Geografi Ekonomi, Perdagangan Internasional, dan Paul Krugman

Setelah dinobatkan sebagai penerima penghargaan Nobel Ekonomi 2008, nama Paul Krugman tentu tidak lagi menjadi nama yang asing. Dosen Princeton University ini dinilai berhasil menghasilkan teori baru perdagangan internasional yang mampu memenuhi tiga kriteria penting: cocok dengan fakta, masuk akal, dan memiliki manfaat. Ketika membaca tulisannya yang berjudul Trade and Geography: Economies of Scale, Differentiated Products and Transport Costs, kita akan mengetahui bahwa Paul Krugman memang berhasil membuat sebuah terobosan teori yang sangat relevan dengan kondisi ekonomi internasional kontemporer. Uniknya, formulasi teori dari Krugman ini relatif sederhana.

Krugman dipandang mampu menggabungkan perdagangan internasional dan geografi ekonomi yang sering dianggap sebagai sub-disiplin ilmu yang terpisah. Jika perdagangan internasional berbicara mengenai transaksi perdagangan antar negara, geografi ekonomi lebih berfokus pada arus migrasi individu atau perusahaan yang melampaui batas-batas geografis. Geografi ekonomi juga mencermati bagaimana konsentrasi aktivitas ekonomi di perkotaan semakin meningkat dan bagaimana kota-kota tersebut mengorganisasi dirinya sendiri (ekonomi perkotaan).

Dari analisis ini lahirlah konsep skala ekonomi di mana Krugman kemudian berhasil memformulasikan teori baru mengenai dampak perdagangan bebas dan faktor-faktor penentu terjadinya migrasi global. Kreasi cemerlang dari Krugman ini akhirnya tidak hanya menjadi sebuah teori baru dalam perdagangan tetapi juga menjadi teori baru dalam ekonomi geografi di mana lokasi faktor-faktor produksi dan aktivitas ekonomi dapat dianalisis secara terpadu dalam sebuah kerangka model equilibrium yang lazim digunakan untuk analisis ekonomi.

Analisis Krugman berfokus pada dampak skala ekonomi terhadap sektor perdagangan dan lokasi bisnis. Konsep skala ekonomi diperoleh dari analisis yang berakhir pada kesimpulan bahwa makin banyak barang dan jasa diproduksi di satu pabrik yang sama, makin rendah pula biaya produksi yang harus dikeluarkan. Menurut Krugman, pasar tidak akan berkompetisi secara sempurna seperti yang dinyatakan oleh para pencipta teori perdagangan internasional terdahulu.

Bagi Krugman, teori comparative advantage yang diciptakan oleh David Ricardo pada abad ke-19, tidak lagi dapat menjawab fenomena perdagangan internasional pada saat ini. Ricardo yang menyempurnakan teori absolute advantage Adam Smith, menyatakan bahwa tiap negara perlu mencari spesialisasi produksinya agar proses ‘barter’ terjadi dan pendapatan negara meningkat. Lebih lanjut Krugman mengungkapkan bahwa dalam faktanya, perdagangan dunia abad 20 dan 21 didominasi hanya oleh segelintir negara yang ternyata memperdagangkan produk yang sama.

Jika menggunakan teori David Ricardo, seharusnya akan lebih menguntungkan bagi China yang berupah buruh rendah untuk berfokus pada produksi sektor manufaktur. Di sisi lain, AS yang berteknologi lebih tinggi, misalnya, akan lebih menguntungkan jika berfokus untuk memproduksi peralatan elektronik seperti komputer dan handphone. Nyatanya, China tidak kehilangan keunggulannya ketika pada saat yang bersamaan memproduksi peralatan elektronik yang serupa dengan produksi AS. AS pun memproduksi manufaktur yang serupa dengan China. Produk-produk kedua negara inilah yang merajai panggung perdagangan internasional.

Krugman berasumsi bahwa jika ada barang berbeda sejumlah n dan komsumen menyenangi produk yang bervariasi, dapat dirumuskan dalam fungsi:

n
U = ∑    v(ci)
i=1

Dari fungsi ini, Krugman menjelaskan bahwa perbedaan harga antar barang membuat konsumen lebih memilih untuk mengkonsumsi lebih dari satu jenis barang. Oleh karena itu, semakin banyak barang diproduksi di satu pabrik yang sama, biaya produksi yang harus dikeluarkan akan semakin rendah. Akibatnya, pabrik baru akan memasuki pasar dengan menambah variasi produknya. Dengan kata lain, biaya produksi dapat ditekan jika unit produksi mencapai jumlah tertentu. Meski demikian, biaya produksi juga dapat kembali meningkat jika jumlah barang produksi naik atau skala ekonomi tidak lagi tercapai.

Hummels dan Levinsohn (1993, 1995) yang mencoba menguji teori Krugman menemukan bahwa teori ini ternyata dapat bekerja dengan sangat baik. Keduanya melakukan analisis pada perdagangan antara negara-negara maju (dengan kecenderungan konsumen memilih produk yang beragam) dengan negara-negara kurang berkembang (di mana monopoli perdagangan banyak terjadi). Hampir seluruh negara berupaya untuk meningkatkan skala ekonominya.

Agar skala ekonomi meningkat, sebuah pabrik baru akan mencari negara lain yang mampu mendukung keberadaan unit produksi dalam jumlah yang besar. Dengan dukungan kemajuan teknologi, transportasi, dan informasi, pabrik tersebut akan memindahkan proses produksinya dengan mudah. Inilah yang akan mendorong migrasi tenaga kerja.

