia memutuskan masuk bisnis keluarganya. Di Bandung ia membidani restoran China berlabel halal. Lagi-lagi bahasa asing keduanya menolongnya. Pelanggannya banyak dari bangsa Tionghoa. Ia tak kesulitan berkomunikasi jika pelanggannya ingin mengakrabkan diri dengannya.

Selain Stella, ada juga Winda yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan tekstil. Hubungan dagang ke luar negeri selama ini memang lancar dengan menggunakan bahasa Inggris. Namun ketika kontrak dagang dilakukan dengan Cina, Winda “naik daun”.

Winda pernah mengambil kursus bahasa Mandarin sebelum masuk perusahaan tekstil ini. Dokumen-dokumen berbahasa Mandarin menjadi “santapan”-nya. Nilainya bertambah di mata sang bos. Ujung-ujungnya ia mendapat insentif dan kenaikan gaji permanen sebagai reward atas prestasinya.

Pentingnya mempelajari bahasa Mandarin juga disadari oleh orang-orang non Asia seperti orang AS dan Eropa. Pada tahun 2005, presiden Bush bahkan memberikan dana sebesar 114 juta dollar pada sekolah-sekolah untuk mendorong peningkatan studi bahasa Mandarin, Arab, Rusia, dan bahasa asing lainnya agar bahasa-bahasa tersebut dapat dipelajari sedini mungkin oleh para pelajar AS. Sepuluh orang guru bahasa Mandarin direkrut pada urutan pertama.

Di AS sendiri, memang nampak peningkatan minat pada bahasa Mandarin. “Orang-orang pada akhirnya mulai memberikan perhatiannya pada bahasa Mandarin sebagai prospek utama dari budaya dan ekonomi” kata Michael H. Lebine, direktur eksekutif Pendidikan untuk Masyarakat Asia. Sekalipun demikian, pemerintah China tetap gencar mempromosikan bahasa Mandarin.

Hanban atau Kantor Nasional untuk Pengajaran Bahasa Mandarin sebagai Bahasa Asing yang didanai oleh pemerintah China, kini bekerja sama dengan National Association of Independent Schools, perwakilan dari sekolah-sekolah swasta AS untuk mengirimkan sembilan anggota delegasinya ke China.

Di Inggris, lebih dari 400 sekolah menengah mempelajari bahasa Mandarin sebagai buah kesuksesan dari sebuah badan di Inggris yang bernama Specialist Schools and Academies Trust dalam melobi bahasa Mandarin agar masuk dalam kurikulum nasional.

Berdasarkan data dari Forum Internasional Bahasa Mandarin di Shanghai disebutkan bahwa kini ada lebih dari 2.027 universitas dari 85 negara di seluruh dunia yang menawarkan kursus bahasa Mandarin. Peningkatan penawaran ini terutama dipicu oleh keberhasilan China dalam mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade dan keberhasilan dalam masuknya Cina menjadi anggota WTO.

Data statistik dari forum yang sama juga menyebutkan bahwa ada sekitar 25 juta orang yang berminat mempelajari Bahasa Mandarin dan 60.000 orang di antaranya datang ke China khusus untuk mempelajari Bahasa Mandarin secara lebih baik.

Yan Meihua, ketua kelompok studi Bahasa Mandarin bagi para penstudi Bahasa Mandarin dari seluruh dunia yang juga memimpin forum ini mengatakan bahwa kelompoknya akan menggunakan beraneka ragam cara untuk meningkatkan standar dari pelajaran Bahasa Mandarin di beberapa negara anggota.

Dalam beberapa tahun mendatang, kelompok ini akan menerbitkan buku-buku berbahasa Mandarin yang dipadukan dengan bahasa lainnya seperti Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan Korea. Mereka bahkan berencana untuk membangun pusat pelatihan Bahasa Mandarin di berbagai negara yang menawarkan sumber daya pengajar-pengajar Bahasa Mandarin.

Yang sangat menarik adalah fakta bahwa pelajaran Bahasa Mandarin juga semakin terkenal dan mengalami peningkatan di benua Afrika beberapa tahun ini. Berdasarkan data dari Kantor Lembaga Bahasa Mandarin Internasional, Cina telah mengutus delegasi guru-guru Bahasa Mandarin yang bertugas di 11 negara di Afrika.

Mayoritas mereka yang telah memiliki pengalaman mengajar Bahasa Mandarin di Afrika percaya bahwa Bahasa Mandarin akan lebih terjamin setelah diselenggarakannya ‘Beijing Summit’`dan konferensi ke-3 para menteri dalam Forum Kerjasama China-Afrika (Forum on China- Africa Cooperation/FOCAC).

Hasil-hasil dari forum tersebut antara lain adalah pembukaan lembaga konfusianisme yang memiliki program Bahasa Mandarin pertama di Afrika di Kenya’s Egerton University, Kenya, pembukaan kursus pelatihan Bahasa Mandarin bagi masyarakat umum di Mauritania, dan pelatihan guru-guru Bahasa Mandarin lokal di Tunisia. Menteri Pendidikan Mesir bahkan menyatakan bahasa Mandarin sebagai bahasa asing terpopuler kedua di tingkat SMA di Mesir.

Tidak hanya bagi AS dan Eropa, bahasa Mandarin juga menjadi perhatian yang semakin mendalam bagi negara-negara Asia sendiri terutama terkait dengan hubungan China dengan negara-negara anggota ASEAN yang semakin erat dalam bidang ekonomi, perdagangan, kebudayaan, pariwisata, dan lain-lain.

Di negara-negara Asia Tenggara, terdapat sekitar enam ratus ribu orang penstudi bahasa Mandarin dengan 102 universitas dan 2.500 sekolah dasar dan sekolah menengah yang telah menawarkan jurusan bahasa Mandarin dan kelas bahasa Mandarin.

Di Indonesia sendiri, perlahan tapi pasti jumlah peminat untuk mempelajari Mandarin pun meningkat. Kini belajar bahasa Mandarin menjadi tren baru di kota-kota besar di Indonesia selepas tumbangnya Orde Baru. Penguasaan bahasa Mandarin bukan sekadar euforia orang Tionghoa, tetapi menjadi salah satu sarana memperkaya kemampuan intelektual terutama menyikapi perkembangan pesat ekonomi Tiongkok dan globalisasi.

Kini terdapat sekitar 3.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di China di mana 90% di antaranya mempelajari bahasa Mandarin. Dari segi kuantitas, Indonesia berada di urutan kelima negara yang memiliki siswa terbanyak di China. Empat negara di atasnya adalah Korea Selatan, Jepang, Vietnam, dan AS.

Era globalisasi telah membuat masyarakat semakin sadar pentingnya mempelajari bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin. Kemampuan bahasa asing dijadikan sebagai suatu persiapan demi meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia kerja. Kesadaran itu membuat banyak orang Indonesia tertarik kuliah di China. Apalagi, bahasa Mandarin sekarang telah menjadi bahasa internasional kedua setelah Bahasa Inggris.

Kesadaran akan pentingnya bahasa Mandarin ini pulalah yang mendorong beberapa institusi pendidikan mulai memasukkan bahasa ini dalam kurikulumnya. ”Pada era global sekarang ini, bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa internasional dan sangat penting, karena digunakan hampir semua bidang.

Tak hanya pendidikan, tetapi terutama ekonomi dan industri,” papar Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Nasional (YPPN) Budya Wacana, dokter Gideon Hartono. Begitu melihat perkembangan China yang ternyata mampu memengaruhi ekonomi dunia, dia lantas mengambil langkah memberikan materi bahasa Mandarin di Sekolah Budya Wacana, mulai dari kelompok bermain, TK, SD, SMP sampai SMA.

Semua mendapat pelajaran bahasa Mandarin.

”Bahasa Mandarin bukan hanya sebagai ekstra, melainkan wajib bagi peserta didik. Setiap minggu mereka mendapatkan tiga jam pelajaran dan akan terus ditingkatkan seperti bahasa Inggris menjadi setiap hari,” urai Gideon. ‘

“Kalau kita tidak ingin ketinggalan dengan negara lain, sudah saatnya bahasa Mandarin diajarkan sejak dini selain teknologi komunikasi dan informasi,” tandas Ketua Paguyuban Bhakti Putera, sebuah wadah lulusan sekolah berbahasa Mandarin yang bersedia memberikan bantuan pada para guru agar lebih mumpuni berbahasa Mandarin, Jimmy Sutanto.

SULITNYA BELAJAR BAHASA MANDARIN
Istilah “Mandarin” dipergunakan oleh orang Barat sejak Dinasti Qing (1644-1911) yang artinya adalah bahasa kantor dengan dialek Peking sebagai dasar yang dipergunakan oleh para pembesar kerajaan Qing. Di Tiongkok atau di China, bahasa Mandarin lebih populer dengan istilah bahasa Han (Hànyu) yaitu bahasa pemersatu etnis Han yang merupakan 94% populasi Tiongkok.

Karena merupakan bahasa nasional, maka di China disebut juga dengan Putonghua (yang artinya bahasa umum) dan di Taiwan dengan sebutan Guoyu (yang artinya bahasa nasional). Sedangkan etnis Tionghoa di luar China lebih populer dengan istilah Huayu. Bahasa Mandarin yang bersumber dari piktogram ini, memang tergolong dalam bahasa yang sulit untuk dipelajari.

Tidak ada cara alternatif lain yang dapat ditempuh untuk mempelajari huruf-huruf Mandarin kecuali menghafal. Cara yang sama harus dilakukan oleh anak-anak China, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis huruf yang sama terus-menerus sampai melekat.

Bagi seorang penutur bahasa Inggris yang belajar bahasa Prancis, ada beberapa bantuan. Police menjadi police, garden menjadi jardin. Namun, orang asing tidak punya panduan seperti itu dalam bahasa Mandarin. Polisi adalah jingcha, kebun menjadi huayuan. Tidak hanya jingcha dan huayuan, untuk setiap kata, Anda harus belajar tiga komponen: bunyi, huruf, dan nada.

Dalam bahasa Mandarin, pola titi nada setiap kata mempengaruhi artinya.

Mai, misalnya, dengan nada menurun berarti “menjual”. Namun mai dengan awal menurun rendah dan disusul nada meninggi justru berarti sebaliknya, “membeli”. Bahkan orang China pun merasa kebingungan. Di Bursa Efek Shanghai, para pialang menggunakan istilah popular untuk perintah membeli dan menjual.

Banyak kata berbunyi sama persis atau kedengaran senada. Seringkali orang China harus berbuat apa saja untuk menentukkan sebuah huruf yang keluar dari konteks.

Misalnya, normal bagi beberapa orang untuk memperkenalkan diri mereka dengan “Halo, aku Wakil Kepala Seksi Li. Li dengan tanda pohon di bagian atas dan benih di bagian bawah” atau “Halo, aku Madam Wang. Wang yang digunakan dalam “laut tanpa batas” bukan yang berarti “raja”.

Tanpa penjelasan lebih lanjut, sebuah huruf yang konteksnya kurang jelas seringkali tidak mungkin dikenali dengan pasti jika seseorang hanya mengandalkan pada bunyinya.

Sebagai hasilnya, orang China sering harus member penjelasan panjang untuk menyampaikan secara akurat arti yang mungkin cukup jelas dalam bahasa Inggris. Tidak heran apabila banyak sekali orang asing dari Barat yang kemudian “menyerah” mempelajari bahasa Mandarin, pulang ke rumah, dan melupakan apa yang telah mereka pelajari.

“Semua orang asing yang belajar bahasa Mandarin merasa tidak puas. Mereka merasa tidak bisa secepat dan semudah yang dibayangkan,” ujar Peter Kupfer dari Mainz, Jerman. “Semua murid saya merasa sudah sangat keras menghafalkan empat nada dan empat shengyu. Tapi, mereka merasa hanya memperoleh kemajuan sangat sedikit,” tambah Kupfer, sebagaimana ditulis China Daily.

Karena itu, mayoritas berhenti di tengah jalan. Ada data bahwa 95% peserta kursus bahasa Mandarin oleh mereka yang tidak berdarah Tionghoa mengalami drop-out.

Memang sudah ada pembaruan selama 20 tahun terakhir. Misalnya, huruf yang terlalu rumit disederhanakan. Jumlah goresan dikurangi. Juga telah ditemukan standar penulisan bunyi bahasa Mandarin dalam huruf Latin yang disebut hanyu pinyin. Semua orang China yang berusia 30 tahun ke bawah mengerti bagaimana menuliskan bunyi bahasa Mandarin dalam huruf Latin.

Namun tetap saja pengucapan bunyi dan pengalunan nada harus benar. Sebab huruf Mandarin yang berbunyi zhong berjumlah 17 buah. Yang diucapkan zhong ada 11 buah. Bahkan, yang berbunyi si ada 144 buah. Tentu, harus hafal si mana yang dimaksudkan.

“Sambil mendengarkan guru, murid ternyata terus berpikir apa yang dia mengerti,” ujar Zhou Xuan dari Nanjing University. “Belajar bahasa Barat, murid langsung bisa menghubungkan otak dengan lisan. Belajar bahasa Mandarin, otak harus berhubungan ke dua jurusan yang berbeda sekaligus: bunyi dan arti,” tambahnya.

“Itulah sebabnya anak yang sejak kecil belajar bahasa Mandarin IQ-nya naik antara 15 sampai 20 %.” Itu ketekunan dan kesabaran yang tinggi sangat dibutuhkan.

Untuk mendorong perkembangan pengajaran Bahasa Mandarin, dan penyebaran kebudayaan bahasa Mandarin di seluruh dunia, Tim Pimpinan China untuk Pengajaran Bahasa Mandarin menyelenggarakan Kongres Bahasa Mandarin Sedunia yang dihadiri oleh pemimpin China, menteri pendidikan berbagai negara, pengambil kebijakan pengajaran Bahasa Mandarin, rektor universitas terkenal di seluruh dunia, sinologis terkenal, dan pengajar Bahasa Mandarin pada tanggal 20 sampai 22 Juli 2005 di Beijing.

Salah satu pembahasan dalam kongres tersebut adalah “mencari metode pengajaran bahasa Mandarin yang tepat”.

Selama ini, sebagaimana terungkap dalam kongres itu, orang asing yang ingin belajar bahasa Mandarin mengalami kesulitan yang luar biasa. “Lihatlah metode modern belajar bahasa Mandarin ini. Isinya terlalu tradisional,” ujar Zhu Yongshen, dekan di Fudan University. Tapi, Zhu sendiri belum tahu metode modern bagaimana yang benar-benar modern.

Terakhir, bahasa Mandarin juga memiliki standar ujian bertaraf internasional yang dinamakan Hanyu Shuiping Kaoshi atau HSK, sejenis dengan toefl untuk bahasa Inggris. Ujian ini ditujukan bagi penstudi bahasa Mandarin dari luar China yang ingin mendaftarkan diri untuk belajar di universitas di China.

Meskipun tergolong sulit, namun bahasa Mandarin tidak pernah sepi peminat karena bagaimanapun juga, bahasa Mandarin menunjukkan perannya yang semakin penting dalam kancah internasional. Siapapun yang menguasai bahasa Mandarin, maka peluang baginya akan semakin terbuka lebar apalagi di era pasar bebas seperti sekarang ini.

Tengok saja Perdana Menteri Australia yang baru, Kevin Rudd yang fasih berbahasa Mandarin. Dengan kemampuan linguistiknya ini, Kevin Rudd diharapkan dapat mempererat hubungan Australia dengan China. Dengan kata lain, bahasa Mandarin tidak saja penting bagi keperluan bisnis namun juga sangat penting bagi keperluan politik internasional.

Sumber gambar: http://www.qrbiz.com

Comments
14 Responses to “Pentingnya Bahasa Mandarin di Era Pasar Global”
  1. Pentingnya dan Sulitnya berbahasa Manarin ternyata bukan hanya monopoli siswa siswa saja. Ketika anaknya ulangan Bahasa Mandarin maka yg repot justru orang tuanya, maklum mereka juga tidak tahu apa apa atau tahu sedikit saja tentang Bahasa Mandarin. mengingat Penting dan Sulit itulah saya mengusulkan agar Guru Mandarin itu lebih kreatif, buatlah sesuatu yang Fun, contoh bahasa Inggris bisa dibuat Fun. Sehingga anak lebih mudah menyerapnya. Sudah GURUNYA GALAK, pelajarannya SULIT, matilah sudah !! Ada baiknya guru2 mandarin tidak membawa budaya disiplin ketat seperti kerajaan tiongkok, penuh kekerasan dan penghukuman bagi siswa. Semoga yang PENTING dan SULIT itu menjadi INDAH dan MUDAH, bukan begitu. Xie Xie ,,,,

  2. Ah, betul sekali!! Ide bagus, memang pelajaran sulit yang dikemas dalam wajah fun akan lebih mudah menarik minat anak-anak meskipun di benak saya sudah terbayang bahwa membuat bahasa mandarin menjadi fun bukan perkara mudah. Tapi memang lebih baik dibuat fun, misalnya dengan cerita bergambar atau kartun, tergantung kreativitas sang guru. Kecenderungan guru bahasa mandarin lokal memang lebih memilih pola konvensional (sejauh yang saya amati). Itu sebabnya banyak yang tidak terlalu tertarik mempelajari bahasa tersulit di dunia ini. Ya, mudah-mudahan saja ide-ide kreativitas yang segar bisa muncul. Amin.

  3. efie says:

    saya baru saja membaca rubrik ini, saat ini saya berusia 30 thn, belum bisa sama sekali berbahasa mandarin baik lisan atau tulisan, tapi saya ingin sekali mempelajarinya, bagaimana menurut saudara/i, apakah saya mampu ????

    • Andre Liang says:

      Saya berkata Anda Pasti Mampu…selama Anda masih punya KEINGINAN&mau BAYAR HARGA…kebetulan sy juga Trainer Bahasa Mandarin.

      • Yohan says:

        masih jadi trainer Bahasa Mandarin Pak? saya sedang mau belajar nih, tapi bisanya setelah pulang kantor dan lokasi di Jakarta Selatan. Ada rekomendasi?

  4. Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari segala sesuatu…
    ^_^ Kalo mantap dan memang pengen banget bisa pasti Efie bisa! Kuncinya jangan cepat bosen dan mudah menyerah karena terus terang beberapa orang banyak yang hanya belajar sebentar karena merasa nggak mampu atau nggak kuat. Sabar dan tetep tekun krn mandarin adalah bahasa tersulit di dunia. Kalo udah bisa (minimal untuk berbicara bahasa sehari-hari), Efie akan merasakan sendiri besarnya manfaat yang bakal diperoleh… Jadi, kenapa mesti ragu? Ambil kesempatan untuk belajar mandarin sekarang juga dan jangan mudah putus asa kalo menemukan kesulitan2/kebosanan. Jia You! ^_^

  5. chikiyong says:

    Bahasa Mandarin memang sulit tapi perlu. Saya pada usia 45 tahun baru mulai belajar bahasa mandarin. 175 negara telah mempelajari Bahasa Mandarin. Kalau kita tidak ikutan segera maka kita akan ketinggalan. Bagi yang beragama Islam malah sudah sejak jaman Nabi Muhammad diperintahkan untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri China. Bagi anda yang malu belajar karena usianya sudah tua…bisa belajar dengan menggunakan alat bantu seperti yang dibuat oleh http://www.bider.com. Silakan mencoba-nya.

  6. Sip. Terma kasih atas tambahan informasinya.

  7. Sip. Terima kasih atas tambahan informasinya.

  8. risvico says:

    belajar bahasa adalah sangat menyenangkan

  9. Meazza says:

    saya sendiri sebagai guru mandarin yang memperoleh pendidikan di China, merasakan kesulitan mengajaar justru karena segala keterbatasan di Indonesia. Kita jauh ketinggalan dibanding Jepang, Korea, Thailand dan Amerika di bidang penelitian ilmiah yang berkaitan dengan metode pembelajaran bahasa Mandarin. Selama ini, metode pembelajaran dan buku2 yang kita pakai semuanya adaptasi dari metode pembelajaran bahasa Inggris yang pada prakteknya beda dan sulit diterapkan dalam bahasa mandarin. Kurangnya hasil penelitian di bidang ini menunjukkan kalau pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia masih jalan di tempat. Harusnya para mahasiswa s1 dan s2 jurusan mandarin lebih giat lagi dalam menulis penelitian ilmiah berupa jurnal di bidang pembelajaran mandarin. Ini tidak, setiap kali kita mau menulis jurnal, begitu mau cari referensi ttg mandarin, nyaris nihil, makanya kita selalu pakai referensi asing. Tidak seperti teman2 Korea, Jepang atau bahkan Amerika yg tidak sulit mencari referensi dari negaranya sendiri. Kita tidak selamanya mengadaptasi metode negara lain yg keadaannya dan tipikal siswanya belum tentu sama dengan negara kita. Cobalah untuk meneliti anak2 murid kita sendiri dan tulislah jurnal ilmiah yg bisa dibagi pada guru2 lain, agar kita bisa meninggalkan metode2 klasik, dan menggunakan yg baru, untuk hasil belajar mengajar yg lbh maksimal…

    • Yohan says:

      To Meazza, saya lagi cari trainer privat untuk kursus bahasa mandarin nih, tapi yang setelah jam pulang kantor. Ada referensi?

  10. lilly says:

    makasih yaa jiejie tulisannya bermanfaat sekali.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Oriental seperti Bahasa Jepang, Korea, maupun Mandarin semakin dibutuhkan saat ini klik disini untuk membaca artikel mengenai manfaat belajar bahasa-bahasa […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: