SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

BOOK REVIEW – Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan

Hiroshima Cover

Judul : Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal Buku : x + 163 halaman
Harga : Rp 40.000,-

Buku ini jelas menjadi bacaan wajib, terutama bagi mereka yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Karena karya John Hersey ini sungguh fenomenal. Reportase yang diterbitkan pertama kali pada tanggal 31 Agustus 1946 oleh The New Yorker ini terpilih sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika abad ke-20. Karya ini menjadi rujukan utama bagi mereka yang mendalami jurnalisme sastra, laporan kisah nyata yang ditulis dengan gaya fiksi.

Karya berjudul asli A Reporter at Large: Hiroshima ini, pada intinya berbicara mengenai detik-detik menjelang dan sesaat bom atom berjuluk B-21 dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. John Hersey tidak menggambarkan peristiwa ini dengan gaya berita umum. Dengan menggunakan sudut pandang dari 6 tokoh (ibu rumah tangga, juru tulis departemen personalia, dua dokter, pendeta, pastur), peristiwa Hiroshima membayang kuat di benak kita.

Karya ini terbagi atas empat bagian besar dengan alur maju. Sederhana namun sangat memikat. Bagian pertama berjudul Noiseless Flash (Kilat Tanpa Suara), menggambarkan aktivitas yang dilakukan keenam tokoh sesaat menjelang dijatuhkannya bom atom. Tidak ada seorangpun yang menyangka pagi itu, 6 Agustus 1945, sebuah bom akan dijatuhkan. Semua tokoh baru menyadari bahaya setelah munculnya sebuah kilat bisu yang amat menyilaukan.

Nona Toshiko Sasaki, sang juru tulis departemen personalia East Asia Tin Workers, sedang berbicara dengan gadis di sebelahnya. Dokter Masazaku Fuji baru saja duduk dengan nyaman di terasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang telah menjadi janda, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumahnya.

Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa spesimen darah yang akan dipakai untuk tes wasserman. Pendeta Kiyoshi Tanimoto, seorang pendeta Gereja Metodis Hiroshima, sedang mulai mengeluarkan pakaian dan barang-barang lainnya dari gerobak di depan sebuah rumah di pinggiran kota.

Keenam tokoh ini merupakan orang-orang yang selamat dalam peristiwa ini. Dalam bagian pertama, Hersey berhasil menggambarkan detail peristiwa sesaat menjelang B-29 diledakkan. Kisah keenam tokoh sesaat setelah bom ini meledak pun digambarkan dengan detail oleh Hersey dalam bagian kedua yang berjudul The Fire (Api).

Pendeta Tanimoto takjub melihat sekelompok tentara dengan kepala berlumuran darah yang tengah kebingungan. Ia juga sempat menolong seorang ibu menggendong anaknya yang berusia 3-4 tahun. Nyonya Nakamura berhasil menyelamatkan ketiga anaknya dan mengungsi bersama tetangganya ke Taman Asano. Dengan punggung berlumuran darah, Pastur Klinsorge mendapati beberapa rekannya terluka.

Dokter Fujii mengalami shock dan sempat terjepit di antara tiang-tiang pondasi rumahnya dan akhirnya berhasil membebaskan dirinya sendiri. Dokter Sasaki yang kehilangan kacamatanya, segera menolong korban yang mengalir deras datang kepadanya. Tubuh Nona Sasaki terjepit di antara tumpukan buku dan rak buku sebelum akhirnya ditarik keluar. Kaki kirinya patah. Pastur Klinsorge, pendeta Tanimoto, dan dokter Sasaki pun berupaya keras menolong korban.

Pada bagian ketiga yang berjudul Details Are Being Investigated (Perinciannya Sedang Diselidiki), memperlihatkan aktivitas keenam tokoh selanjutnya. Ada yang bergerak menolong korban, ada pula yang berusaha menenangkan diri dari shock. Kondisi memilukan tergambar dengan jelas: kulit melepuh, korban yang tenggelam karena tak lagi memiliki tenaga untuk bergerak, juga mayat yang bercampur dengan koran luka di rumah sakit.

Bagian terakhir berjudul Panic Grass and Feverfew (Panic Grass dan Tanaman Feverfew). Berisi reportase tentang aktivitas dan kondisi keenam tokoh dua minggu setelah bom dijatuhkan. Di sini, para tokoh mulai mengalami penyakit yang terjadi karena radiasi. Nyonya Nakamura mulai mengalami kebotakan sementara pendeta Hanimoto tiba-tiba jatuh sakit.

Hersey juga melengkapi naskahnya dengan berbagai data seperti sebab umum penyakit akibat bom, jumlah korban, dan suhu udara yang mencapai 6.000 derajat celcius di pusat bom. Di akhir kisah, Hersey menuliskan bahwa dari peristiwa ini, pengabdian yang besar dari rakyat Jepang terhadap kaisar dan negaranya amat besar. Rata-rata meninggal dalam diam dan bahkan menganggap kematiannya sebagai sebuah pengorbanan bagi kaisar dan negara.

Masterpiece John Hersey yang meninggal pada tahun 1993 ini pun menjadi bahan bacaan wajib bagi Anda. Dalam penggarapan karyanya, Hersey mengunjungi Jepang selama tiga minggu dan mewawancarai para tokoh yang dapat berbahasa Inggris (meski patah-patah). Hersey kemudian mengolah tulisannya dengan proses editing selama 10 hari.

Reportase lebih dari 30.000 kata ini awalnya hendak diterbitkan dalam 4 seri The New Yorker namun urung dilakukan. Pemenggalan dirasakan akan mengganggu introduksi sehingga The New Yorker menerbitkan edisi yang seluruhnya berisi tulisan Hersey. Masyarakat meresponi dengan luar biasa. Dalam waktu singkat, edisi ini habis terjual. Albert Einstein yang hendak memborong edisi Hiroshima ini pun hanya mampu gigit jari karena kehabisan.

Selain mampu menampilkan reportase dengan gaya fiktif (sehingga pembaca seolah sedang membaca novel), John Hersey tidak menggiring pembacanya untuk membela pihak tertentu. Hersey bahkan tidak menulis Hiroshima dengan emosi. Ia menulis dengan gaya yang ‘kering, kalem, dan tanpa emosi’. Gaya jurnalisme sastra yang memikat yang digunakan John Hersey juga dapat menginspirasi Anda ketika menulis hasil reportase. Selamat membaca!

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Book Review | | No Comments Yet

KAKA

Bicara tentang gaya hidup pemain bola, ingatan kita umumnya terarah pada gaya hidup selebritas: glamor dan elit. Biaya transfer dan upah seorang pesepak bola ternama (di klub ternama di bumi belahan Barat, tentunya) jumlahnya sama dengan APBD di beberapa wilayah di Indonesia. Ratusan miliar rupiah sekali transfer. Tidak heran jika kekayaan material bergelimang menghiasi kehidupan para pemain ini.

Tapi lain dengan Kaka. Sebuah artikel yang sangat menarik terantum dalam majalah TEMPO edisi 15-21 Juni 2009 (hlm 46-47). Dalam tag-linenya, TEMPO menulis soal Kaka: Manusia 948 Miliar: Gaya hidup Kaka jauh dari glamor. Itu juga yang membuatnya tetap menjadi pemain nomor satu dan berharga mahal. Kaka memang diganjar dengan angka sebesar itu atas oleh presiden Real Madrid yang baru, Florentino Perez. Angka sebesar ini tanpa ragu dibayar kontan oleh sang presiden.

TEMPO menulis bahwa Kaka memiliki gaya hidup yang berbeda dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya seperti Ronaldinho, Ronaldo, dan Adriano hidup dikelilingi dengan mobil mewah, clubbing, dan wanita, Kaka memilih untuk mengelola dirinya dengan lebih baik. Ia lebih tertarik menyumbangkan uangnya untuk kegiatan agama karena baginya, semua yang dia peroleh semata pemberian Tuhan.

Gaya hidup lainnya, bacaan favorit Kaka adalah Injil dan menggemari musik gospel. Kaka bahkan tidak pernah bermain dengan wanita dan bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Suatu hal yang relatif jarang ditemui di tengah glamoritas kehidupan para pesepak bola ternama. Tampilannya santun dan selalu mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Ini adalah sebuah gaya hidup yang saya pelajari. Dengan sebuah kerendahhatian, kesederhanaan, dan tidak cepat puas dengan apa telah diraih, nilai kita akan selalu langgeng. Para pesepak bola yang berfokus pada upaya lepas dari kemiskinan semata (mengejar kekayaan), meski ia adalah seorang pemain hebat, gaungnya akan cepat pudar. Ia akan melesat dengan cepat, namun juga akan merosot dengan cepat.

Seorang pemain hebat yang kesehariannya hanya leyeh-leyeh alias malas berlatih, nilainya akan ‘turun’ di mata para pendukungnya, minimal di mata pelatihnya. Sudah banyak pelatih yang menyatakan kekesalannya karena sang bintang tak datang tepat waktu untuk latihan karena semalam suntuk mereka clubbing. Padahal, kehebatan tidak berarti apa-apa tanpa latihan yang tekun disertai dengan kerendahatian.

Apa yang dilakukan Kaka tidak hanya mengingatkan para pemain bola agar pandai mengelola diri. Kaka memberi contoh nyata bagaimana seharusnya seseorang berkarya: motivasinya, ketekunannya berlatih, respon setelah memperoleh harta, respon setelah diangkat sebagai seorang superstar, dan masih banyak lagi. Sesaat terdengar sederhana, namun belum banyak ‘Kaka-Kaka’ lainnya.

Motivasi meraih kekayaan yang sebesar-besarnya demi kemakmuran diri sendiri dan keluarganya atau kelompoknya, masih santer mewarnai kehidupan Indonesia. Tak heran jika kasus korupsi muncul bak cendawan di musim hujan. Motivasi meriah ketenaran instan tanpa pengelolaan diri yang baik pun banyak menjatuhkan kehidupan sang bintang. Entah karirnya, entah keluarganya.

Setelah mengalami kesulitan, lebih banyak lagi yang menyalahkan nasibnya atau menyalahkan orang lain sebagai penyebab kemalangannya, tanpa pernah bercermin pada perbuatannya. Bahkan sering terdengar: “….ya udahlah, mungkin ini cobaan dari Tuhan”. Menyesatkan. Bisa jadi apa yang menimpa dirinya adalah karena kesalahan sendiri, bukan karena Yang Di Atas sedang iseng mencobai umatNya.

Kalau disingkat, inilah beberapa hal yang saya pelajari dari seorang Kaka:

Memiliki motivasi melakukan untuk Tuhan, bukan meraih kekayaan
Itu sebabnya Kaka tidak mengiyakan tawaran dari kelompok lain meskipun nilai euro-nya jauh lebih tinggi daripada yang ditawarkan Real Madrid.
Kesadaran bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia Tuhan
Itu sebabnya Kaka tidak menjadi sombong ketika meraih ketenaran dan kekayaan.
Memiliki pengelolaan diri yang baik, bertanggungjawab atas kehidupannya
Menghindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri (kelebihan pesta, merokok, seks bebas, bermain wanita). Sebaliknya, Kaka melakukan hal-hal yang dapat menunjang kemajuannya: tekun berlatih, menyayangi keluarga, dll.
Tidak ikut arus dan memiliki prinsip hidup yang kokoh
Ini masih terkait dengan upaya pengelolaan diri secara bertanggungjawab. Meskipun mayoritas teman-temannya lebih gemar clubbing dan bermain wanita, Kaka tidak pernah melakukannya. Kaka memegang prinsip-prinsip hidupnya dengan teguh, menarik garis batas yang amat jelas antara yang positif dan negatif.

Gaya hidup Kaka ini tentu menjadi dambaan bagi kita semua. Tapi ini semua adalah soal keputusan, jangan berhenti sebatas dambaan. Semua merupakan proses namun harus dimulai sejak detik ini. Saya pun masih belajar, masih berproses. Saya bisa membayangkan respon teman-teman Kaka ketika ia bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Juga dengan kebiasaannya membaca Injil dan mendengar gospel.

Saya jadi ingat kata-kata guru PPKn pada masa silam yang mengatakan: kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Kita bebas untuk memilih dan mengambil keputusan. Namun jika motivasi kita dalam menjalankan kebebasan salah: hanya digunakan untuk kepentingan diri dan berupaya meraih kekayaan semaksimal mungkin, ada baiknya kita melirik Kaka.

Jangan heran kalau hingga detik ini ‘nilai’ Kaka masih tetap sangat tinggi yang tentu tidak bisa diukur dengan nilai nominal 984 miliar. Bukan semata-mata karena kehebatannya mengolah si bundar tapi karena gaya hidupnya. Karena ia mengambil kebebasannya secara bertanggungjawab. Karena ia pandai mengelola diri.

Saya jadi membayangkan apa jadinya Indonesia jika seluruh rakyatnya pandai mengelola diri. Dan saya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika para pemimpin bangsa yang bertugas mengelola bangsa ternyata tidak mampu mengelola diri. Seorang pemimpin yang tidak dapat mengelola diri, jangan harap ia dapat sukses mengelola kelompok atau bangsanya. Tidak mungkin. ‘Nilai’nya akan cepat jatuh.

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet