SylvieTanaga’s Weblog

Soft Power is Unique and …. Very Important!

BOOK REVIEW – Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan

Hiroshima Cover

Judul : Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal Buku : x + 163 halaman
Harga : Rp 40.000,-

Buku ini jelas menjadi bacaan wajib, terutama bagi mereka yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Karena karya John Hersey ini sungguh fenomenal. Reportase yang diterbitkan pertama kali pada tanggal 31 Agustus 1946 oleh The New Yorker ini terpilih sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika abad ke-20. Karya ini menjadi rujukan utama bagi mereka yang mendalami jurnalisme sastra, laporan kisah nyata yang ditulis dengan gaya fiksi.

Karya berjudul asli A Reporter at Large: Hiroshima ini, pada intinya berbicara mengenai detik-detik menjelang dan sesaat bom atom berjuluk B-21 dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. John Hersey tidak menggambarkan peristiwa ini dengan gaya berita umum. Dengan menggunakan sudut pandang dari 6 tokoh (ibu rumah tangga, juru tulis departemen personalia, dua dokter, pendeta, pastur), peristiwa Hiroshima membayang kuat di benak kita.

Karya ini terbagi atas empat bagian besar dengan alur maju. Sederhana namun sangat memikat. Bagian pertama berjudul Noiseless Flash (Kilat Tanpa Suara), menggambarkan aktivitas yang dilakukan keenam tokoh sesaat menjelang dijatuhkannya bom atom. Tidak ada seorangpun yang menyangka pagi itu, 6 Agustus 1945, sebuah bom akan dijatuhkan. Semua tokoh baru menyadari bahaya setelah munculnya sebuah kilat bisu yang amat menyilaukan.

Nona Toshiko Sasaki, sang juru tulis departemen personalia East Asia Tin Workers, sedang berbicara dengan gadis di sebelahnya. Dokter Masazaku Fuji baru saja duduk dengan nyaman di terasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang telah menjadi janda, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumahnya.

Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa spesimen darah yang akan dipakai untuk tes wasserman. Pendeta Kiyoshi Tanimoto, seorang pendeta Gereja Metodis Hiroshima, sedang mulai mengeluarkan pakaian dan barang-barang lainnya dari gerobak di depan sebuah rumah di pinggiran kota.

Keenam tokoh ini merupakan orang-orang yang selamat dalam peristiwa ini. Dalam bagian pertama, Hersey berhasil menggambarkan detail peristiwa sesaat menjelang B-29 diledakkan. Kisah keenam tokoh sesaat setelah bom ini meledak pun digambarkan dengan detail oleh Hersey dalam bagian kedua yang berjudul The Fire (Api).

Pendeta Tanimoto takjub melihat sekelompok tentara dengan kepala berlumuran darah yang tengah kebingungan. Ia juga sempat menolong seorang ibu menggendong anaknya yang berusia 3-4 tahun. Nyonya Nakamura berhasil menyelamatkan ketiga anaknya dan mengungsi bersama tetangganya ke Taman Asano. Dengan punggung berlumuran darah, Pastur Klinsorge mendapati beberapa rekannya terluka.

Dokter Fujii mengalami shock dan sempat terjepit di antara tiang-tiang pondasi rumahnya dan akhirnya berhasil membebaskan dirinya sendiri. Dokter Sasaki yang kehilangan kacamatanya, segera menolong korban yang mengalir deras datang kepadanya. Tubuh Nona Sasaki terjepit di antara tumpukan buku dan rak buku sebelum akhirnya ditarik keluar. Kaki kirinya patah. Pastur Klinsorge, pendeta Tanimoto, dan dokter Sasaki pun berupaya keras menolong korban.

Pada bagian ketiga yang berjudul Details Are Being Investigated (Perinciannya Sedang Diselidiki), memperlihatkan aktivitas keenam tokoh selanjutnya. Ada yang bergerak menolong korban, ada pula yang berusaha menenangkan diri dari shock. Kondisi memilukan tergambar dengan jelas: kulit melepuh, korban yang tenggelam karena tak lagi memiliki tenaga untuk bergerak, juga mayat yang bercampur dengan koran luka di rumah sakit.

Bagian terakhir berjudul Panic Grass and Feverfew (Panic Grass dan Tanaman Feverfew). Berisi reportase tentang aktivitas dan kondisi keenam tokoh dua minggu setelah bom dijatuhkan. Di sini, para tokoh mulai mengalami penyakit yang terjadi karena radiasi. Nyonya Nakamura mulai mengalami kebotakan sementara pendeta Hanimoto tiba-tiba jatuh sakit.

Hersey juga melengkapi naskahnya dengan berbagai data seperti sebab umum penyakit akibat bom, jumlah korban, dan suhu udara yang mencapai 6.000 derajat celcius di pusat bom. Di akhir kisah, Hersey menuliskan bahwa dari peristiwa ini, pengabdian yang besar dari rakyat Jepang terhadap kaisar dan negaranya amat besar. Rata-rata meninggal dalam diam dan bahkan menganggap kematiannya sebagai sebuah pengorbanan bagi kaisar dan negara.

Masterpiece John Hersey yang meninggal pada tahun 1993 ini pun menjadi bahan bacaan wajib bagi Anda. Dalam penggarapan karyanya, Hersey mengunjungi Jepang selama tiga minggu dan mewawancarai para tokoh yang dapat berbahasa Inggris (meski patah-patah). Hersey kemudian mengolah tulisannya dengan proses editing selama 10 hari.

Reportase lebih dari 30.000 kata ini awalnya hendak diterbitkan dalam 4 seri The New Yorker namun urung dilakukan. Pemenggalan dirasakan akan mengganggu introduksi sehingga The New Yorker menerbitkan edisi yang seluruhnya berisi tulisan Hersey. Masyarakat meresponi dengan luar biasa. Dalam waktu singkat, edisi ini habis terjual. Albert Einstein yang hendak memborong edisi Hiroshima ini pun hanya mampu gigit jari karena kehabisan.

Selain mampu menampilkan reportase dengan gaya fiktif (sehingga pembaca seolah sedang membaca novel), John Hersey tidak menggiring pembacanya untuk membela pihak tertentu. Hersey bahkan tidak menulis Hiroshima dengan emosi. Ia menulis dengan gaya yang ‘kering, kalem, dan tanpa emosi’. Gaya jurnalisme sastra yang memikat yang digunakan John Hersey juga dapat menginspirasi Anda ketika menulis hasil reportase. Selamat membaca!

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Book Review | | No Comments Yet

KAKA

Bicara tentang gaya hidup pemain bola, ingatan kita umumnya terarah pada gaya hidup selebritas: glamor dan elit. Biaya transfer dan upah seorang pesepak bola ternama (di klub ternama di bumi belahan Barat, tentunya) jumlahnya sama dengan APBD di beberapa wilayah di Indonesia. Ratusan miliar rupiah sekali transfer. Tidak heran jika kekayaan material bergelimang menghiasi kehidupan para pemain ini.

Tapi lain dengan Kaka. Sebuah artikel yang sangat menarik terantum dalam majalah TEMPO edisi 15-21 Juni 2009 (hlm 46-47). Dalam tag-linenya, TEMPO menulis soal Kaka: Manusia 948 Miliar: Gaya hidup Kaka jauh dari glamor. Itu juga yang membuatnya tetap menjadi pemain nomor satu dan berharga mahal. Kaka memang diganjar dengan angka sebesar itu atas oleh presiden Real Madrid yang baru, Florentino Perez. Angka sebesar ini tanpa ragu dibayar kontan oleh sang presiden.

TEMPO menulis bahwa Kaka memiliki gaya hidup yang berbeda dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya seperti Ronaldinho, Ronaldo, dan Adriano hidup dikelilingi dengan mobil mewah, clubbing, dan wanita, Kaka memilih untuk mengelola dirinya dengan lebih baik. Ia lebih tertarik menyumbangkan uangnya untuk kegiatan agama karena baginya, semua yang dia peroleh semata pemberian Tuhan.

Gaya hidup lainnya, bacaan favorit Kaka adalah Injil dan menggemari musik gospel. Kaka bahkan tidak pernah bermain dengan wanita dan bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Suatu hal yang relatif jarang ditemui di tengah glamoritas kehidupan para pesepak bola ternama. Tampilannya santun dan selalu mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Ini adalah sebuah gaya hidup yang saya pelajari. Dengan sebuah kerendahhatian, kesederhanaan, dan tidak cepat puas dengan apa telah diraih, nilai kita akan selalu langgeng. Para pesepak bola yang berfokus pada upaya lepas dari kemiskinan semata (mengejar kekayaan), meski ia adalah seorang pemain hebat, gaungnya akan cepat pudar. Ia akan melesat dengan cepat, namun juga akan merosot dengan cepat.

Seorang pemain hebat yang kesehariannya hanya leyeh-leyeh alias malas berlatih, nilainya akan ‘turun’ di mata para pendukungnya, minimal di mata pelatihnya. Sudah banyak pelatih yang menyatakan kekesalannya karena sang bintang tak datang tepat waktu untuk latihan karena semalam suntuk mereka clubbing. Padahal, kehebatan tidak berarti apa-apa tanpa latihan yang tekun disertai dengan kerendahatian.

Apa yang dilakukan Kaka tidak hanya mengingatkan para pemain bola agar pandai mengelola diri. Kaka memberi contoh nyata bagaimana seharusnya seseorang berkarya: motivasinya, ketekunannya berlatih, respon setelah memperoleh harta, respon setelah diangkat sebagai seorang superstar, dan masih banyak lagi. Sesaat terdengar sederhana, namun belum banyak ‘Kaka-Kaka’ lainnya.

Motivasi meraih kekayaan yang sebesar-besarnya demi kemakmuran diri sendiri dan keluarganya atau kelompoknya, masih santer mewarnai kehidupan Indonesia. Tak heran jika kasus korupsi muncul bak cendawan di musim hujan. Motivasi meriah ketenaran instan tanpa pengelolaan diri yang baik pun banyak menjatuhkan kehidupan sang bintang. Entah karirnya, entah keluarganya.

Setelah mengalami kesulitan, lebih banyak lagi yang menyalahkan nasibnya atau menyalahkan orang lain sebagai penyebab kemalangannya, tanpa pernah bercermin pada perbuatannya. Bahkan sering terdengar: “….ya udahlah, mungkin ini cobaan dari Tuhan”. Menyesatkan. Bisa jadi apa yang menimpa dirinya adalah karena kesalahan sendiri, bukan karena Yang Di Atas sedang iseng mencobai umatNya.

Kalau disingkat, inilah beberapa hal yang saya pelajari dari seorang Kaka:

Memiliki motivasi melakukan untuk Tuhan, bukan meraih kekayaan
Itu sebabnya Kaka tidak mengiyakan tawaran dari kelompok lain meskipun nilai euro-nya jauh lebih tinggi daripada yang ditawarkan Real Madrid.
Kesadaran bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia Tuhan
Itu sebabnya Kaka tidak menjadi sombong ketika meraih ketenaran dan kekayaan.
Memiliki pengelolaan diri yang baik, bertanggungjawab atas kehidupannya
Menghindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri (kelebihan pesta, merokok, seks bebas, bermain wanita). Sebaliknya, Kaka melakukan hal-hal yang dapat menunjang kemajuannya: tekun berlatih, menyayangi keluarga, dll.
Tidak ikut arus dan memiliki prinsip hidup yang kokoh
Ini masih terkait dengan upaya pengelolaan diri secara bertanggungjawab. Meskipun mayoritas teman-temannya lebih gemar clubbing dan bermain wanita, Kaka tidak pernah melakukannya. Kaka memegang prinsip-prinsip hidupnya dengan teguh, menarik garis batas yang amat jelas antara yang positif dan negatif.

Gaya hidup Kaka ini tentu menjadi dambaan bagi kita semua. Tapi ini semua adalah soal keputusan, jangan berhenti sebatas dambaan. Semua merupakan proses namun harus dimulai sejak detik ini. Saya pun masih belajar, masih berproses. Saya bisa membayangkan respon teman-teman Kaka ketika ia bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Juga dengan kebiasaannya membaca Injil dan mendengar gospel.

Saya jadi ingat kata-kata guru PPKn pada masa silam yang mengatakan: kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Kita bebas untuk memilih dan mengambil keputusan. Namun jika motivasi kita dalam menjalankan kebebasan salah: hanya digunakan untuk kepentingan diri dan berupaya meraih kekayaan semaksimal mungkin, ada baiknya kita melirik Kaka.

Jangan heran kalau hingga detik ini ‘nilai’ Kaka masih tetap sangat tinggi yang tentu tidak bisa diukur dengan nilai nominal 984 miliar. Bukan semata-mata karena kehebatannya mengolah si bundar tapi karena gaya hidupnya. Karena ia mengambil kebebasannya secara bertanggungjawab. Karena ia pandai mengelola diri.

Saya jadi membayangkan apa jadinya Indonesia jika seluruh rakyatnya pandai mengelola diri. Dan saya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika para pemimpin bangsa yang bertugas mengelola bangsa ternyata tidak mampu mengelola diri. Seorang pemimpin yang tidak dapat mengelola diri, jangan harap ia dapat sukses mengelola kelompok atau bangsanya. Tidak mungkin. ‘Nilai’nya akan cepat jatuh.

June 23, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Sampai Jumpa Lagi, Kawan-Kawan!

DSCI1595

”Syl, kumaha?”
”Sori banget mas, kaga ada yang nganterin neh, tukang ojeg gw lagi nggak bisa nganter.”
”Make taksi ajah atuh, kan bisa.”
”……….. Ya udah, oke deh mas!”

Sebuah keputusan yang kemudian sangat saya syukuri. Fendra, demikian nama teman yang membujuk saya ikut menonton Police Academy, berhasil membujuk membuat saya keluar dari kamar apartemen.
Tak terasa, sudah dua minggu kami – para jurnalis dari berbagai pelosok Indonesia, belajar bersama dalam pelatihan Jurnalistik Pantau XVII di Jakarta.

Ada Arizal dari Harian Singgalang, Fendra dan Firman Hadi dari Aceh, Agus dari Sumatera Ekspres, Arifuddin yang merupakan pensiunan BI, Endro dari Kaltim Post, Hendra dari IMPACT Aceh, Dawud dari radio Prosalina FM di Jember, Sari dan Wulan dari Bisnis Indonesia, dan Roy Thaniago yang aktif nge-blog di Jakarta.

Kami semua doyan bercanda. Endro merupakan mantan pemain Lenong. Hobinya adalah membuat guyonan yang membuat perut terkocok. Agus, dengan gaya kocaknya gemar memprovokasi kelas menjadi lebih ramai. Logat campur sari dari seluruh Indonesia pun kerapkali terdengar.

Kelas tambah ramai.
Ada orang muslim naik bus. Terus dia bilang ‘bismillah’. Di sampingnya, seorang Kristen kebingungan. Katanya: Ini bis kota, bukan bismillah.

Kali lain:
Seorang Madura naik taksi. Sesampainya, argo menunjukkan harga 100.000. Orang Madura tersebut hanya membayar 50.000. Si sopir taksi yang kebingungan bertanya pada orang Madura:
Sopir taksi: Bang, lihat nggak argonya berapa?
Orang Madura: Iya, saya liat.
Sopir taksi: Lho kok cuma segini??
Orang Madura: Lha, sampeyan kan ikut naik……
Mas Andreas, pelatih kami, sampai geleng-geleng.
“Ini kelas terkocak selama pelatihan,” ujarnya.

Selama dua minggu bersama, persahabatan terjalin makin erat. Ngobrol bareng, diskusi bareng, makan bareng, belajar bareng, bahkan karaoke bareng dan nonton film bareng (dua terakhir, saya tak ikut). Maka menjelang perpisahan, ada rasa berat yang luar biasa.

Adalah Mas Endro dari Kaltim Post yang mengusulkan nonton Police Academy bersama di Pantai Karnaval Ancol. Gratis, katanya. Ia baru saja meliput sang investor Police Academy yang ternyata temannya. Jika bayar sendiri Rp150.000.

Ingin ikut. Namun gabungan rasa capek, takut hujan dan malas mencari taksi mengalahkan niat ini. Telepon seluler pun saya raih:
Mas Endro, sori banget ya, gw ga bisa ikut soalnya tukang ojeg gw kaga bisa nganter… Salam buat kawan-kawan.
Mas Endro menjawab SMS saya: Ya udah gpp, sampai jumpa di lain waktu.

Tapi bujukan mas Fendra melalui telepon tak dapat saya hindari.
“Ditunggu ya di restoran Segarra!” ujarnya, masih mencoba berbahasa Sunda.
Uniknya, ia adalah orang Aceh.

Akhirnya saya bergegas mencari taksi menuju Ancol. Saya mengira mereka sedang makan bersama di restoran yang letaknya jauh. Ternyata mereka sedang menikmati santap siang sambil konferensi pers dengan pihak Police Academy Italia dan direktur utama Ancol. Secara umum kon-pers ini bicara tentang penyelenggaraan Police Academy yang akan berlangsung mulai 6 Juni-18 Agustus 2009. Tiga bulan.

Perut mulai keroncongan saat saya puluhan wartawan mulai meninggalkan restoran Segarra untuk menonton Police Academy Stuntman Show.
Makanan sudah habis. Saya pun mencicipi sisa-sisa melon, semangka, dan agar-agar. Lumayan …..

Agus masih sibuk mencatat hasil kon-pers dengan laptopnya.
Sari sibuk mengejar narsum untuk hariannya, Bisnis Indonesia edisi Jumat.
Mas Endro yang sudah menyelesaikan wawancaranya dengan sang investor beberapa hari sebelumnya, mengajak kami beranjak.
‘Kepala suku,’ demikian Sari menyebutnya.

* *

Cahaya matahari bersinar terik saat kami menempati bangku pertunjukkan. Kami, rombongan wartawan ‘bedol desa’, masuk melalui pintu samping bersama rombongan wartawan lainnya.
Gratis.

Tiga bersap bangku biru sudah terisi separuhnya saat kami duduk. Kapasitas kursi kurang lebih 2.600. Seorang polisi bule asal Italia sudah ‘beraksi’ dengan mencandai beberapa penonton.

Priiitttttttttttt
Si polisi meniup-niup peluitnya keras-keras.
Ia mengerjai antara lain: tiga orang anak-anak, dua pasang keluarga, seorang kameramen, dan beberapa orang lainnya. Ada yang dicegat dan disuruh mengikuti gerakannya. Ada yang disuruh melepas kacamatanya untuk kemudian diganti dengan kacamata raksaksa.

Cukup menghibur….
Narasi cerita yang dibawakan oleh seorang ‘polisi’ bule (yang ternyata merupakan jubir dalam kon-pers di restoran), menjadi awal pembuka police academy. Narasi ini kemudian diterjemahkan seorang penerjemah perempuan yang memakai pakaian polisi superseksi.

* *

Ruang pertunjukkan Police Academy Stuntman Show sekilas tidak terlalu menarik. Hanya beberapa backdrop sederhana dan rumah ‘beneran’ yang bertulis: ‘Police Academy’ dan ‘Police Garage’ serta sebuah gas station bohongan.

Yang menarik adalah properti yang menghiasi ‘panggung’ beruapa jalan beraspal. Ada sebuah meriam yang ternyata dapat mengeluarkan efek letupan bercahaya. Juga ada sebuah helikopter di atas bangunan ‘police academy’.

Cerita bermula dari kaburnya seorang narapidana kelas berat dari penjara yang berada di kawasan police academy. Tim polisi kelabakan karena narapidana ini sangat lihai. Ia bahkan berhasil membobol police academy dan mencuri uang. Polisi dan si pencuri pun terlibat kejar-kejaran.
Alur ceritanya memang amat sederhana.

Tapi adegan kejar-kejaran sungguh memikat.
Mendebarkan.
Mobil si pencuri dan geng-nya meraung-raung dan kemudian melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Ketika nyaris mencium tembok pembatas, mobil diputar 180 derajat dengan bunyi mengerikan hingga menimbulkan debu yang beterbangan.

Dalam adegan lain, sekelompok motor meraung-raung dengan kecepatan tinggi. Selain berhasil mengangkat roda depan, kelompok stuntman ini juga berhasil menerbangkan motornya setinggi lima meter dari permukaan tanah!

Tim polisi tak mau kalah bergaya.
Setelah mengebut dan memundurkan motornya dengan kecepatan tinggi, para polisi ini mulai mengangkat mobilnya hingga hanya bertumpu pada dua ban saja.

Kemiringannya sangat mengerikan: 45 derajat!
Para polisi ini bahkan berdiri di atas mobil yang sudah miring tersebut.
Para penonton menarik napas.
Suara wuowwwww…….. kembali bergema.
Para wartawan segera mengambil kameranya – klik sana klik sini.
Sari sibuk mencatat di notes-nya.

* *

Matahari mulai tenggelam di ufuk. Suasana sunset tak begitu jelas. Kami berjalan lambat-lambat menyusuri pantai Ancol. Semua terlibat dalam pembicaraan seru. Saya mengobrol dengan mas Fendra soal Aceh. Juga dengan mas Endro mengenai berbagai hal. Mulai dari curhat kehidupan wartawan hingga keluarga.

Sebuah kenangan manis yang sungguh tak terlupakan.

Air laut sudah pasang, merendam pasir terluar. Matahari sudah pulas di peraduannya ketika kami berjalan pulang. Ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Berat rasanya ketika akhirnya harus berpisah. Namun kami berjanji untuk tetap berkomunikasi. Melalui facebook, tentunya. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan!

* * *

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature | | 3 Comments

KONTRAS

Miris. Sedih, geram, gemas – apapun sebutannya. Ada begitu banyak kontras di negeri ini. Ada begitu banyak kontras yang sangat menyedihkan dan menyenangkan, dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Saya tak tahu. Apakah saya terlalu mengkotak-kotakkan segala sesuatunya secara hitam putih. Atau gelap terang. Apapun namanya, kontras di negeri ini sungguh…. tak terkatakan lagi.

Kontras siang-malam tentu sangat alamiah.
Pun kontras miskin-kaya, teraniaya-penganiaya, kebenaran-kesalahan, kehajatan-kebaikan. Semua begitu lazim, begitu lumrah.

Manohara dibela begitu menggebu oleh seorang pengancara kondang yang pasti dibayar mahal. Keluarga Siti Khoiyaroh, seorang anak 4 tahun yang tersiram kuah bakso saat penertiban PKL, tak mampu menuntut balik. Tak punya sumber daya.

Kasus Ambalat bergaung begitu heboh – pasukan ‘ganyang Malaysia’ rela berdiri tegak demi kedaulatan Indonesia. Tak seorangpun pasukan ‘pembela TKI’ membela Siti Hajar yang dihajar majikannya di Malaysia. Atau pasukan ‘pembela generasi muda Indonesia’ yang mengusut kematian David di Singapura.

Malnutrisi berat di Palu sebabkan dua balita meninggal. Salah satu negara di Eropa menyelenggarakan acara melempar kue pie yang sangat lezat. Pie yang sudah jatuh ke tanah tentu tak lagi dikonsumsi. Di rumah sendiri, nasi masih sering dibuang.

Manusia dan rasa kemanusiaan
Kebenaran dan kebaikan
Kontras?
Samaran sukses

Seluruh media berbondong mengarahkan lensa pada Prita. DPR kasak-kusuk panggil manajemen OMNI Internasional. Anak Agung Gede Bagus Prabangsa. Siapa dia? Votinglah, siapa yang lebih tenar?

‘UAN ulang? Ntar aja deh, harus diteliti dulu siapa yang bersalah.’ ‘UAN tetap dibutuhkan untuk peningkatan mutu pendidikan.’ Medi dan kawan-kawannya terkatung. Digantung. Tak punya asa untuk berteriak. Dua kelompok mahasiswa berantem dengan bom molotov. Baku hantam di bawah lembayung. Mutu?

‘Rakyat Jangan Berharap Banyak: Hanya 5 dari 50 Anggota Komisi I DPR yang Terpilih Kembali’. Lima minggu kemudian: ‘DPR (lama) tak bisa diharapkan; kualitas UU yang dihasilkan mengecewakan’. Harapkan siapa?

Tanpa bermaksud menyinggung si kaya, si penganiaya, si jahat, dan siapapun yang rasanya selalu saja menjadi subjek tudingan tangan.
Mungkinkah kontras?
Bukankah kontras menunjukkan dua hal bertolakbelakang?

Standar ganda? Paradoks?
Entahlah
Yang jelas adalah ketidakjelasan itu sendiri

Kontras yang menjadi samar, kontras yang menyamar
Memburamkan pandangan, membutakan kesadaran

Tak ada lagi K-O-N-T-R-A-S, mungkin.

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Life Styles | | No Comments Yet

Menilik Akar, Menilik Diri

Usianya tak lagi muda. Keriput telah bermunculan di dahi, tangan, dan dadanya. Dari lengan bajunya yang usang, benang jahitan nyaris terlepas. Meski demikian, sang nenek tetap perkasa. Ia berhasil mengangkat sebuah ember tua yang karatan, entah berisi apa. Raut wajahnya bahkan sama sekali tak menunjukkan kelelahan. Inilah salah satu lukisan yang ditampilkan dalam pameran bertajuk ‘Menilik Akar’ bertempat di Galeri Nasional Indonesia.

Kreasi lukisan berbahan akrilik dari Moha Abdullah ini tak sendiri berbicara mengenai ungkapan realita dan kritisisme akar budaya dan akar diri manusia.
Melangkah ke sudut lain di ruang ber-AC bertotal tiga ruang pamer ini, muncul sesosok kerangka tanpa tengkorak tengah membaca sebuah koran yang berlubang di bagian tengah. Sang tengkorak tengah duduk di tumpukan koran dan membaca dengan asyik-masyuk.

MIOPI karya YE Agung dengan bahan besi beton dan kertas koran. Demikianlah bunyi keterangan yang terpampang di bawah sang tengkorak. Beberapa potong lukisan yang disapu dengan tulisan hanacaraka Jawa pun menghiasi dinding ruang pamer yang masih putih bersih.

Sayangnya, nuansa hening sangat menghentak ruang pamer. Tak heran jika seorang pengunjung akhirnya menyalakan Mp3 di telepon selulernya untuk mengusir keheningan yang amat terasa. Saat beranjak ke gedung lainnya (pameran ini ternyata menggunakan dua gedung), udara panas pun berhembus. Kontras dengan suhu di ruang ber-AC yang baru saja ditinggalkan.

Akhirnya. Serombongan anak SMA berikut gurunya berbondong-bondong menandatangani buku tamu sebelum memasuki ruang pamer. Suasana hening pun serta merta pecah oleh canda gurau para siswa yang suaranya cukup melengking.

Memasuki gedung kedua, suhu tubuh pun kembali sejuk seirama dengan suhu AC. Dua orang siswa SD: satu perempuan dan satu lelaki, keluar dari sebuah cangkang telur. Kedua anak ini meniti sebuah tambang merah dengan waswas. Di bawah tambang terhampar jurang dengan aneka botol minuman keras berlabel ‘topi miring’. Juga ada kartu domino yang melayang di antara botol-botol minuman keras tersebut. Semburat langit hijau nan mencekam membayang di atas kepala kedua anak ini. ‘Generasiku Kini’. Demikianlah Ruslan menamai hasil karyanya ini.

Masih banyak seniman yang berteriak terhadap isu kehilangan akar yang terjadi pada generasi saat ini. Di tengah salah satu ruang pamer, misalnya, ada sebuah jeans super pendek dan (maaf) kutang merah yang membentuk lekuk tubuh seorang wanita. Di bahunya tergerai selempang yang bertuliskan: Miss Call Me. Di sudut lainnya, nampak sebuah kacamata tiga lensa dengan judul: “Whatever you do, look…. I’m Indonesia!” Di ruang terdepan, Agus Djatnika menampilkan para wanita berbahan sabut kelapa. Karya ini diperindah segaris cahaya terik di ruang pamer.

Perupa yang turut mengambil bagian dalam pameran kali ini tidak tergolong sebagai ‘pemain lama’. Sebut saja Arlan Kamil, YE Agung, Moha Abdullah, Agus Putu Suyadnya, dan Agus Djatnika. Pameran ini pun tak menampilkan sesuatu yang baru dalam seni rupa kontemporer. Namun, para perupa ini berhasil menggelitik kita. Para pengunjung seolah ditantang untuk menjawab pertanyaan: “Siapa Anda? Apakah Anda menghargai ‘akar’ Anda yang membuat Anda berhasil hingga saat ini?”

Hampir dua jam berlalu. Selain para siswa SMA, hanya ada sekelompok pengunjung yang dari gayanya kemungkinan besar adalah kelompok reporter, dan tiga-empat orang pengunjung tunggal. Sesaat setelah meninggalkan Galeri Nasional, modernitas Jakarta makin terasa kental: blackberry, gprs, hot-spot, bahasa, hip-hop style, dan masih banyak lagi istilah gadget lainnya.

* *

“Nothing!” ujar seorang balita Indonesia dengan aksen bahasa Inggrisnya yang sangat fasih ketika ibunya menjahili sang anak di lift sebuah apartemen di salah satu sudut ibukota. Si ibu hanya tersenyum. Dari percakapan selanjutnya, si anak ternyata masih dapat berbahasa Indonesia. Menilik akar ya menilik diri…….

* * *

June 10, 2009 Posted by sylvietanaga | Feature, Tourism | | No Comments Yet