KONTRAS
Miris. Sedih, geram, gemas – apapun sebutannya. Ada begitu banyak kontras di negeri ini. Ada begitu banyak kontras yang sangat menyedihkan dan menyenangkan, dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Saya tak tahu. Apakah saya terlalu mengkotak-kotakkan segala sesuatunya secara hitam putih. Atau gelap terang. Apapun namanya, kontras di negeri ini sungguh…. tak terkatakan lagi.
Kontras siang-malam tentu sangat alamiah.
Pun kontras miskin-kaya, teraniaya-penganiaya, kebenaran-kesalahan, kehajatan-kebaikan. Semua begitu lazim, begitu lumrah.
Manohara dibela begitu menggebu oleh seorang pengancara kondang yang pasti dibayar mahal. Keluarga Siti Khoiyaroh, seorang anak 4 tahun yang tersiram kuah bakso saat penertiban PKL, tak mampu menuntut balik. Tak punya sumber daya.
Kasus Ambalat bergaung begitu heboh – pasukan ‘ganyang Malaysia’ rela berdiri tegak demi kedaulatan Indonesia. Tak seorangpun pasukan ‘pembela TKI’ membela Siti Hajar yang dihajar majikannya di Malaysia. Atau pasukan ‘pembela generasi muda Indonesia’ yang mengusut kematian David di Singapura.
Malnutrisi berat di Palu sebabkan dua balita meninggal. Salah satu negara di Eropa menyelenggarakan acara melempar kue pie yang sangat lezat. Pie yang sudah jatuh ke tanah tentu tak lagi dikonsumsi. Di rumah sendiri, nasi masih sering dibuang.
Manusia dan rasa kemanusiaan
Kebenaran dan kebaikan
Kontras?
Samaran sukses
Seluruh media berbondong mengarahkan lensa pada Prita. DPR kasak-kusuk panggil manajemen OMNI Internasional. Anak Agung Gede Bagus Prabangsa. Siapa dia? Votinglah, siapa yang lebih tenar?
‘UAN ulang? Ntar aja deh, harus diteliti dulu siapa yang bersalah.’ ‘UAN tetap dibutuhkan untuk peningkatan mutu pendidikan.’ Medi dan kawan-kawannya terkatung. Digantung. Tak punya asa untuk berteriak. Dua kelompok mahasiswa berantem dengan bom molotov. Baku hantam di bawah lembayung. Mutu?
‘Rakyat Jangan Berharap Banyak: Hanya 5 dari 50 Anggota Komisi I DPR yang Terpilih Kembali’. Lima minggu kemudian: ‘DPR (lama) tak bisa diharapkan; kualitas UU yang dihasilkan mengecewakan’. Harapkan siapa?
Tanpa bermaksud menyinggung si kaya, si penganiaya, si jahat, dan siapapun yang rasanya selalu saja menjadi subjek tudingan tangan.
Mungkinkah kontras?
Bukankah kontras menunjukkan dua hal bertolakbelakang?
Standar ganda? Paradoks?
Entahlah
Yang jelas adalah ketidakjelasan itu sendiri
Kontras yang menjadi samar, kontras yang menyamar
Memburamkan pandangan, membutakan kesadaran
Tak ada lagi K-O-N-T-R-A-S, mungkin.
No comments yet.
Leave a comment
-
Archives
- November 2009 (1)
- August 2009 (2)
- July 2009 (3)
- June 2009 (6)
- May 2009 (2)
- April 2009 (4)
- March 2009 (5)
- February 2009 (1)
- January 2009 (6)
- December 2008 (6)
- November 2008 (4)
- October 2008 (7)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


