SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

Sampai Jumpa Lagi, Kawan-Kawan!

DSCI1595

”Syl, kumaha?”
”Sori banget mas, kaga ada yang nganterin neh, tukang ojeg gw lagi nggak bisa nganter.”
”Make taksi ajah atuh, kan bisa.”
”……….. Ya udah, oke deh mas!”

Sebuah keputusan yang kemudian sangat saya syukuri. Fendra, demikian nama teman yang membujuk saya ikut menonton Police Academy, berhasil membujuk membuat saya keluar dari kamar apartemen.
Tak terasa, sudah dua minggu kami – para jurnalis dari berbagai pelosok Indonesia, belajar bersama dalam pelatihan Jurnalistik Pantau XVII di Jakarta.

Ada Arizal dari Harian Singgalang, Fendra dan Firman Hadi dari Aceh, Agus dari Sumatera Ekspres, Arifuddin yang merupakan pensiunan BI, Endro dari Kaltim Post, Hendra dari IMPACT Aceh, Dawud dari radio Prosalina FM di Jember, Sari dan Wulan dari Bisnis Indonesia, dan Roy Thaniago yang aktif nge-blog di Jakarta.

Kami semua doyan bercanda. Endro merupakan mantan pemain Lenong. Hobinya adalah membuat guyonan yang membuat perut terkocok. Agus, dengan gaya kocaknya gemar memprovokasi kelas menjadi lebih ramai. Logat campur sari dari seluruh Indonesia pun kerapkali terdengar.

Kelas tambah ramai.
Ada orang muslim naik bus. Terus dia bilang ‘bismillah’. Di sampingnya, seorang Kristen kebingungan. Katanya: Ini bis kota, bukan bismillah.

Kali lain:
Seorang Madura naik taksi. Sesampainya, argo menunjukkan harga 100.000. Orang Madura tersebut hanya membayar 50.000. Si sopir taksi yang kebingungan bertanya pada orang Madura:
Sopir taksi: Bang, lihat nggak argonya berapa?
Orang Madura: Iya, saya liat.
Sopir taksi: Lho kok cuma segini??
Orang Madura: Lha, sampeyan kan ikut naik……
Mas Andreas, pelatih kami, sampai geleng-geleng.
“Ini kelas terkocak selama pelatihan,” ujarnya.

Selama dua minggu bersama, persahabatan terjalin makin erat. Ngobrol bareng, diskusi bareng, makan bareng, belajar bareng, bahkan karaoke bareng dan nonton film bareng (dua terakhir, saya tak ikut). Maka menjelang perpisahan, ada rasa berat yang luar biasa.

Adalah Mas Endro dari Kaltim Post yang mengusulkan nonton Police Academy bersama di Pantai Karnaval Ancol. Gratis, katanya. Ia baru saja meliput sang investor Police Academy yang ternyata temannya. Jika bayar sendiri Rp150.000.

Ingin ikut. Namun gabungan rasa capek, takut hujan dan malas mencari taksi mengalahkan niat ini. Telepon seluler pun saya raih:
Mas Endro, sori banget ya, gw ga bisa ikut soalnya tukang ojeg gw kaga bisa nganter… Salam buat kawan-kawan.
Mas Endro menjawab SMS saya: Ya udah gpp, sampai jumpa di lain waktu.

Tapi bujukan mas Fendra melalui telepon tak dapat saya hindari.
“Ditunggu ya di restoran Segarra!” ujarnya, masih mencoba berbahasa Sunda.
Uniknya, ia adalah orang Aceh.

Akhirnya saya bergegas mencari taksi menuju Ancol. Saya mengira mereka sedang makan bersama di restoran yang letaknya jauh. Ternyata mereka sedang menikmati santap siang sambil konferensi pers dengan pihak Police Academy Italia dan direktur utama Ancol. Secara umum kon-pers ini bicara tentang penyelenggaraan Police Academy yang akan berlangsung mulai 6 Juni-18 Agustus 2009. Tiga bulan.

Perut mulai keroncongan saat saya puluhan wartawan mulai meninggalkan restoran Segarra untuk menonton Police Academy Stuntman Show.
Makanan sudah habis. Saya pun mencicipi sisa-sisa melon, semangka, dan agar-agar. Lumayan …..

Agus masih sibuk mencatat hasil kon-pers dengan laptopnya.
Sari sibuk mengejar narsum untuk hariannya, Bisnis Indonesia edisi Jumat.
Mas Endro yang sudah menyelesaikan wawancaranya dengan sang investor beberapa hari sebelumnya, mengajak kami beranjak.
‘Kepala suku,’ demikian Sari menyebutnya.

* *

Cahaya matahari bersinar terik saat kami menempati bangku pertunjukkan. Kami, rombongan wartawan ‘bedol desa’, masuk melalui pintu samping bersama rombongan wartawan lainnya.
Gratis.

Tiga bersap bangku biru sudah terisi separuhnya saat kami duduk. Kapasitas kursi kurang lebih 2.600. Seorang polisi bule asal Italia sudah ‘beraksi’ dengan mencandai beberapa penonton.

Priiitttttttttttt
Si polisi meniup-niup peluitnya keras-keras.
Ia mengerjai antara lain: tiga orang anak-anak, dua pasang keluarga, seorang kameramen, dan beberapa orang lainnya. Ada yang dicegat dan disuruh mengikuti gerakannya. Ada yang disuruh melepas kacamatanya untuk kemudian diganti dengan kacamata raksaksa.

Cukup menghibur….
Narasi cerita yang dibawakan oleh seorang ‘polisi’ bule (yang ternyata merupakan jubir dalam kon-pers di restoran), menjadi awal pembuka police academy. Narasi ini kemudian diterjemahkan seorang penerjemah perempuan yang memakai pakaian polisi superseksi.

* *

Ruang pertunjukkan Police Academy Stuntman Show sekilas tidak terlalu menarik. Hanya beberapa backdrop sederhana dan rumah ‘beneran’ yang bertulis: ‘Police Academy’ dan ‘Police Garage’ serta sebuah gas station bohongan.

Yang menarik adalah properti yang menghiasi ‘panggung’ beruapa jalan beraspal. Ada sebuah meriam yang ternyata dapat mengeluarkan efek letupan bercahaya. Juga ada sebuah helikopter di atas bangunan ‘police academy’.

Cerita bermula dari kaburnya seorang narapidana kelas berat dari penjara yang berada di kawasan police academy. Tim polisi kelabakan karena narapidana ini sangat lihai. Ia bahkan berhasil membobol police academy dan mencuri uang. Polisi dan si pencuri pun terlibat kejar-kejaran.
Alur ceritanya memang amat sederhana.

Tapi adegan kejar-kejaran sungguh memikat.
Mendebarkan.
Mobil si pencuri dan geng-nya meraung-raung dan kemudian melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Ketika nyaris mencium tembok pembatas, mobil diputar 180 derajat dengan bunyi mengerikan hingga menimbulkan debu yang beterbangan.

Dalam adegan lain, sekelompok motor meraung-raung dengan kecepatan tinggi. Selain berhasil mengangkat roda depan, kelompok stuntman ini juga berhasil menerbangkan motornya setinggi lima meter dari permukaan tanah!

Tim polisi tak mau kalah bergaya.
Setelah mengebut dan memundurkan motornya dengan kecepatan tinggi, para polisi ini mulai mengangkat mobilnya hingga hanya bertumpu pada dua ban saja.

Kemiringannya sangat mengerikan: 45 derajat!
Para polisi ini bahkan berdiri di atas mobil yang sudah miring tersebut.
Para penonton menarik napas.
Suara wuowwwww…….. kembali bergema.
Para wartawan segera mengambil kameranya – klik sana klik sini.
Sari sibuk mencatat di notes-nya.

* *

Matahari mulai tenggelam di ufuk. Suasana sunset tak begitu jelas. Kami berjalan lambat-lambat menyusuri pantai Ancol. Semua terlibat dalam pembicaraan seru. Saya mengobrol dengan mas Fendra soal Aceh. Juga dengan mas Endro mengenai berbagai hal. Mulai dari curhat kehidupan wartawan hingga keluarga.

Sebuah kenangan manis yang sungguh tak terlupakan.

Air laut sudah pasang, merendam pasir terluar. Matahari sudah pulas di peraduannya ketika kami berjalan pulang. Ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Berat rasanya ketika akhirnya harus berpisah. Namun kami berjanji untuk tetap berkomunikasi. Melalui facebook, tentunya. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan!

* * *

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature | | 3 Comments

KONTRAS

Miris. Sedih, geram, gemas – apapun sebutannya. Ada begitu banyak kontras di negeri ini. Ada begitu banyak kontras yang sangat menyedihkan dan menyenangkan, dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Saya tak tahu. Apakah saya terlalu mengkotak-kotakkan segala sesuatunya secara hitam putih. Atau gelap terang. Apapun namanya, kontras di negeri ini sungguh…. tak terkatakan lagi.

Kontras siang-malam tentu sangat alamiah.
Pun kontras miskin-kaya, teraniaya-penganiaya, kebenaran-kesalahan, kehajatan-kebaikan. Semua begitu lazim, begitu lumrah.

Manohara dibela begitu menggebu oleh seorang pengancara kondang yang pasti dibayar mahal. Keluarga Siti Khoiyaroh, seorang anak 4 tahun yang tersiram kuah bakso saat penertiban PKL, tak mampu menuntut balik. Tak punya sumber daya.

Kasus Ambalat bergaung begitu heboh – pasukan ‘ganyang Malaysia’ rela berdiri tegak demi kedaulatan Indonesia. Tak seorangpun pasukan ‘pembela TKI’ membela Siti Hajar yang dihajar majikannya di Malaysia. Atau pasukan ‘pembela generasi muda Indonesia’ yang mengusut kematian David di Singapura.

Malnutrisi berat di Palu sebabkan dua balita meninggal. Salah satu negara di Eropa menyelenggarakan acara melempar kue pie yang sangat lezat. Pie yang sudah jatuh ke tanah tentu tak lagi dikonsumsi. Di rumah sendiri, nasi masih sering dibuang.

Manusia dan rasa kemanusiaan
Kebenaran dan kebaikan
Kontras?
Samaran sukses

Seluruh media berbondong mengarahkan lensa pada Prita. DPR kasak-kusuk panggil manajemen OMNI Internasional. Anak Agung Gede Bagus Prabangsa. Siapa dia? Votinglah, siapa yang lebih tenar?

‘UAN ulang? Ntar aja deh, harus diteliti dulu siapa yang bersalah.’ ‘UAN tetap dibutuhkan untuk peningkatan mutu pendidikan.’ Medi dan kawan-kawannya terkatung. Digantung. Tak punya asa untuk berteriak. Dua kelompok mahasiswa berantem dengan bom molotov. Baku hantam di bawah lembayung. Mutu?

‘Rakyat Jangan Berharap Banyak: Hanya 5 dari 50 Anggota Komisi I DPR yang Terpilih Kembali’. Lima minggu kemudian: ‘DPR (lama) tak bisa diharapkan; kualitas UU yang dihasilkan mengecewakan’. Harapkan siapa?

Tanpa bermaksud menyinggung si kaya, si penganiaya, si jahat, dan siapapun yang rasanya selalu saja menjadi subjek tudingan tangan.
Mungkinkah kontras?
Bukankah kontras menunjukkan dua hal bertolakbelakang?

Standar ganda? Paradoks?
Entahlah
Yang jelas adalah ketidakjelasan itu sendiri

Kontras yang menjadi samar, kontras yang menyamar
Memburamkan pandangan, membutakan kesadaran

Tak ada lagi K-O-N-T-R-A-S, mungkin.

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Menilik Akar, Menilik Diri

Usianya tak lagi muda. Keriput telah bermunculan di dahi, tangan, dan dadanya. Dari lengan bajunya yang usang, benang jahitan nyaris terlepas. Meski demikian, sang nenek tetap perkasa. Ia berhasil mengangkat sebuah ember tua yang karatan, entah berisi apa. Raut wajahnya bahkan sama sekali tak menunjukkan kelelahan. Inilah salah satu lukisan yang ditampilkan dalam pameran bertajuk ‘Menilik Akar’ bertempat di Galeri Nasional Indonesia.

Kreasi lukisan berbahan akrilik dari Moha Abdullah ini tak sendiri berbicara mengenai ungkapan realita dan kritisisme akar budaya dan akar diri manusia.
Melangkah ke sudut lain di ruang ber-AC bertotal tiga ruang pamer ini, muncul sesosok kerangka tanpa tengkorak tengah membaca sebuah koran yang berlubang di bagian tengah. Sang tengkorak tengah duduk di tumpukan koran dan membaca dengan asyik-masyuk.

MIOPI karya YE Agung dengan bahan besi beton dan kertas koran. Demikianlah bunyi keterangan yang terpampang di bawah sang tengkorak. Beberapa potong lukisan yang disapu dengan tulisan hanacaraka Jawa pun menghiasi dinding ruang pamer yang masih putih bersih.

Sayangnya, nuansa hening sangat menghentak ruang pamer. Tak heran jika seorang pengunjung akhirnya menyalakan Mp3 di telepon selulernya untuk mengusir keheningan yang amat terasa. Saat beranjak ke gedung lainnya (pameran ini ternyata menggunakan dua gedung), udara panas pun berhembus. Kontras dengan suhu di ruang ber-AC yang baru saja ditinggalkan.

Akhirnya. Serombongan anak SMA berikut gurunya berbondong-bondong menandatangani buku tamu sebelum memasuki ruang pamer. Suasana hening pun serta merta pecah oleh canda gurau para siswa yang suaranya cukup melengking.

Memasuki gedung kedua, suhu tubuh pun kembali sejuk seirama dengan suhu AC. Dua orang siswa SD: satu perempuan dan satu lelaki, keluar dari sebuah cangkang telur. Kedua anak ini meniti sebuah tambang merah dengan waswas. Di bawah tambang terhampar jurang dengan aneka botol minuman keras berlabel ‘topi miring’. Juga ada kartu domino yang melayang di antara botol-botol minuman keras tersebut. Semburat langit hijau nan mencekam membayang di atas kepala kedua anak ini. ‘Generasiku Kini’. Demikianlah Ruslan menamai hasil karyanya ini.

Masih banyak seniman yang berteriak terhadap isu kehilangan akar yang terjadi pada generasi saat ini. Di tengah salah satu ruang pamer, misalnya, ada sebuah jeans super pendek dan (maaf) kutang merah yang membentuk lekuk tubuh seorang wanita. Di bahunya tergerai selempang yang bertuliskan: Miss Call Me. Di sudut lainnya, nampak sebuah kacamata tiga lensa dengan judul: “Whatever you do, look…. I’m Indonesia!” Di ruang terdepan, Agus Djatnika menampilkan para wanita berbahan sabut kelapa. Karya ini diperindah segaris cahaya terik di ruang pamer.

Perupa yang turut mengambil bagian dalam pameran kali ini tidak tergolong sebagai ‘pemain lama’. Sebut saja Arlan Kamil, YE Agung, Moha Abdullah, Agus Putu Suyadnya, dan Agus Djatnika. Pameran ini pun tak menampilkan sesuatu yang baru dalam seni rupa kontemporer. Namun, para perupa ini berhasil menggelitik kita. Para pengunjung seolah ditantang untuk menjawab pertanyaan: “Siapa Anda? Apakah Anda menghargai ‘akar’ Anda yang membuat Anda berhasil hingga saat ini?”

Hampir dua jam berlalu. Selain para siswa SMA, hanya ada sekelompok pengunjung yang dari gayanya kemungkinan besar adalah kelompok reporter, dan tiga-empat orang pengunjung tunggal. Sesaat setelah meninggalkan Galeri Nasional, modernitas Jakarta makin terasa kental: blackberry, gprs, hot-spot, bahasa, hip-hop style, dan masih banyak lagi istilah gadget lainnya.

* *

“Nothing!” ujar seorang balita Indonesia dengan aksen bahasa Inggrisnya yang sangat fasih ketika ibunya menjahili sang anak di lift sebuah apartemen di salah satu sudut ibukota. Si ibu hanya tersenyum. Dari percakapan selanjutnya, si anak ternyata masih dapat berbahasa Indonesia. Menilik akar ya menilik diri…….

* * *

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature, Tourism | | No Comments Yet

Sebuah Oase di Taman Suropati

DSCI1604

Seorang konduktor mengangkat tangannya. Sesaat kemudian, suara biola mengalun indah. Ada yang memainkan nada rendah, ada pula yang memainkan nada sedang dan tinggi. Sebuah harmoni pun mengalir meski masih terasa fals.

Tapi ini bukan pertunjukan New York Philharmonic Orchestra.
Bukan pula pertunjukkan Jakarta Philharmonic Orchestra.

Melaju ke sisi lain, aku melihat musisi biola lainnya.

Para musikus ini tidak terdiri atas cewek-cewek seperti halnya Vanessa Mae, Bond, ataupun Maylafayza. Mereka adalah para cowok. Usia mereka masih sangat muda, mungkin di bawah 17 tahun. Gaya berbusana juga jauh dari kata formal. Semua memakai sandal jepit dan celana santai tigaperempat. Juga berkaos oblong.

Sambil melepas penat, kunikmati nada yang lebih sering terdengar patah-patah. Tapi kali ini agak lain. Untaian nadanya terdengar lebih harmonis karena ‘ditopang’ oleh kocekan sebuah gitar dengan ritme yang stabil.

Heal the world….. Make it better place…. For youuuu…. ngek ngok ngek ngok. Lagu yang masih separuh nyanyian separuh biola-gitar itu berhenti. Berganti menjadi harmoni biola-gitar seutuhnya hingga akhir refrain. Sangat indah. Sayang tak selesai. Lagu ini kembali mereka nyanyikan dengan bahasa Inggris lupa-lupa ingat.

Harmoni biola juga bersahut-sahutan dengan berbagai bunyi lain. Ada bunyi orang mengobrol, orang bergumam, klakson mobil, klakson motor, kicau burung, air mancur, hingga orang berteriak dari atas sepeda: kopiiii-kopiiii atau rokok rokokkk!

Wajar saja. Wa-jar jar jar.
Soalnya ‘orkestra mini’ ini berlangsung di sebuah taman kota yang terjepit hiruk pikuk ibukota. Taman Suropati, begitu orang menyebutnya. Suguhan ini menarik bagiku yang selama ini lebih sering melihat mall dan perkantoran daripada taman. Kalau bicara bunyi-bunyian, paling banter pengamen. Lebih sering deru bajaj.

Tapi Taman Suropati menyajikan suatu pemandangan yang sungguh berbeda.

Tak jauh dari kelompok biola ‘Heal the World’ tadi, beberapa perupa asyik menekuni gambarnya. Aku melangkah pelan-pelan. Mengamati lukisan demi lukisan. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya dua-tiga. Sebuah lukisan menggambarkan taman Suropati dengan arsiran pensil bergaya ‘benang’, sebuah gaya khas perupa di sini.

Nama aliran ‘benang’ ini baru saya ketahui usai berbincang dengan Samuel, salah seorang perupa yang sudah berkarya di taman ini selama satu tahun. Samuel berpenampilan layaknya seniman ‘tulen’. Rambutnya gimbal ala kaum hippies Nikaragua. Pakaiannya semi compang-camping. Tapi tak pernah kusangka pemuda ini bermatapencaharian sebagai art-creative team di salah satu radio. Meski sama-sama berlabel seni, radio dan kertas tentu merupakan dua media berbeda.

Selain Samuel, juga ada Topik yang berkepala licin dengan anting-anting plastik berwarna putih menjulur dari kedua telinganya. Meski berpenampilan bak seorang perupa, ia tidak belajar menggambar. Ia belajar gitar klasik. Aku penasaran..

“Bang, selain divisi gambar sama biola, ada divisi apa lagi di sini?”
“Banyak….. ada divisi gitar, divisi tari, divisi teater, dan divisi-divisi lainnya. Hari Minggu semua divisi ngumpul jam 2 sore. Kalo mo gabung bolehhh…”

Topik tersenyum sesaat.
“Ada juga divisi bahasa Jepang malah…”
“Oh yaaaa?”
“Iyaaa, hari senin bahasa Jepang hari Rabu bahasa Inggris…. Kita berharap ada yang bisa bahasa mandarin juga….”
“Oohhhhhh……Luar biasa bang…..”

Samuel menyambung kalimat Topik.
“Tanggal 8 Agustus entar, kita juga bakal bikin pertunjukkan wayang beber kedua. Wayang beber ini sebelumnya udah pentas di hadapan wapres. Wayangnya digambar pake pensil lho… Ntar dateng aja.”
“Emang kalo pake pensil bisa keliatan dari jauh gitu Bang? Sama penonton yang duduknya di belakang?”
“Keliatannn, kan pake lighting. Jadi wayang beber tuh pake gambar yang digulung panjang per cerita.”
“Tetep ada narasinya bang?”
“Dalang? Ya tetep ada….Ntar semua musiknya digabung dari sini semua”
“Wow, luar biasa bang…..”

Pembicaraan ke arah yang sedikit lebih berat berlanjut. Samuel mengutarakan ketidaksetujuannya soal wayang beber yang sangat diritualkan sehingga membuat seniman terbelenggu. Samuel juga menjawab pertanyaan saya mengenai komunitas yang lebih banyak didukung ISI Yogyakarta, bukan lembaga seni di Jakarta.

“Ngomong-ngomong dulunya Taman Suropati ini dikenal sebagai sarang perampok”
“Ah, yang bener Bang?”
“Bener… tuhhh (telunjuknya mengarahkan mata saya ke aras sebuah ‘camp’ kecil yang sayangnya tak terlihat jelas). Itu dulunya jadi tempat transit mereka. Tapi sekarang jadi base-camp kita!”
“Wah, keren Bang!”
“Iya, sayangnya taman-taman lain seperti taman Menteng, masih jadi sarang narkoba. Intinya, kita ingin memberikan suasana baru pada taman. Taman bukan hanya untuk diliat. Tapi bukan berarti kita jadi penguasa semua taman lho…”
“.Iyaa…luar biasa Bang.”
“Kalo mau gabung ajaaa.”

Tak berlebihan menyebut mereka luar biasa. Mungkin juga karena aku yang cukup katrok. Sebelumnya, aku tak mengetahui keberadaan taman ini. Informasi pun tak pernah saya dengar. Padahal menurut Samuel, kegiatan mereka di Taman Suropati ini sudah diliput berbagai media.

Tak enak hati akan menganggu Samuel dan Topik lebih lama, aku berpamitan pulang dengan embel-embel serius akan kembali berkunjung. Keduanya mengangguk dan menjabat tanganku dengan erat. “Ya silakan datang lagi……”

Gesekan biola masih terdengar saat kulangkahkan kaki ke arah trotoar. Mataku menangkap sekelompok pemuda yang tengah bersantai di tepi taman. Mengira ada kelompok biola lainnya, kuberi mereka seulas senyum hangat. Mereka membalas senyumku dengan pertanyaan. “Kopinya nengggg…….???”

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature | | No Comments Yet