Krugman mengungkapkan bahwa ada kecenderungan pekerja bermigrasi ke wilayah pusat pekerja terbesar yang akhirnya akan menciptakan variasi produk yang sangat beragam. Dengan kata lain, konsentrasi terjadi dalam hal barang dan jasa yang diproduksi maupun lokasi barang tersebut dibuat.

Krugman melanjutkan konsep skala ekonomi eksternal Henderson (1974) yang mengungkap bahwa perkotaan cenderung akan terspesialisasi dengan perindustrian. Berdasarkan skala ekonomi, industri-industri akan cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar. Konsentrasi produksi pada satu wilayah tertentu (dalam hal ini wilayah perkotaan), memungkinkan skala ekonomi dapat terealisasi karena kedekatan lokasi dengan pasar akan meminimalisasi biaya transportasi (home-market effect).

Akibat konsentrasi ini, wilayah-wilayah akhirnya terbagi menjadi dua yakni wilayah core (inti) di perkotaan sebagai konsentrasi perkembangan IPTEK, serta periphery (pinggiran) yang lebih terbelakang. Model ini dikembangkan dari pilihan lokasi dari pabrik dan individu.

Pabrik memilih perkotaan untuk meningkatkan skala produksinya sekaligus menghemat biaya transportasi. Individu juga tertarik untuk bermigrasi ke perkotaan yang menawarkan upah buruh yang lebih tinggi dan produk yang lebih beragam. Kecenderungan ini meningkatkan kapasitas pasar sekaligus makin memacu pabrik dan individu untuk bermigrasi ke kota. Lingkaran sebab akibat dan equilibrium baru pun akan terbentuk.

Secara keseluruhan, teori Krugman mampu menjelaskan hubungan positif antara ukuran pasar dengan tingkat upah, hubungan antara ukuran pasar dengan migrasi, dan kaitan antara satu sama lain.Teori Krugman juga mampu membuktikan kalkulasi produktivitas pada suatu wilayah. Dalam perdagangan, teori ini mampu membuat sebuah strategi kebijakan perdagangan.

Contohnya, upaya suatu negara untuk mempengaruhi perdagangan negara lain dengan memberlakukan hambatan perdagangan seperti tarif. Ketika perdagangan berjalan dalam kerangka spesialisasi, teori ini tetap relevan. Dalam karyanya yang lain yang berjudul Trade Policy and Market Structure, Krugman memperlihatkan bahwa proteksi dapat mereduksi pendapatan domestik, subsidi impor dapat memperbaiki neraca perdagangan, dan tarif dapat menurunkan harga domestik.

Dengan karyanya ini, Paul Krugman dinilai berhasil membuka pemahaman baru mengenai perdagangan dan lokasi aktivitas ekonomi dan menjadi dasar terbentuknya teori baru dalam perdagangan internasional dan geografi ekonomi. Dengan demikian, kolumnis tetap pada harian New York Times ini berhak mendapatkan Nobel dan uang tunai senilai 1,4 juta dollar AS. Hadiah ini menjadi semakin istimewa karena sejak tahun 2000, peraih hadiah Nobel Ekonomi selalu lebih dari satu.

Kita perlu memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada Paul Krugman yang teorinya mampu memberikan terobosan yang tidak hanya bermanfaat bagi para peneliti selanjutnya namun juga bagi perkembangan ekonomi internasional yang bersifat dinamis. Terlepas dari itu, kita seharusnya mampu memanfaatkan teori ini untuk meningkatkan keunggulan produk Indonesia yang selama ini masih terbatas pada sektor agrikultur bernilai minim. Konsentrasi pada perkotaan juga dapat disiasati dengan diversifikasi unit-unit usaha yang tentunya harus didukung oleh infrastruktur dan konsistensi penegakkan hukum.

Dalam skala yang lebih luas, Indonesia perlu membenahi berbagai faktor klasik yang menyebabkan munculnya biaya ekonomi tinggi seperti korupsi dan birokrasi yang terlampau gemuk. Kekacauan ini hanya akan menurunkan skala ekonomi.

Jika kekacauan ini tidak segera dibenahi, Indonesia tidak akan menjadi lahan investasi dan tujuan impor yang menarik, bahkan untuk sekedar menjadi lahan ‘penampung’ migrasi global. Kita juga tentu berharap pada lahirnya ilmuwan-ilmuwan ekonomi asal Indonesia yang mampu melahirkan teori yang cocok dengan fakta, masuk akal, dan memiliki manfaat nyata, minimal bagi kondisi domestik (parochial theory). Untuk skala global (middle theory/grand theory) seperti Krugman? Sangat diamini!!

Comments
4 Responses to “Geografi Ekonomi, Perdagangan Internasional, dan Paul Krugman”
  1. zahidayat says:

    Uraian yg bagus! Hanya kalimat pertama saja yang terasa nggak pas. Bukankah Krugman orang yg sudah sangat terkenal sebelum dapat nobel? Salam kenal..

  2. anna chan says:

    mudah-mudahan bermanfaat

  3. sylvietanaga says:

    Terima kasih. Paul Krugman memang sudah sangat terkenal tapi maksud saya belum terlalu terkenal bagi orang-orang di luar jalur ekonomi dan terutama bagi publik Indonesia. Di AS ia sudah sangat terkenal sebelum meraih nobel terutama karena ia secara rutin mengisi kolom editorial di harian New York Times (NYT). Thx!

  4. rizal says:

    pengertian @ mana…..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: